Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Mengenangnya


__ADS_3

Frezan sudah mengantar mertuanya menuju bandara. Hanya Frezan saja yang mengantar Alvina dan Kevin ke bandara.


Sementara Rara yang ingin ikut tidak di beri izin kepada Frezan. Frezan tidak mau jika nantinya Rara akan menangis di saat Alvina memasuki pesawat.


Karna tidak baik menangisi jika orang tersebut ingin pergi jauh. Dan berakhirlah Rara tinggal di rumah bersama anak-anak.


Kayla tidak sempat mengantar mertuanya karna tiba-tiba sakit kepala menyerangnya. Mungkin karna karna belakangan ini dia hampir setiap malam begadang.


Rara yang menjaga anak-anak di rumah, karna Siska pulang kampung. Sementara Kayla sudah istirahat di dalam kamarnya.


Rara saat ini berada di taman, dia tidak tau kapan bundanya akan kembali ke Jakarta. Elga sudah tidak ada di sini, kedua orang tuanya sudah kembali ke luar negeri.


Rara tersenyum, melihat kedua anknya dan keponakanya berkaitan, kecuali Dyta yang sedang tidur bersama dengan Kayla di kamar.


‘’Masih ada alasan untuk Rara bahagia. Kedua anak Rara, suami Rara, dan sahabat Rara, Kayla. Dan Valen…'' hampir saja tenggerokanya tercekat menyebut nama Valen.


Air matanya menetes begitu saja, dia kembali mengingat sahabanya yang hingga saat ini belum juga di temukan.


''Len, apa kamu masih hidup? Kalau kamu masih hidup, kamu baik-baik, ya, sama anak kamu. Jangan sembunyi terlalu lama,'' lirih Rara mengingat Valen, sudah satu bulan wanita itu hilang.


''Kasian kak Rifal, kalau dia udah bangun, kamu nggak ada di dekatanya, pasti dia bakalan nangis nyariin kamu, Len. Ayok, Len....kembali!''


''Kak Rifal butuh kamu, bukan cuman kak Rifal. Kita semua butuh senyuman kamu, support kamu. Canda tawa kamu.''


Seseorang menepuk pundak Rara, sehingga Rara langsung mengusap air matanya. ‘’Mikirin, Elga?'' tanya Frezan lalu ikut duduk bersama istrinya.


''Bukan, kok,'' jawab Rara.


''Kamu udah balik?'' tanya Rara polos.


‘’Pertanyaan kamu....Kayak nggak punya pertanyaan saja,'' ucap Frezan dengan menggelengkan kepalnya.


''Kamu mikirin apa?'' tanya Frezan menatap manik mata teduh milik istrinya itu.


''Rara mikirin keadaan Valen,'' hembus Rara.


''Sampai saat ini, belum ada yang tau kondisi valen,'' lanjut Rara dengan suara lirihnya.


''Aku maunya Valen baik-baik bersama anknya. kak Eza tau, kan, Valen sedang hamil anak Pratama mereka. Tapi pencipta kasi ujian berat ini,'' lanjut Rara.

__ADS_1


‘’Hidup dan matinya, Valen. Kita serahkan sama yang di atas. Kalau takdir Valen memang sampai di sini, kita harus ikhlas, meski prosesnya tidak mudah. Jika sebaliknya, kita bersyukur karna dia menghilang begitu saja dan masih di berikan kesempatan,'' bijak Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.


Rara menyandarkan kepalnya di pundak kokoh milik Frezan, ''Udah cukup aku sama Kayla kehilangan, Tasya,'' ucap Rara.


Frezan mengusap rambut Rara, Tasya adalah sahabat Rara, Kayla dan Valen saat SMA. Tasya meninggalkan mereka karna sakit.


Tasya adalah adik Frezan. ''Hingga saat ini, aku masih mikirin, Tasya,'' gumam Frezan dengan senyuman tipis. ‘’Bagaimanapun dia adik aku satu-satunya perempuan.''


''Tapi aku berusaha ikhlas, meski wajah Tasya saat SMA masih terngiang-ngiang di otak aku,'' lanjutnya seraya menatap anak-anak di depan bermain.


Maka dari itu, nama kedua anak mereka berasal dari nama yang sudah pergi meninggalkan mereka, nama tersebut berasa dari orang tersayang mereka.


Nama Tegar adalah nama anak Rara, nama itu merupakan nama almarhum adik Rifal yang meninggal saat masa perkuliahan yang hampir ingin usai.


Saat itu, status Rara dan Tegar masih pacaran, namun mereka di pisahkan oleh takdir yang mengharuskan mereka harus pisah.


Sehingga saat Frezan mendapatkan Rara, dan menikah dengan Rara. Anak pertama mereka laki-laki, dan Rara memberikan nama Tegar, terlebih dahulu dia meminta izin kepada Frezan atas nama yang ingin dia kasi untuk anak pertama mereka.


Frezan hanya mengikuti saja keingin Rara saat itu yang memberikan nama anak pertama, Tagar.


Hingga anak kedua mereka lahir, berjenis kelamin perempuan. Frezan yang memberikan nama abaka perempuan mereka, yang bernama Hasya.


Rara sudah memanggil anak-anak untuk masuk kedalam rumah, karna sudah sore. Rara memandikan ketiga anak itu.


***


Sudah lebih satu minggu Lea praktek dirumah sakit, sudah satu minggu ini pula Lea dekat dengan dokter Nathan, bahkan sangat dekat.


Lea mulai profesional untuk tidak melibatkan perasaanya untuk dokter Nathan lagi. Dia tidak berhenti mencintai dokter Nathan hingga saat ini.


Tapi perkataanya kali ini harus dia pegang teguh, jika dia ingin fokus kuliah dan berhenti memikirkan cinta.


Itu yang di tanamkan Lea saat ini pada dirinya sendiri.


Saat ini Lea sedang makan di kantin khusus tim medis, karna bagaimanapun dia sedang praktek di sini sebagai tim medis.


Gadis itu makan dengan lahap, hingga seseorang yang tiba-tiba duduk di hadapnya membuatnya lambat mengunyah makananya.


Dia mendongakkan kepalanya dan sudah melihat dokter Nathan duduk di hadapnya membawa air mineral yang tinggal setengah botol.

__ADS_1


‘’Diketemukan Nathan…''


Nathan mengangguk. ‘’Lanjut saja makanya,'' ucap Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


Gadis itu mulai memakan kembali makananya hingga mangkuknya sudah tandas. Gadis itu menyeruput es teh manisnya lalu mengucapkan alhamdulillah karna perutnya sudah terisi.


Dia beruntung selama praktek di rs , karna Novi memberikanya uang jajan 200 ribu. Sudah termasuk ongkos Lea pergi dan pulang.


Tentu saja itu sudah banyak menurut Lea.


Nathan melihat tangan mungil Rara terpasang cincin yang indah, Nathan bisa menebak cincin itu pemberian Nando saat di roftop.


Dan kelihatannya cincin yang di kenakan Lea terlihat mahal dimata Nathan, dengan permata berlian. Dan tentunya saja cincin itu memang mahal.


Nathan berdehem ''Hmm...'' Nathan berdehem di hadapan Lea


Sehingga Lea menatap ke arah Dokter Nathan.


‘’Kenapa?'' tanya Lea.


‘’Habis makan, ada yang ingin saya bicarakan,'' ucap Nathan serius.


Lea mulai tidak enak, karna belakangan ini sikap dokter Nathan kepadanya sudah ada kemajuan.


‘’Penting?'' tanya Lea dan dibalas anggukan oleh Nathan.


‘’Tentang praktek, Lea?''


Nathan menggelengkan kepalnya.


‘’Kalau untuk mau nyatain perasaan dokter Nathan ke, Lea. Lebih baik dokter Nathan ngurung niatnya dulu,'' ucap gadis itu to the point dengan cengengesan kearah Nathan.


‘’Karna Lea mau fokus kuliah, sampai lulus. Mulai kemarin-kemarin Lea udah janji diri Lea sendiri untuk tidak menjalin hubungan sama siapapun.''


‘’Termasuk saya?'' potong Nathan dengan cepat.


Lea mengangguk membuat rahang tegas Nathan jatuh.


Padahal niatnya ingin mengungkapkan perasaanya pada Lea, dan dia sudah sangat yakin seratus persen jika Lea akan menerimanya, namun ternyata pikiranya diluar nalar.

__ADS_1


Gadis itu menolaknya sebelum dia menembaknya.


__ADS_2