Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Interogasi Frezan


__ADS_3

Warung makan


Yah, Rara ingin merasakan makanan pinggir jalan, atau sering di sebut pedagang kaki lima. Mumpung tidak ada Frezan, Rara memanfaatkan momen ini.


Rara pernah makan di pinggir jalan saat SMA bersama almarhum Tegar, dari situ lidahnya merasakan rasa pedagang kaki lima yang sangat enak di lidah.


Bahkan menurut Rara, makanan pedagang kaki lima lebih enak di banding makanan yang ada di restoran. Apa lagi makanan pinggir jalan tidak menguras isi kantong, di tambah rasanya dijamin enak.


Rara terlebih dahulu turun dari mobil, sementara Kayla mencari tempat parkiran dulu, karna di sini bukan cafe atau restoran yang mempunyai parkiran.


''Ada-ada aja sih Rara mau makan di pinggir jalan,'' gumam Kayla turun dari mobil setelah memarkirkan mobil di bawah pohon agar tidak panas.


''Bang, pesan Mie ayamnya dua.'' Kayla sudah mendengar Rara memesan Mie ayam dua porsi.


Untung saja tempat ini sudah tidak terlalu ramai, karna sudah sore hari. Bahkan tidak lama lagi akan tutup.


Kayla dan Rara duduk di bangku kayu seraya menunggu pesanan mereka datang.


''Jadi ingat masa SMA kita, yang selalu pesan Mie ayam sama bakso,'' ujar Rara dan dibalas anggukan kepala oleh kayla.


''Hal yang paling gue ingat yah, Ra. Si Valen ngincer si Tegar mulu pakai puisi bucin yang dia copas di gogel,'' tawa Kayla membuat Rara juga ikutan tertawa.


''Sampai-sampai pak bambang geleng-geleng kepala kalau lihat Valen ngegombal Tegar,'' timpal Rara dan dibalas anggukan setuju oleh Kayla.


''Kamu bawa hp, Kay?'' Tanya Rara dan dibalas gelengan kepala oleh Kayla.


‘’Semenjak Elga di penjara, gue udah jarang bawa dan buka hp,'' curhat Kayla, karna apa yang dia katakan memang benar. Notif dari siapa yang akan dia tunggu jika Elgara di penjara?


‘’Emangnya kenapa?'' Tanya Kayla.


''Rara penasaran aja lihat, postingan Valen sama kak Rifal. Mungkin aja mereka lagi nikamtin suasa Bali,'' lesuh Rara memopang dagunya diatas meja.


''Padahal, dari waktu aku ngidam Hasya, aku udah pengen banget mau kesana. Tapi sampai sekarang belum kesampaian. Karna banyak banget masalah yang datang,'' keluhnya kepada sahabtnya itu.


‘’Kalau kondisi udah baik-baik. Pasti lo bakalan kesana liburan sama Frezan.'' Valen meyakinkan Rara.


Padahal waktu itu, Rara sudah membeli segala persiapan di Mall untuk dia bawa ke Bali liburan, terutama baju dan permainan untuk anak-anaknya. Tapi ujung-ujungnya semua batal.


''Jadi rindu Valen, deh,'' gumam Rara.


‘’Iya, gue juga tiba-tiba kangen sama tuh bumil.''

__ADS_1


Mereka mengobrol hingga pesanan mereka datang dibawa oleh mas penjual Mie ayam.


‘’Kay, kita bawain bang El Mie ayam yuk. Dari SMA bang El suka banget makan Mie ayam,'' ujar Rara menatap Mie ayam yang aromanya sangat enak.


‘’Tapi udah kesorean, Ra. Pasti jam besuk udah nggak ada.''


''Kita titip aja sama pak polisinya. Rencana besok aku sama kak Eza mau jenguk kak Elga. Tapi aku pengen banget hari ini bawain Abang El Mie ayam,'' ungkap Rara.


''Yaudah kita bawain Mie ayam, tapi kita cari rujak dulu yah habis ini.''


Rata mengangguk tanda setuju, lalu kemudian dia menyuruh mas itu membuatkanya Mie ayam dua porsi untuk kembarannya.


Dia merindukan El. Hanpir setiap malam Rara menangis diam-diam karna rindunya terhadap El. Itu semua tidak di ketahui Frezan.


Mereka sudah makan, lalu membayar Mie ayam tersebut yang berjumlah empat porsi.


Kayla dan Rara mencari pedagang pinggir jalan, yang menjual rujak buah namun mereka tidak menemukannya.


''Mungkin aja udah habis, Kay,'' ucap Rara. ''Kita cari aja besok.''


''Hmmm, Yaudah deh. Kita ke kantor polisi aja sekarang.''


Kayla melajukan mobilnya menuju kantor polisi untuk membawakan Elgara makan. Mereka hanya bisa menitip makananya untuk diberikan kepada El karna waktu jenguk sudah tidak ada lagi jam begini.


****


Frezan masih mondar mandir di depan pintu kamar, saat dia pulang dan membuka pintu kamar, Rara tidak ada.


Frezan bertanya kepada baby sister anak-anak dia hanya mengatakan, jika Rara keluar bersama dengan Kayla entah kemana.


Frezan sadar, dia berulang kali menelfon Rara padahal ponsel milik istrinya berada diatas nakas.


''Dasar bocil,'' gumam Frezan.


Dia menghubungi Kayla, namun tidak di angkat oleh Kayla. Karna ponselnya dia tinggal di dalam kamar.


Sudah magrib, Rara belum juga pulang membuat Frezan mengambil kunci mobilnya untuk mencari Rara.


Saat keluar dari kamar, dia sudah melihat Rara berjalan bersama dengan Kayla dengan tawa canda. Frezan memutar kembali badanya untuk masuk kedalam kamar.


‘’Mie ayam tadi, enak juga yah Kay,'' kata Rara.

__ADS_1


Saat ini, mereka berada didepan pintu kamar Kayla.


''Iya, Ra. Udah sepuluh kali lo ngomong kayak gitu,'' racau Kayla membuat Rara tertawa.


''Pasti Abang El suka,'' ujar Rara di sertai dengan senyuman.


''Semua makanan bakalan di suka sama El.''


Pembicaraan mereka sampai di situ saja, Rara melanjutkan langkah kakinya untuk menuju kamar. Dia belum mandi sore, dan dia akan mandi.


Ceklek


Pintu kamar dibuka oleh Rara, dia sudah melihat Frezan bersedekap dada menatapnya dengan tatapannya yang sangat sulit dia artikan.


Terlebih dahulu, Rara menutup pintu kamar lalu tersenyum manis kearah Frezan, meski jantungnya berdetak tidak karuan.


''Sayang,'' panggil Rara dengan suara pelan tak lupa pula senyuman manisnya agar Frezan tidak marah padanya.


‘’Udah pulang?'' Rara basah basih kepada Frezan membuat Frezan ingin menahan senyumannya melihat tingkah Rara saat ini.


‘’Belum. Yang kamu lihat sekarang ini bukan suami kamu,'' ketus Frezan membuat Rara terdiam sejenak lalu menatap Frezan dengan cenggegesan. Tak lupa pula, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Frezan berjalan mendekati Rara, Frezan mendekat begitu dekat. Sehingga deruh nafas Frezan bisa dirasakan Rara dengan jaraknya yang sangat dekat.


Bulu kuduknya meremang, ''dari mana?'' Pertanyaan untuk Rara dari Frezan. Rara seperti di bisik oleh setan karna bisikan Frezan menbuatnya menjadi takut.


'' kak Eza,'' cicit Rara menautkan kedua tanganya lalu dia permainkan saking geroginya.


''Jawab dulu, baru manggil,'' ujar Frezan dengan dingin membuat Rara kembali meneguk salivanya susah payah.


''Dari makan,'' jujur Rara.


''Dimana?'' Dengan jarak yang sangat dekat, mereka bicara.


''Disana.''


Frezan menyeritkan alisnya. ''Disana mana?'' Frezan menatap Rara. sehingga mata dingin Frezan bertemu dengan mata imut Rara.


‘’Kalau kasi jawaban ke suami itu yang jelas,'' gumam Frezan. ''Suami kamu bertanya, jadi jawabanya harus jelas,'' lanjutnya.


Rara mendongakkan kepalanya menampilkan puppy eyesnya kepada Frezan.

__ADS_1


''Maaf.''


__ADS_2