Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Perseteruan antara El dan Kay


__ADS_3

Valen sedari tadi terisak didalam kamar mandi, rasanya sangat sakit, seperti diterbangkan begitu tinggi lalu dijatuhkan sejauh-jauhnya.


"Gue benci diri gue sendiri. Gue benci diri gue yang mudah percaya omongan lo!" isak tangis Valen didalam kamar mandi. Sudah satu jam dia berendam didalam bathub, namun tak kunjung juga selesai.


"Gue benci diri gue, benci! Gue benci!" Lepas mengucapakan kata seperti itu, penglihatan Valen menggelap hingga dia menutup matanya dengan posisi matanya terpejam.


Gue benci diri gue sendiri, bahkan gue lebih benci diri gue ketimbang benci gue ke Rifal.


BRUK


Rifal langsung menggendong Valen keluar dari bathub, perempuan itu tidak menggunakan sehelai benangpun. Rifal langsung membaringkan Valen keatas ranjangnya lalu menyelimuti perempuan itu dengan selimut.


Dia menekan nomor dokter rumah sakit Medika, agar dokter segera datang kerumahnya mengecek keadaan Valen. Yah, Rifal tentunya khawatir!


***


Elgara turun dari mobilnya, dia membuka pintu utama dengan wajah yang sangat sulit untuk ditebak!


"KAYLA!" Suara milik Elga menggelegar didalam rumah mewah milik Frezan. Rara langsung keluar dari kamarnya karna mendenger suara teriakan Elgara yang begitu nyaring.


Untung saja kedua anaknya tidak bangun dengan suara yang diciptakan oleh Elgara. Ada apa dengan Elgara? Mengapa dia pulang begitu cepat, padahal dia baru beberapa jam dikantor dia sudah kembali.


Rara menuruni anak tangga untuk segera mengahampiri Elgara yang sedang melonggarkan dasinya.


"Bang Elga, kenapa? Kok teriak-teriak sih," kata Rara membuat Elgara melirik kearah kembaranya itu.


"Kayla mana?" tanya Elgara berdiri dari sofa yang dia duduki.


"Kayla lagi keluar," kata Rara. Apa yang dikatakan oleh Rara memang benar. Jika Kayla sedang keluar.


"Itu suara mobil Kayla," kata Rara lagi setelah mendengar suara mesin mobil Kayla yang memasuki pekarangan rumah.


"Kembali ke kamar lo, Ra," perintah Elga membuat Rara menyeritkan alisnya. Ada apa dengan kembaranya ini, sepertinya Elga sedang tidak baik-baik saja.


"Tap_"


"Dengerin apa yang gue bilang," Elga berkata dengan tegas, akhirnya Rara menurut dengan apa yang dikatakan oleh Elga. Meski sebenarnya dia juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Elga.


Padahal ini masih jam kerja, Elga sudah balik saja. Rara yakin jika saudaranya itu tidak melanjutkan pekerjaannya dikantor.


Padahal Rara ingin bertanya, ditempat mana ditempatkan Elga dikantor milik Frezan.

__ADS_1


"El," beo Kayla saat masuk kedalam melihat Elga. Padahal ini masih pagi, tapi Elga sudah pulang.


"El, kok kamu udah pulang? Ini kan masih jam kerja," tanya Kayla.


"Dari mana kamu?" Kayla langsung tersentak kaget dengan pertanyan yang sangat datar dikeluarkan oleh Elgara.


"El."


"Aku bilang kamu dari mana?" tuntut Elgara membuat Kayla lagi-lagi tersentak.


Memang beginilah sifat Elgara yang sebenarnya, tapi sikap ini sangatlah jarang dikeluarkan Elga, bahkan selama mereka menikah Elga tidak mengeluarkan aura seperti ini lagi.


Elgara mendekati Kayla dengan aura yang sangat mencekam, Kayla dapat merasakan itu semuanya dari Elga.


Langkah Kayla mundur satu langkah secara otomatis melihat raut wajah Elga yang sangat menakutkan baginya.


"Ngapain kamu ngurus rumah tangga, Rifal!?"


Deg


Kayla tidak menyangka, jika Elgara akan bertanya seperti ini dan sekasar ini kepadanya.


"Kenapa?" tantang balik Kayla sehingga mata mereka bertatapan. "Kenapa kalau aku urus?" lanjutnya dengan tegas.


"Rumah tangga mereka, bukan urusan kamu, Kay!" sentak Elga kepada Kayla.


"Jelas urusan aku, El. Valen sahabat aku, Valen bukan orang lain yang harus aku diami. Udah banyak masalah dalam hidup Valen semenjak dia nikah sama sahabat kamu itu!" balas Kayla kepada Elga.


Dia tidak berpikir lagi, jika seseorang dihadapanya adalah sosok suaminya yang harus dia hormati.


"Aku juga bersahabat dengan Rifal, Kay. Bukan cuman kamu dengan Valen, tapi aku nggak ngurusin rumah tangga mereka!" terang Elga membuat Kayla tersenyum tipis kearah Elga.


"Perasaan seorang wanita dan laki-laki memang nggak sama, El. Jadi, jangan pernah bandingin antara laki-laki dan perempuan, karna itu semua jelas berbeda." Kayla menekan setiap perkataannya.


"Tetap aja ini bukan urusan kamu, Kay!" kata Elga lagi memperingati Kayla.


Kayla melangkahkan kakinya selangkah lebih maju lagi, sehingga jaraknya dengan Elgara begitu dekat. Bahkan hembusan nafas mereka dapat dia rasakan satu sama lain.


"Jelas ini urusan aku, karna Valen sahabat aku!" kata Valen dengan pelan didepan wajah Elgara namun penuh dengan penekanan.


Kayla memundurkan langkahnya lalu pergi meninggalkan Elga yang menatapnya dengan tatapan murka. Kayla telah berani kepadanya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu, Kay!?"


Tentu saja Elga bertanya mau kemana lagi Kayla, karna perempuan itu berjalan kearah pintu.


Kayla tidak menjawab pertanyaan Elga, dia terus melangkah kakinya keluar dari rumah milik Elgara.


"KAYLA!"


Kayla mengabaikan teriakan Elga, Kayla lupa jika Elga adalah suaminya yang harus dia patuhi hanya karna perkataan Rifal.


"BERHENTI MELANGKAH ATAU DYTA DAN DYRA HAUS KARNA SEDARI TADI MENUNGGU KAMU!"


Langkah kaki Kayla langsung terhenti, saat membawa nama anak rasanya jadi tenang.


Elga tau jika Kayla belum memberikan ASI kepada kedua anaknya, karna saat dia masuk kedalam rumah, suara tangisan kedua anaknya menyambutnya.


"KAYLA!" teriak Elga lagi karna Kayla melanjutkan langkah kakinya kembali. Dia pikir perempuan itu berhenti karna mendegerkan apa yang dia katakan.


Kayla kembali menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah milik Frezan.


Beginilah jadinya, jika anak pertama bertemu dengan anak pertama. Kayla yang keras kepala disatukan dengan Elga yang keras kepala pula.


Sementara Rara yang menyaksikan dari lantai atas menitihkan air matanya, persahabatan mereka tidak berjalan secara halus semenjak mereka menikah. Terutama pernikahan Valen dan Rifal yang selalu diselimuti rasa sakit.


Drt....


Handpone Rara berdering menandakan adanya telfon masuk. Gadis itu semakin terisak saat melihat nama dilayar handponenya yang memanggil, dia tidak tau apa yang akan dia rasakan jika rumah tangganya juga seperti sahabatnya.


"Halo."


Dari seberang telfon, Frezan menyeritkan alisnya mendenger suara Rara yang bergetar.


"Kamu kenapa?" Tanya Frezan dari seberang telfon mendenger suara Rara yang bergetar hebat. Tak lupa isakan tangisnya yang kecil begitu jelas ditelinga Frezan.


Saat ini Frezan selesei meeting, dia merindukan Rara jadi dia menelfon istrinya itu.


"Ra, kamu kenapa?" Tanya Frezan lagi beranjak dari kursi kebesarannya. Dia khawatir mendenger suara isakan tangis Rara.


Rara langsung mematikan handponenya, dia langsung masuk kedalam kamarnya, mendenger suara Frezan membuat pikiranya berkelana kemana-mana mengenai rumah tangganya kedepan akan seperti apa, apakah juga akan ada tantangan.


Frezan langsung meninggalkan ruangannya, dia menelfon Daniel untuk menghandle pekerjanya karna dia ingin pulang, dia mengkhawatirkan keadaan Rara saat ini.

__ADS_1


__ADS_2