Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Pengen nikah


__ADS_3

''Daddy akan memberikan 20 persen untuk kamu.''


Kata-kata Aska terbayang-bayang dalam benak Nando. Setelah pulang dari rumah Rifal dan mengantar Lea, dia langsung pulang ke apartemen.


''20 persen lumayan buat kehidupan saya,'' Nando membayangkan 20 persen yang akan Aska berikan padanya.


''Tentunya kali ini akan berbeda,'' menolognya seraya berguling-guling diatas tempat tidurnya.


''Jika sampai Valen beneran sudah tidak ada, saya harus menerima kenyataan, jika Rifal sebagai bos saya akan berubah 99 persen,'' gumamnya seraya membayangkan wajah garang Rifal setiap saat di kantor.


Dan tentunya, dia akan semakin hati-hati bekerja pada Rifal kedepanya.


Kehidupan Rifal akan berubah 99 persen, jika Valen tak kunjung di temukan.


''Saya nggak rela, jika sikap Rifal akan berubah, karna kehilangan istri dan juga anaknya,'' hembus Nando.


Pria itu bangun dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju dapur untuk segera minum.


''Bagaiamana jika Valen sudah nggak ada?'' Khawatir Nando seraya menuang air kedalam gelasnya.


Dalam tiga kali tegukan, air minumnya tandas. Dia menggeser kursi meja makan seraya tersenyum masam karna perutanya bunyi.


Tengah malam begini dia sangat lapar, dia ingin keluar mencari makan namun dia juga malas bergerak untuk keluar.


Nando menopang dagunya seraya menghayal. ''Andai saya sudah punya istri, mungkin sekarang saya tidak akan merasakan hal ini,'' gumam Nando memikirkan nasibnya yang belum menikah.


Padahal, dia sudah menjadi pria dewasa namun dia tak kunjung menikah. ''Selagi dokter Nathan belum menikah, itu tandanya saya masih Aman,'' Nando tertawa kecil.


Dia pikir hanya dia saja di Jakarta ini pria dewasa belum menikah, ternyata masih ada Nathan yang umurnya beda tipis denganya belum juga menikah.


''Tapi sayang sekali, saya dan Nathan menyukai gadis ingusan yang sama,'' decak Nando.


Padahal, dia pernah mengatakan jika dia akan mudah mendapatkan Lea karna Nathan tidak menyukai Lea.


Namun saat Nando mencari Lea di area rumah sakit, dia malah mendengar ucapan Dokter Nathan.


''Susah, ya, anak jaman sekarang, sukanya sama berseragam.'' Nando menggelengkan kepalanya. ''Padahal, gaji tangan kanan di kantor terbesar jauh lebih besar.''


Nando tersenyum masam, perutnya terus-terusan berbunyi meminta untuk segera diisi. Namun tetap saja dia sedang mager untuk mencari makanan diluar.

__ADS_1


''Kalau kayak gini, jadi pengen nikah cepat,'' hembus Nando. ''Tapi sama siapa?''


Banyak wanita yang menyukainya, namun tidak adalah kriteria Nando sekalipun. Bagi Nando, wanita itu hanya penghiburnya saja di saat dia suntuk.


Nando beranjak dari kursi yang dia duduki, dia berjalan menuju tempat tidurnya.


Besok, Nando akan ke kantor dan menghandel segala pekerjaan Rifal. Ini yang kedua kalinya Nando menghandel pekerjaan kantor karna Rifal kembali mengalami kecelakaan.


Nando tidak habis pikir, mengapa ujian datang begitu saja kepada Rifal. Pria itu sudah di berikan ujian kecelakaan mobil sehingga membuat matanya buta, dan yang mendonorkan matanya saat itu adalah Adelia.


Dan sekarang, Rifal kembali di berikan ujian dengan cara kehilangan Valen, istrinya yang tengah mengandung.


Nando tidak bisa melupakan wajah bahagia Rifal saat mengetahui jika Valen hamil. Apa lagi pria itu semakin posesif kepada Valen semenjak Valen hamil.


Entah dosa apa yang di lakukan Rifal, sehingga Tuhan memberikan ujian seberat ini kepadanya.


Jika Valen benar-benar pergi dari dunia ini, Nando hanya bisa berharap Rifal berusaha mengikhlaskan kepergian Valen. Tapi, tentu saja Rifal yang mereka kenal akan beruban drastis.


***


Rina berjalan menghampiri Sukma yang sedang memasak bubur, wanita yang umurnya hampir 50 tahun itu sedang mengaduk bubur untuk sarapan pagi Rifal.


''Iya nyonya,'' jawab Sukma seraya menundukkan kepalnya kepada Rina yang menghampirinya.


''Apa bubur untuk Rifal sudah siap?'' tanya Rina.


''Tinggal mau saya dinginkan nyonya,'' jawab Sukma seraya memasukkan bubur ke dalam mangkuk.


Kejadian kemarin, membuat Sukma takut membawakan Rifal makanan. Sehingga Rina yang akan membawakan putranya makanan.


''Obatnya Rifal mana?'' tanya Rina lagi.


''Saya menyimpan obat tuan Rifal di lemari dekat pintu kamar tuan Rifal. Saya tidak menyimpan obat tuan Rifal di dalam kamarnya, takut jika tuan Rifal membuang obatnya,'' jelas Sukma dan dan dibalas anggukan setuju oleh Rina.


''Saya ke atas dulu, ya, kamu bawa bubur Rifal ke atas nanti. Simpan di meja dekat pintu,'' ucap Rina lalu pamit meninggalkan Sukma di dapur.


Sukma menganguk mengerti dengan ucapan Rina.


Setelah sepuluh menit mendinginkan bubur, Sukma berjalan ke atas tangga membawa nampan berisi makanan lalu dia letakkan di meja dekat pintu kamar Rifal.

__ADS_1


Didalam kamar, samar-samar Sukma mendengar suara Rifal sedang berteriak seraya menangis.


Sukma mengetuk pintu kamar Rina, dan memberitahukan jika bubur sudah dia simpan diatas meja.


Rina berjalan ke kamar Rifal, lalu dia mengambil nampan diatas meja.


Tok…Tok…Tok


Rina mengetuk pintu kamar Rifal, ''jangan ganggu Rifal, Mom!'' usir Rifal dari dalam.


Dia tau, jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah Rina, karna Rina saja yang berani mengganggu dirinya.


Rina menarik nafasnya dalam. ''Nak, kamu makan dulu, ya, kamu belum pernah makan dari kemarin, Fal!'' balas Rina agar Rifal mendengar jelas suaranya dari luar.


''Rifal nggak lapar, Mom!'' teriak Rifal.


Bahkan dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, jika yang mengajaknya bicara saat ini adalah orang tuanya sendiri.


''Mommy simpan makananya di dalam ya, Fal, nanti kamu makan.'' Rina terlebih dahulu meminta izin untuk masuk dengan suara lirih.


Tidak ada jawaban dari Rifal, membuat Rina membuka hendel pintu kamar Rifal. Karna kamar Rifal memang tidak di kunci.


Setiap melihat Rifal, hati Rina selalu teriris saat masuk kamar Rifal melihat kondisi anaknya yang sangat kacau.


Rambutnya yang berantakan, sprei kamar yang sudah lusuh dan kotor, serta wajahnya yang letih membuat Rina sangat kasihan dengan kondisi anaknya sekarang.


Rina berjalan kearah tempat Rifal, dengan posisi Rifal sedang duduk diatas tempat tidur menatap nanar ke depan. Selang infus melekat di tanganya yang sudah sedikit kurus.


''Nak…'' Panggil Rina dengan suara lirih.


''Jangan seperti ini.'' Air mata Rina tidak bisa dia tahan untuk tidak keluar.


Rifal tidak bergeming dari tempatnya, tapi matanya terus-terusan mengakurkan air mata.


''Kamu makan, ya, nak. Mommy simpan di sini makananya,'' lanjut Rina menyimpan bubur itu diatas nakas samping tempat tidur Rifal.


Berharap jika anaknya nanti akan makan dengan sendirinya. ‘’Kalau kamu udah makan, kamu minum obat ini, ya, kalau kamu kesusahan panggil Mom—''


‘’Keluar, Mom!'' usir Rifal dengan suara yang keras tanpa melihat kearah Rina.

__ADS_1


Rina semakin menitihkan air matanya, sebelumnya anaknya tidak sepeti ini.


__ADS_2