
Valen langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur, jam dua siang dia sudah pulang diantar oleh Nathan. Karna Nathan menyuruhnya untuk istirahat, sekaligus besok dia tidak akan bekerja karna ingin beristirahat.
Valen dengan cepat bangun dari tempat tidurnya, karna tiba-tiba saja dia ingin memuntahkan isi perutnya.
Valen langsung masuk kedalam kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Terlihat wajah Valen kembali pucat. Dia terus-terusan memuntahkan isi perutnya.
Rifal tanpa sengaja lewat depan pintu kamar Valen, dan mendengar Valen sedang muntah. Otomatis langkah kaki pria itu terhenti depan pintu kamar Valen.
Dia langsung membuka handel pintu kamar Valen, karna dia khawatir karna sepertinya Valen nampak kesakitan dari dalam.
Valen membersihkan bibirnya, lalu dia menatap dirinya didepan cermin. Wajahnya nampak pucat bahkan dia merasakan dirinya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.
Valen menyandarkan kepalanya di dinding kamar mandi. Dia mengatur nafasnya karna memuntahkan seluruh isi perutnya.
Rifal masih setia berada didepan pintu kamar mandi. Dia ingin mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi namun gengsinya menghalangi dirinya untuk melakukan itu semua.
Rifal membalikan badannya, untuk pergi meninggalkan pintu kamar mandi.
BRAK
Langkah kaki Rifal terhenti saat mendengar dari dalam suara seseorang yang jatuh.
Tanpa aba-aba cowok itu langsung membuka pintu kamar mandi. Dia sudah melihat Valen jatuh pingsan dikamar mandi dengan wajahnya yang pucat pasih. Jauh dari kata baik-baik saja.
Dengan khawatir pria itu langsung menggendong Valen, keluar dari kamar mandi. Dia langsung membaringkan Valen dikamar.
"Bibi!" panggil Rifal kepada art dirumahnya.
Art itu langsung berlari cepat, karna suara yang tidak seperti biasanya sangat melengking.
"Valen pingsan," kata Rifal kepada art.
Art itu langsung mengahampiri Valen yang sedang berbaring di atas kamarnya dengan mata terpejam, serta wajahnya sangat pucat.
Art itu mengambil minyak kayu putih dan didekatkan dihidung milik Valen. Sementara Rifal masih setia berada didekat Valen menunggu Valen sadar.
Drt....Drt....Drt....
Deringan handpone milik Valen diatas meja membuat Rifal menatapnya. Nama yang terterah dilayar bertuliskan nama dokter Nathan.
Tangan Rifal bergerak mengambil handphone Valen dan....
BRAK
__ADS_1
Art langsung terlonjak kaget saat Rifal membanting handpone milik Valen. Sehingga handpone itu berserahkan, hancur sudah handpone milik Valen ditangan Rifal.
Art itu tidak tau, kenapa dengan Rifal. Saat pulang kerja wajahnya sangat menakutkan. Mungkin saja pria itu mempunyai masalah?
Rifal langsung pergi meninggalkan kamar Valen, setelah dia melempar handpone Valen.
Sementara Nathan langsung menyeritkan alisnya, karna tiba-tiba saja handpone milik Valen sudah tidak dapat dihubungi lagi.
Art itu langsung bernafas legah, saat dia melihat pergerakan tangan Valen. Valen membuka matanya secara perlahan-lahan. Hal yang pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamarnya lalu wajah art yang tersenyum kearahnya.
"Saya kenapa Bi?" tanya Valen dengan suara lemah karna dia baru saja pingsan.
"Non Valen tadi pingsan," kata Bibi membuat Valen mengingat kejadian dimana dia sudah tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya saking pusingnya.
"Yang angkat saya siapa?" tanyanya lagi.
"Tuan Rifal," jawab sang bibi kepada Valen.
"Terus, Rifal kemana?" tanyanya sembari celingak-celinguk mencari Rifal.
"Baru saja dia keluar," jawab sang bibi dan dialas anggukan kepala oleh Valen.
"Mohon maaf Non Valen, handponenya non banting sama tuan Rifal."
Valen langsung membulatkan matanya saat sang bibi mengatakan jika handponenya dibanting oleh Rifal. Dia melihat kearah lantai. Dan benar saja, handponenya sudah hancur lebur dibawah lantai kamarnya.
***
Saat ini Rifal berada diclub. Sudah berapa botol minuman keras yang dia minum. Bahkan dia mengabaikan larangan dari temannya.
"Brengsek!"
Nathan meneguk minuman yang berada dibotol. Dentuman musik DJ sangat menggemah didalam club ini.
Dia tersenyum getir, saat mengingat dimana Valen memeluk Nathan, bahkan Rifal bisa merasakan jika gadis itu nyaman dipeluk oleh Nathan.
"Gue nggak cemburu!" Rifal menggelengkan kepalanya.
"Mana mungkin gue jatuh cinta sama istri gue," lanjutnya dengan tawa kecil namun tawanya tersirat akan suatu hal yang sangat sulit dia jelaskan.
"Nathan kurang ajar. Beraninya lo peluk istri gue!" menolog Rifal. Katakan saja jika kesadarannya sudah tidak terkumpul lagi karna dia sudah mabuk berat malam ini.
Karna Valen dia ke club malam? Apakah masih pantas dikatakan jika dia tidak memiliki perasaan apapun kepada Valen?
__ADS_1
"Lo nggak bisa rebut Valen dari gue. Gue sama Valen udah punya ikatan, jadi lo nggak bakalan bisa milikin dia."
Untuk saja dentuman music malam ini sangat keras, sehingga tidak ada yang mendengarkan apa yang sedang Rifal katakan malam ini.
"Valen milik gue," ucapnya meneguk minumannya sembari mengamati orang-orang berjoget riah tanpa beban.
Sementara Valen masih mondar-mandir menunggu kedatangan Rifal. Sudah pukul 12 malam, namun cowok itu belum juga pulang. Valen tau, jika Rifal sedang ke club. Kemana lagi jika bukan ke club? Sampai jam 12 malam belum juga pulang.
Valen ingin menunggu kepulangan Rifal. Kenapa? Karna dia merasa tidak bisa tidur jika tidak melihat wajah Rifal untuk malam ini.
Valen sudah menelfon Rifal berulang kali dengan telfon rumah. Namun, cowok itu selalu menolaknya membuat Valen semakin jengkel kepada Rifal.
Valen mengusap air matanya, tiba-tiba saja dia menangis. Dia merindukan Rifal karna saat dia pulang dia belum pernah melihat Rifal.
"Fal, gue kangen sama lo."
Air mata Valen semakin deras. Katakan saja jika dia sedang rapuh perihal hati. Tiba-tiba dia mewek dengan mood yang naik turun. Apakah dia sakit? Valen rasa seperti itu.
Ceklek
Pintu rumah dibuka oleh Rifal. Valen berdiri dari sofa yang dia duduki dia sudah melihat Rifal berjalan dengan sempoyang karna pengaruh minuman keras yang terlalu banyak dia minum malam ini.
Valen dan Rifal saling bertatapan. Rifal menatap Valen sejenak lalu kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Valen.
"Fal!" panggil Valen membuat langkah kaki Rifal terhenti.
Meski dia sudah sempoyang, tapi dia masih mempunyai kesadaran, mencernah apa yang disampaikan padanya.
Valen langsung menghampiri Rifal, bau alkohol dari tubuh pria itu langsung masuk kedalam indra penciuman Valen.
Mereka berdua saling bertatapan, Rifal bisa melihat mata sembab milik Valen malam.
Tanpa aba-aba Valen langsung memeluk Rifal, meski baunya ingin membuatnya muntah namun dia tidak peduli, dia ingin memeluk Rifal malam ini.
Rifal langsung terdiam saat Valen memeluknya dengan tubuh bergetar serta Rifal bisa merasakan jika Valen sedang menangis dalam pelukannya saat ini.
Tiba-tiba saja Rifal mengingat kejadian tadi, dimana Valen juga memeluk Nathan sembari menangis. Antara ingin melepaskan pelukan namun Rifal juga tidak mau. Rifal tidak munafik, dia nyaman dipeluk seperti ini oleh Valen.
***
JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL TERBARU AUTHOR.
JUDUL: REXAVE
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK KALIAAN.
KALIAN tinggal klik profil aku, novelnya bakalan muncul