Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Buta?


__ADS_3

Deg


Pernyataan dari dokter dihadapnya membuat jantung Nando berdetak lebih kencang, bahkan dia merasakan atmosfer Disini telah lenyap.


Rifal selamat, tapi dia buta!


Buta!


Nando menggelengkan kepalanya, dia tidak tau harus berkata seperti apa. Dia bersyukur Rifal selamat, namun pria itu buta.


“Fal,” beo Nando mengusap wajahnya dengan


“Kacah beling akibat kecelakaan masuk kedalam mata pasien, sehingga menyebabkan pasien buta.” Pernyataan dokter tersebut membuat Nando bungkam. Sedetik kemudiandia angkat bicara.,


“Dok….Apakah tidak ada pendonor mata untuk Rifal? Seperti seseorang yang mendonorkan darahnya untuk Rifal.” Nando harap dokter tersebut mengatakan kata iya.


“Kami akan mencarinya,” kata dokter tersebut.


“Terimaksih, dok.”


“Sama-sama. Kalau begitu saya duluan,” pamitnya meninggalkan Nando.


Sementara Rifal sudah dipindahkan di tempat rawat inap, yaitu ruangan VVIP yang sudah di urus oleh Nando.


Kondisi Rifal belum sepenuhnya pulih, namun dokter mengatakan jika pasien akan baik-baik saja. Layar monitor menghiasi ruangan milik Rifal serta alat pembantu pernafasan.


Dokter bilang, operasi yang dilakukan untuk Rifal telah berhasil namun kondisi Rifal belum juga membaik.


Nando tersenyum getir dari kursi sofa melihat Rifal terbaring lemas tanpa daya. Pria yang selalu adu mulut dengannya kini terbaring lemas diantas bansal.


Ceklek


Ruangan milik Rifal dibuka oleh Lea sembari mendorong kursi roda yang diatasnya ada Valen. Valen lemah, bahkan saat berdiri kepalanya sangat pusing sehingga dokter Kiki memberikan kursi roda untuk Valen.


Kepala Valen pusing karna mungkin saja dia sedang hamil, di tambah lagi pikirannya terbagi kepada suaminya.


Lea langsung mendorong kursi roda Valen untuk segera menuju bansal milik Rifal.

__ADS_1


“Fal,” panggil Valen sembari menggenggam tangan Rifal sembari memeriksa tanganya suaminya. Air mata Valen terjatuh, sebagai seorang dokter dia tentu saja tau kondisi Rifal saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Valen mencium punggun tangan milik Rifal, “bangun sayang,” pinta Valen sembari mengusap rambut Rifal.


“Aku mohon,” lanjutnya disertai dengan isakan kecil. Melihat alat ditubuh Rifal membuat Valen merasakan sakit, melihat orang yang dia cintai sedang kesakitan.


“Om Rifal bangun, nggak ada yang kasi Lea duit entar kalau om Rifal nggak bangun,” canda Lea disertai dengan air matanya turun di pelupuk matanya.


Sementara Nando tersenyum miris mendengar pernyataan yang diberikan oleh Lea.


Valen terus saja mengajak mengobrol Rifal, meski dia tau kalau Rifal tidak akan merespon dirinya.


“Fal, kamu harus bangun cepat yah. Anak kamu nyaman saat kamu ngusap perut aku,” kata Valen disertai senyumannya kearah Rifal yang sedang terkulai lemah.


Valen mengusap air matanya kasar.” Kalau kamu nggak bangun, aku bakalan biarin dokter Nathan dekatin alu.” Valen tentu saja mengajak Rifal bercanda meski dia tidak mendapatkan respon dari Pria itu.


“Bangun, Fal. Aku merindukan suaramu,” tangis Valen pecah membuat Lea semakin kasihan kepada Valen.


“Lea,” panggil Nando kepada gadis itu, karna melihat jika Lea juga sedih melihat Rifal. Tentu saja kedekatan mereka sudah tidak perlu di ragukan.


Lea langsung berjalan mendekati Nando.” Om Rifal bakalan baik-baik aja kan kak?” Tanya Lea langsung memeluk Nando begitu erat.


Dia sudah seringkali berpelukan dengan wanita, namun kali ini. Pelukan dari Lea memberikan kehangatan yang tidak pernah dia rasakan pada wanita manapun saat berpelukan.


“Kak Nando,” Lea kembali memanggil nama Nando karna pria itu tidak merespon dirinya.


“Eh iya….Rifal bakalan baik-baik aja. Kita bantu doa aja,” kata Nando dengan terbata-bata membalas pelukan Lea.


“Kak Nando, Laparrrr!”


Lea langsung melepaskan pelukannya dari Nando.


“Buset dahhh!” Nando mendelik kaget mendengar jika gadis dalam pelukannya tadi mengeluh lapar.


“Dalam keadaan kayak gini, ternyata kamu masih ingat makan juga,” kata Nando sembari menggelengkan kepalanya, benar-benar gadis itu susah di tebak.


Nando mengeluarkan dompetnya dari saku celananya, karna dia tau Lea tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Lea tentunya lapar karna belum ada seberapa makanan yang dia makan di cafe tadi langsung di kejutkan dengan berita kecelakaan Rifal sehingga membuat mereka berdua meninggalkan makanan yang sudah Lea pesan banyak.

__ADS_1


Nando mengambil uang kertas berwarna merah membuat senyuman di wajah Lea terpancar, sedetik kemudian senyuman di wajahnya luntur karna Nando ternyata memberikannya uang 20 ribu bukan uang 100.


“Ini uangnya,” kata Nando memberikan uang tersebut pada Lea. Lea mengambil uang Dua puluh itu dengan tersenyum kecut.


Padahal dia sudah memikirkan saat Nando memberikanya uang merah, dia akan membeli makanan di kantin lalu dia bawa kesini.


“Nggak cukup,” keluh gadis itu sembari mengambil uang yang diberikan oleh Nando.


Nando hanya mengedikkan kedua bahunya lalu memasukkan kembali dompetnya kedalam saku celananya.


“Lama kelamaan kamu bakalan buat saya bangkrut. Kamu nggak tau makanan yang di cafe tadi saya yang bayarkan, itu bukan harga sedikit,” ketus Nando saat mengingat dimana dia membayar makanan Lea lima ratus ribu.


Yang membuat Nando sedikit kesal, karna makanan tersebut tidaklah habis sehingga dia langsung pergi, sangat rugi bukan? Meski sebenarnya dia yang salah.


Lea mengerucutkan bibirnya kearah Nando.” Tapi kan makanannya nggak habis,” keluhnya.


“Maka karna itu, makannya tidak habis tadi jadi kak Nando kasi uang cuman segitu, sebagai hukuman. Siapa suruh kamu makan lama banget, kayak artis aja.” Cibir Nando membuat Lea menghentakkan kakinya.


“Tap-“ perkataan Lea tercekat karna pintu dibuka oleh seseorang. Dia membalikkan badanya, rupanya yang datang adalah dokter Kiki yang membawa nampan berisi makanan.


“Maaf menggangu, saya datang membawa makanan untuk dokter Valen. Karna dari pagi dia belum makan,” kata Dokter dan dibalas anggukan kepala oleh Lea di sertai dengan senyuman.


“Tidak apa-apa, dokter cantik tidak menggangu sama sekali,” kata Nando sembari tersenyum jenaka kearah dokter Kiki yang menurutnya sangat cantik.


“Awkh!”


Lea langsung menyiku perut Nando. “Dokte Kiki jangan dengerin kata-kata Kak Nando. Dia Playboy cap buaya,” kata Lea membuat Nando cengo.


“Iya, saya tau kok kalau dia itu Playboy. Contohnya dia goda saya,” kata dokter Kiki dengan sedikit tawa anggun membuat Lea juga ikutan tertawa.


Dokter Kiki langsung menghampiri Valen di kursi Roda, sementara Lea langsung pergi meninggalkan Nando untuk segera ke kantin.


Lea harap, uang yang dia bawa cukup untuk mengisi perutnya yang lapar.


Lea berjalan di koridor rumah sakit untuk segera menuju kantin, saat di tengah jalan dia melihat dokter yang selama ini dia incar keluar dari ruangannya.


“Dokter Nathan!”

__ADS_1


Langkah kaki Nathan langsung terhenti mendengar suara sedang memanggil namanya.


__ADS_2