Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Penyatuan


__ADS_3

Ceklek.


Valen keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, ia duduk di depan meja rias seraya mengeringkan rambutnya dengan hairdyer.


''Va...Len.''


Valen langsung melihat kearah belakang, rupanya suaminya yang datang.


''Kamu kenapa?'' tanya Valen seraya berdiri dari tempat duduknya.


''Kamu sudah berhenti?'' tanya Rifal dengan senyuman devil membuat Valen mengangkat alisnya sebelah dengan bingung.


''Maksud kamu berhenti apa?'' Rupanya Valen belum konek dengan apa yang Rifal maksud.


''Halangan.''


Valen langsung meneguk salivanya susah payah, ahk dia sampai lupa mengenai hal ini.


Rifal yang tidak mendapatkan jawaban dari Valen langsung mendekati Valen lalu menggendong Valen.


''Kamu mau apa?''


''Membaringkan tubuh yang sudah lama aku rindukan.''


Rifal langsung membaringkan tubuh Valen diatas tempat tidur dengan ganas.


Rifal melepaskan baju kaosnya, dan langsung menindih tubuh milik Valen.


''Kita mul—''


''Tutup pintunya dulu,'' decak Valen kepada suaminya itu.


Rifal terkekeh, lalu bergerak menutup pintu kamar.


''Tidak bisakah kita melakunya sebentar malam, aku baru selesai mandi,'' ujar Valen setelah melihat suaminya sudah berjalan kesini.


''Kalau bisa sekarang kenapa tidak, lagian juga Anna sedang tidur nyenyak,'' ucap Rifal melihat anaknya sedang tertidur lelap.


''Urusan mandi, nanti kita mandi bersama.'' Rifal kembali menindih tubuh Valen dengan tatapan lapar.


Rifal mulai melepaskan baju mandi yang di kenakan oleh Valen membuat Valen harus pasrah dengan tindakan suaminya.


Sekarang ini suaminya yang memegang kendali atas dirinya, tatapan lapar bisa Valen lihat dari mata suaminya saat Rifal sudah berhasil melepaskan baju mandi yang ia kenakan.


Valen memejamkan matanya saat Rifal mulai menguasi tubuhnya, Valen tidak bohong jika ia terbuai dengan sentuhan yang di berikan Rifal.


Ia juga merindukan sentuhan dari Rifal.


Rifal mulai memainkan kedua benda kenyal yang sangat ia sukai dan Anna.


Ukhhh


Valen mulai mengeluarkan suara eksotis, yang sangat Rifal sukai. Suara Valen sangat candu untuk telinga Rifal sehingga membuat pria itu semakin menggebu-gebu.


''Fal...''


''Panggil namaku sayang.'' Rifal memberhentikan kedua tanganya memainkan benda yang kenyal itu.


Dia mengusap rambut Valen. Lalu mencium keningnya begitu lama.


''Aku mencintaimu, Valensia.''

__ADS_1


''Aku juga, Asrifal.''


Valen berusaha menahan rasa sakit saat sesuatu mendobrak untuk masuk, dia mencengkeram sprei kamarnya karna benda dibawah memaksa untuk masuk.


''Sak—''


Rifal langsung mencium Valen, sehingga wanita itu tidak meneruskan perkataanya. Valen merasa tidak terlalu sakit saat Rifal mencium dirinya.


Perlahan-lahan benda tumpul itu masuk membuat Valen menikmati penyatuan antara ia dan suaminya.


Rifal melepaskan ciumannya dan menguasai permainan diatas tempat tidur.


''Sebut nama ku sayang,'' pintah Rifal menatap wajah cantik Valen yang sudah penuh keringat.


Padahal mereka bermain baru beberapa menit, namun Valen sudah berkeringat seperti ini.


''Rifal.'' Suara nikmat itu membuat Rifal semakin menggebu-gebu memperkuat gayanya.


''Rifal.''


Ahk, Rifal tidak sanggup mendengar suara manja dan nikmat keluar dari mulut Valen. Rifal mendongakkan kepalanya masih dengan penyatuan mereka.


''Len, aku merindukan ini semua dari mu!"


Rifal berhenti menghentakkan sesuatu di bawa, lebih dulu ia menatap wajah Valen yang sudah basah karna keringat.


"Fal.."


"Kenapa?" tanya Rifal seraya mengusap keringat Valen dengan lembut.


Rifal sangat tampan, bahkan Valen mabuk dengan wajah dan permainan yang di buat oleh Rifal.


"Kenapa berhenti?" tanyanya membuat Rifal terkekeh.


Semburat merah muncul di pipih Valen, dia sangat malu tapi ia menginginkan lagi, hal yang di lakukan oleh Rifal tadi


"Cepat atau lambat?" goda Rifal membuat Valen tidak mengerti.


Katakan jika otaknya masih melayang karna permainan Rifal barusan.


"Goyanganya." Rifal tertawa membuat Valen memukul dadah bidang milik suaminya itu.


"Jangan goda aku Fal."


"Ok-ok, kita lanjut."


Rifal kembali memulai permainan, suara-suara nikmat terus-terusan di keluarkan oleh bibir manis Valen, membuat Rifal semakin semangat.


Rifal ******* bibir Valen, membuat suara wanita itu menjadi kecil.


"Sayang, jangan terlalu ribut suaranya. Aku tau kamu menikmati permainan ini, tapi ingat nanti Anna bangun dan merusak semuanya."


Valen semakin malu, begitu ributkah suara indah yang ia keluarkan sehingga akan membuat anak kecil mereka terbangun.


Argh!!!


Rifal langsung tumbang di samping Valen, deruh nafas keduanya terdengar begitu keras.


Rifal membawa Valen kedalam pelukanya dengan keadaan mereka berdua tanpa sehelai benang pun.


Cupppp

__ADS_1


Rifal mencium kening Valen begitu lama dengan penuh cinta dan sayang kepada istirnya.


"Makasih," ucap Rifal dan dibalas anggukan kecil oleh Valen karna tenaganya terkuras oleh permainan yang hampir dua jam Rifal lakukan.


"Aku ke kamar mandi dulu, badanku samgat lengket." Valen mengangguk lalu kemudian Rifal mengambil celananya lalu memakainya.


Terlebih dahulu Rifal mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh polos Valen, lepas itu ia berjalan menuju kamar mandi.


"Fal," panggil Valen sehingga Rifal yang ingin membuka pintu kamar mandi terhenti.


"Kenapa sayang?" tanyanya melihat Valen tengah berbaring di selimuti dengan selimut tebal.


"Aku haus. Kamu bisa nggak kasi aku air minum dulu," pintah Valen membuat Rifal mengangguk.


Rifal berjalan keluar kamar untuk menuju lantai bawa mengambilkan Valen air minum. Setelah memgambil air minum untuk istirnya ia kembali diatas kamar.


"Duduk dulu," ucap Rifal membuat Valen bangun di bantu oleh Rifal.


Jujur saja, tubuhnya remuk karna permainan suaminya tadi.


"Kamu kebanyakan teriak. Jadi suara kamu serak." ejek Rifal.


"Apa sih, Fal?" Tentu saja Valen malu dengan apa yang barusan suaminya katakan.


Rifal sudah masuk kedalam kamar mandi untuk membasuhi tubuhnya karna lengket akibat keringat dari permainan mereka.


Sekitar sepuluh menit di kamar mandi, Rifal keluar dan melihat Valen sudah tertidur menyelimuti tubuhnya sampai di leher.


Cup...


Rifal mencium kening Valen dengan lembut, ia tahu jika istirnya itu tengah letih karna meladeni apa yang ia inginkan.


Suara Anna menangis kecil membuat Rifal langsung bergerak menuju tempat tidur, Anna. ''Anak papah yang cantik, jangan nangis dulu ya sayang. Mamah kamu lagi Bobo. Dia lagi capek habis main kuda-kudaan sama papah.'' Rifal mengajak mengobrol anak kecil di depanya.


Mungkin hanya kebetulan saja atau mengerti, Anna kembali menutup matanya dan tertidur.


Rifal bernafas legah, setidaknya anak kecilnya itu tidak menangis di saat Valen tengah istirahat.


Rifal melirik jam di dinding kamar yang tersedia, sekarang sudah pukul satu siang membuat rasa kantuk menyerang Rifal dan ingin ikut bergabung tidur dengan Valen.


Rifal akhirnya naik keatas tempat tidur dan memeluk Valen yang masih setia menggunakan selimut besar.


Valen peka dengan kedatangan Rifal, dia melirik suaminya yang masih setia memeluk dirinya.


''Fal,'' panggil Valen dengan suara serak.


Rifal membuka matanya, ''kenapa sayang?''


Valen mengusap rambut Rifal seraya tersenyum membuat Rifal memejamkan matanya membiarkan usapan lembut itu menenangkan dirinya.


''Kamu masuk, yah, '' pintah Valen membuat Rifal membuka matanya menatap istrinya dengan lekat.


''Maksud kamu masuk keda—''


''Masuk kedalam selimut yang aku pakei.''


''Aku takut khilaf kalau aku masuk ke selimut yang kamu pakai. Apa lagi kamu sedang telan—''


Valen langsung membekap mulut Rifal untuk tidak meneruskan perkataanya yang akan membuat dirinya malu karna ucapan vulgar Rifal.


Memang mereka hanya berdua, tapi tetap saja rasa malu itu ada menyelimuti Valen.

__ADS_1


''Nggak usah di perjelas.''


Rifal terkekeh, ia tau jika Valen malu jika hal barusan yang ingin ia katakan di perjelas.


__ADS_2