Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Mencari Valen


__ADS_3

Sudah dua jam lebih Rifal sadar, dia masih sendiri di dalam kamarnya. Sedari tadi pria itu memanggil nama Valen untuk datang di dekatnya dan memeluknya.


''VALEN!'' teriak Rifal dengan isakan pilu memanggil nama sang istri.


''Kemana kamu, Len!''


''Apa kamu tidak mendengar, Hah! Suami mu memanggil mu, seharusnya kamu datang, Len!'' jerit Rifal dengan mencengkeram kuat kasurnya.


''VALEN!!!'' teriak Rifal sehingga suaranya menggemah di seluruh ruangan kamarnya menyebut nama Valen, sang istri.


Rifal mengatur nafasnya, apa lagi pria itu baru sadar sehingga tenaganya belum sepenuhnya pulih.


Rifal memejamkan matanya, lalu tertidur karna sangat letih. Sudah dua jam dia menangisi Valen.


''Len, peluk aku,'' lirih Rifal lalu benar-benar tidur dengan air mata masih basah di pipihnya.


Rina yang sudah tidak mendengar suara isakan tangis dan teriakan Rifal bernafas sedikit legah.


Dia berjalan menuju kamar Rifal.


Ceklek.


Rina membuka kamar Rifal, dia tidak masuk ke dalam kamar dan hanya melihat Rifal dari pintu. Anaknya itu sedang tertidur.


Meskipun bibirnya masih mengeluarkan suara yang memanggil nama Valen, ''Fal, jangan seperti ini,'' lirih Rina yang melihat kesedihan putranya.


Dia kembali menutup pintu kamar Rifal, lalu berjalan untuk segera ke lantai bawah. Dia ingin mengingatkan asisten rumah untuk memberikan obat kepada Rifal setelah pria itu bangun.


Dokter Zul menyuruh mereka tadi untuk memberikan obat kepada Rifal, setelah pria itu bangun. Namun, karna pria itu mengamuk membuat mereka konsultasi kembali kepada dokter Zul.


''Berikan obat itu setelah dia beristiraha.''


Itu yang di ucapkan dokter Zul kepada Aska. Dan Aska menjelaskan hal itu kepada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini.


''Sukma,'' panggil Rina kepada Sukma yang sedang membersihkan dapur.


Sukma memberhentikan tanganya membersihkan dapur, lalu menghadap kearah Rina.


''Iya, nyonya,'' sahut Sukma seraya menundukkan kepalnya tanda hormatnya kepada wanita yang dia sebut dengan sebutan nyonya.


''Saat Rifal bangun, jangan lupa bawakan dia makanan dan obat, ya,'' kata Rina.


''Baik, nyonya.”

__ADS_1


Rina meninggalkan dapur, dia berjalan untuk menuju kamarnya. Di mana suaminya berada di kamar sedang menghubungi seseorang di kampung.


''Bagaimana urusan perkebunan?'' tanya Aska di seberang Telfon.


Sudah hampir setengah tahun dia meninggalkan kampung, disana dia berkebun sayur dan buah-buahan.


Dia memperkerjakan orang di kampung untuk menggelola kebunnya, meninjaunya setiap pagi dan sore. Serta memberikan pupuk kandang terhadap tanamanya.


Hampir setiap bulan kebun milik Aska panen, dan hasil panen mereka di bawa oleh warga untuk di jual di Jakarta menggunakan mobil pikap.


Rina sudah lebih dulu duduk diatas tempat tidur, sementara suaminya masih menelfon pekerjanya di kampung.


''Baguslah kalau panen tahun ini melimpah,'' syukur Aska seraya mencatat apa yang menjadi keluhan pekerjanya di kampung.


''Jangan lupa berikan gaji mereka sesuai apa yang mereka kerja. Ohya satu lagi, berikan mereka bonus karna panen tahun ini melimpah.''


Setelah percakapan mereka telah usai, Aska meletakkan kembali Ponselnya diatas meja seraya melirik Rina.


''Apa Rifal sudah istirahat?'' tanya Aska.


''Dia sedang tidur,'' jawab Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Aska.


''Apa yang kamu pikirkan?''


Aska bertanya seraya menghampiri Rina.


''Dia sedang emosi, wajar saja jika dia seperti itu,'' ucap Aska. ''Ini tentang istrinya dan juga anak yang di kandung Valen, cucu kita.''


Rina dan Aska berpelukan. ''Aku rindu suasana kampung dan kebun.'' Di sela-sela percakapanya Rina mengatakan rindu dengan suasana kampung dan kebun.


Aska memegang pundak sang istri. ''Untuk aaat ini, kita tidak bisa meninggalkan Jakarta. Di tambah kondisi Rifal yang tidak kondusif.''


Rina mengangguk setuju, dia hanya mengutarakan isi hatinya jika dia rindu suasana kampung dan kebun.


''Bagaimana hasil perkebunan tahun ini?'' tanya Rina karna dia tidak mendengar jelas apa yang di katakan suaminya tadi.


Dia sibuk memikirkan kondisi Rifal.


''Panen tahun ini melimpah,'' jawab Aska dan dibalas anggukan kepala oleh Rina.


Aska menyuruh Rina untuk tidur, karna wanita itu belum juga tidur.


Dengan berat hati, Rina mendengar apa kata Aska untuk tidur. Karna dia membutuhkan tenaga untuk hari esok dan nanti.

__ADS_1


Rina akhirnya tidur, meski memerlukan beberapa menit untuk memejamkan matanya.


Aska yang melihat Rina tidur, berjalan keluar kamar. Perutnya berbunyi meminta untuk segera di isi dengan makanan.


*


*


Sudah tiga jam lebih Rifal tertidur, pria itu belum juga bergeming dari tempat tidurnya. Sudah berulang kali Sukma masuk kedalam kamar Rifal, memastikan pria itu sudah bangun atau tidak.


Namun tetap saja, pria itu masih tertidur membuat Sukma kembali membawa nampan berisi makanan dan obat untuk Rifal.


Setengah jam telah berlalu saat Sukma ke kamar Rifal, dia kembali mengambil nampan berisi makanan dan obat untuk dia bawa ke atas.


Ceklek.


Sukma membuka pintu kamar Rifal, rupanya pria itu sudah bangun dan menyandarkan belakangnya di sandaran sprimbed mewah miliknya.


Rifal melirik tajam Sukma saat aisten yang bekerja di rumahnya itu membuka pintu kamarnya. Hanya beberapa detik saja Rifal menatap Sukma lalu kembali menatap ke depan.


Sukma tentu saja takut dengan tatapan mata Rifal yang sangat menusuk itu. Sukma melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Rifal membawa nampan.


''Tuan, makan dulu. Baru minum obat,'' ucap Sukma ingin mengambil mangkok tersebut untuk memberikan makanan pada Rifal.


PRAM....


Rifal langsung membuang makanan itu hingga terhambur dibawa lantai, hampir saja kaca beling itu mengenai kaki Sukma karna Rifal tiba-tiba membuang mangkok berisi makanan tersebut.


''Tu-an,'' gugup Sukma dengan takut melihat mata tajam Rifal menatap dirinya, dia seperti hewan yang siap untuk di santap oleh Rifal.


''SIAPA DIRIMU DENGAN LANCANG INGIN MENYUAPI DIRIKU, HAH!?” murka Rifal dengan wajah merah padam.


Serta jantungnya berdetak kencang karna emosinya yang meggebu-gebu.


Sukma tentu saja terlonjak kaget melihat Rifal murka kepadanya. Ini pertama kalinya dia melihat Rifal semarah ini, selama dia bekerja di sini.


''Ma-af, tua.'' Sukma menundukkan kepalanya sebagai permohonan maafnya karna telah lancang.


Dia hanya menjalankan tugas melakukan hal itu, karna Rifal belum sepenuhnya pulih, maka dari itu Rina menyuruh Sukma untuk membantu Rifal untuk makan.


Namun tindakan Sukma membuat Rifal semakin murka.


''Saya han—“

__ADS_1


''Keluar kau dari sini!!'' raung Rifal membuat Sukma mau tidak mau langsung pergi.


Dia tidak ingin jika Rifal akan semakin murkah padanya, dan berdampak buruk kepada dirinya.


__ADS_2