
Rifal menatap tajam Amora, sedangkan Amora hanya abai dengan tatapan Rifal. Dia berjalan kearah sofa lalu mendudukkan bokongnya dengan santainya.
Rifal mengambil handponenya lalu keluar dari kamar Adelia membuat Amora memangil nama Rifal, sedangkan Rifal tidak menghiraukan teriakan Amora.
"Dasar pria brengsek!"
Amora memijit pelipisnya lalu menatap kearah bansal milik Adelia.
Rifal berjalan dikoridor rumah sakit untuk segera pulang. Rasanya dia sangat letih hari ini!
Apa lagi saat melihat Nathan dan juga Valen yang sepertinya makin hari mereka semakin akrab.
Ting.....
Handpone milik Rifal bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Lebih dulu Rifal masuk kedalam mobil sebelum membuka pesan tersebut.
Rifal tersenyum simpul saat melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
"Kebetulan gue mau hajar muka lo, El!" desis Rifal saat membaca pesan yang dikirim oleh Elgara. Jika sahabatnya itu mengajaknya untuk ketemu.
Rifal langsung mengemudikan mobilnya untuk segera ke cafe menemui sahabatnya itu.
Sementara Lea dan Valen sedang singgah disalah satu warung dipinggir jalan. Sebenarnya Lea menolak keras ajakan Valen untuk makan dipinggir jalan. Lea sudah terbiasa makan dipinggir jalan, namun karna adanya Valen membuat Lea takut-takut. Takut jika Valen akan sakit perut jika dia makan- makanan pinggir jalan.
"Dokter Valen yakin mau makan disini?" Sedari tadi Lea melayangkan pertanyaan tersebut kepada Valen membuat Valen mengangguk mantap.
Memang kenapa jika Valen makan dipinggir jalan? Bahkan makanan pinggir jalan jauh lebih nikmat. Meskipun ini pertama kalinya Valen ingin makan dipinggir jalan, tapi dari cerita Lea makanan dipinggir jalan itu enak-enak.
"Emangnya kenapa sih kalau saya makan dipinggir jalan? 'Kan kamu sendiri yang bilang makanan pinggir jalan itu enak-enak," kata Valen mengingatkan kepada Lea jika gadis manis itu pernah mengucapakan kata-kata seperti itu.
Lea ikut duduk bersama dengan Valen yang tadinya hanya berdiri saja sembari memikirkan keputusan Valen.
"Tapi 'Kan, Dokter Valen belum pernah makan dipinggir jalan," kata Lea menjelaskan kepada Valen. "Lea takut kalau dokter Valen sakit perut. Terus om Rifal bakalan ngomel-ngomel sama Lea karna udah biarin dokter Valen makan dipinggir jalan."
Valen tentunya tertawa mendengar penuturan dari Lea. Dia mengatakan Rifal akan mengomelinya jika dirinya ini makan dipinggir jalan? Lea saja tidak tau jika Rifal masa bodoh dengan dirinya.
__ADS_1
"Nggak bakalan," jawab Valen santai membuat Lea mengerucutkan bibirnya. "Rifal nggak peduli dengan saya Lea, jadi kamu nggak perlu khawatir."
Kalau om Rifal nggak peduli sama dokter Valen, buat apa coba om Rifal nyuruh cari tau tentang dokter yang akhir-akhir ini aneh!
Mie ayam dipesan oleh Valen dua porsi telah datang dibawah oleh bapak-bapak sang penjual mie ayam.
Valen langsung mengambil sendok untuk segera menyantap mie ayam yang sangat menggugah seleranya.
"Ets!" belum sempat Valen menyentuh mie ayam dengan sendoknnya, tangan mungil milik Lea langsung mencegah hal tersebut. "Sendok sama garpunya Lea lap pake tisu dulu," lanjutnya mengambil sendok dan garpu milik Valen lalu mulai mengelapnya dengan tisu membuat Valen menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Makasih!" kata Valen sembari mengedipkan matanya kearah Lea dengan senyuman.
"Sama-sama," balas Lea sembari mengedipkan pula matanya yang tak ingin kalah dengan apa yang dilakukan oleh dokter Valen kepadanya.
Mereka berudua makan dengan khidmat dipinggir jalan, sehingga para pengendara bisa melihat dua sosok perempuan yang sangat cantik sedang makan dipinggir jalan.
Satu berprofesi sebagai dokter dan satunya berprofesi sebagai mahasiswa. Karna Valen mengenakan almamaternya sedangkan Valen mengenakan jas dokternya.
Terlihat dari wajah Valen yang sangat menyantap makanan dihadapannya.
Mobil hitam melewati Valen dan juga Lea yang sedang menyantap makanannya. Mobil hitam tersebut menurunkan kaca mobilnya guna memperjelas apakah dia tidak salah lihat.
Rifal menepikan mobilnya jaraknya yang tidak jauh dari tempat Lea dan Valen sedang makan. Rifat memperhatikan Valen makan dengan khidmat. Terlihat dari wajah perempuan itu yang sangat ceriah menyantap makanan tersebut, padahal hanya makanan pinggir jalan.
Tanpa sadar Rifal tersenyum tipis melihat Valen makan dengan lahap. Rifal tidak tau sejak kapan Valen suka makanan pinggir jalan.
"Firasat gue nggak salah. Akhir-akhir ini Valen aneh," gumam Rifal.
Dia melihat Lea beranjak dari kursi yang dia duduki untuk segera membayar mie ayam tersebut. Rifal menaikkan kaca mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya untuk bertemu dengan Elgara sahabatnya, sembari memberikan pelajaran kepada Elgara.
Rifal kembali melanjutkan perjalanannya, sebelum Valen dan Lea melihat keberadaannya. Apa lagi mobilnya sudah dikenali oleh kedua perempuan tersebut.
"Yuk!" ajak Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
Lea memberikan helm kepada Valen.
__ADS_1
"Enak nggak?" tanya Lea menyalakan motornya.
"Enak. Pake banget! Lain kali kita singgah makan disini lagi!" kata Valen begitu semangat dan dibalas anggukan kakuh oleh Lea.
"Awk!" Valen langsung memegang perutnya. Tiba-tiba saja perutnya sangat keram.
"Dokter Valen!" Tentu saja Lea panik melihat Valen memegang perutnya. Dia yakin jika perut Valen sakit karna makan-makanan pinggir jalan.
"Kita kerumah sakit!" kata Lea panik. Valen tidak bisa menolak karna perutnya sangat sakit. Lea memberhentikan taxi sehingga dia langsung masuk bersama dengan Valen.
"Rumah sakit pak! Buruan!" Intrupsi Lea. Dengan cepat supir taxi tersebut melajukan mobilnya.
Valen menyandarkan kepalanya dikursi. Dengan perutnya masih dia pegang karna sangat keram.
"Maafin Lea," kata Lea dan dibalas gelengan kepala oleh Valen.
Valen yakin jika gadis manis itu menyalakan dirinya sendiri karna membiarkannya makan dipinggir jalan.
Valen tau, sakit keram yang dirasakan olehnya bukan karna makanan tadi, melainkan karna sesuatu hal yang pasti mengenai kandungannya yang baru beberapa Minggu ini.
Lea langsung memeluk Valen. "Lea sayang sama dokter Valen. Lea udah nganggap dokter Valen sebagai kakak Lea," kata gadis itu membuat Valen tersenyum manis mendenger penuturan dari Lea.
Tidak butuh waktu lama mereka berdua telah sampai dirumah sakit. Para perawat dengan cekatan membawa Valen masuk kedalam rumah sakit.
Sementara Lea sedang duduk didepan sembari menunggu dokter yang menangani Valen saat ini. Dia tau dokter yang menangani Valen adalah dokter kandungan, bagaimanapun Lea sudah tau nama sebagain dokter disini karna pernah praktek disini.
Ceklek....
Pintu ruangan Valen dibuka, sehingga Lea melihat dokter tersebut.
"Gimana keadaan dokter Valen, dok?" tanya Lea khawatir.
Dokter tersebut tersenyum kearah Lea. "Dokter Valen baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat dan juga janinnya."
Lea langsung melototkan matanya saat dokter tersebut mengatakan kata janin. Apakah Valen hamil? Apakah keanehan hanya akhir-akhir ini menandakan jika dia sedang hamil.
__ADS_1
"Dokter Valen hamil?" tanya Lea masih terkejut.
Dokter yang menangani Valen mengangguk mantap kearah Lea.