Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Unik


__ADS_3

Ceklek


Ruangan Daniel di buka oleh Lea.


Agrif, yang sedari tadi menunggu kedatangan Lea langsung beranjak heboh dari kursi sofa yang dia duduki.


‘’Kakak cantik!''


Agrif langsung memeluk Lea dengan begitu erat. Seakan-akan tidak ingin melepaskan Lea meski satu langkah.


Lea tersenyum kearah Agrif.


Kali ini senyumanya kepada Agrif terlihat sangat lelah. Agrif bisa merasakan senyuman gadis yang akhir-akhir ini berada di dekatnya.


''Kakak cantik kenapa baru kesini?'' tanya Agrif masih belum melepaskan pelukanya dari Lea.


''Apa kakak cantik udah nggak sayang sama, Agrif?'' tanya anak itu mendongakkan kepalanya kepada Lea.


Lea menggelengkan kepalanya dengan cepat. ‘’Kakak sibuk ngerjain tugas kuliah,'' bohong Lea kepada Agrif.


''Kenapa kakak nggak angkat Telfon, Agrif? Padahal, kakak cantik bisa belajar sambil angkat Telfon dari, Agrif,'' keluh Agrif membuat Lea kembali berpikir.


''Kalau kakak fokus belajar, kakak nggak akan main hp,'' ucap Lea lagi.


Mereka berdua berada di ambang pintu masuk ruangan Daniel, Agrif belum juga melapskan pelukanya dari Lea.


''Tap-''


''kita duduk dulu, yah,'' Lea memotong pembicaraan Agrif.


Agrif mengangguk, namun tidak ingin melepaskan Lea.


Agrif duduk di samping Lea, menggenggam tangan Lea begitu erat. Seakan-akan Lea akan pergi darinya.


‘’Kakak cantik bawa nasi goreng? Aku lapar, semenjak kakak cantik nggak angkat Telfon dari aku. Aku jadi malas makan,'' lesuh anak itu membuat Lea menepuk jidatnya.


Dia lupa membawakan Agrif nasi goreng.


''Besok aja, yah, kakak lupa,'' kata Lea dan dibalas gelengan kepala oleh Agrif.


‘’Kenapa?'' tanya Lea, karna Agrif menolak.


‘’Agrif nggak mau, kalau kakak cantik pergi lagi,'' pintah anak itu dengan rasa sedih.


‘’Kakak cantik jangan ninggalin aku di sini sama papah. Agrif butuh kakak cantik.''


Lea mengusap rambut Agrif, dia merasa sangat berdosa jika suatu saat dia meninggalkan Agrif.


Lea tidak bisa selamanya ada untuk Agrif. Lea kuliah, dia mempunyai keluarga yang di mana kehadirannya di keluarganya di butuhkan. Dia mempunyai kedua adik, yang harus dia berikan wejangan meskipun dia sedikit pecicilan.

__ADS_1


‘’Kakak cantik nggak punya pikiran, kan, buat ninggalin Agrif.''


Lea tidak mengangguk maupun menggelengkan kepalanya. Apakah dia harus berjanji kepada anak sekecil Agrif? Bagaiamana jika janji yang dia ucapkan tidak dia tepati? Apakah Agrif akan membencinya?


Sibuk dengan pikiranya, hingga suara Agrif kembali membawanya kealam sadar.


''Apa kakak cantik mau jadi mamah sambung untuk, Agrif? Setelah papah sadar, supaya kakak cantik nggak ada alasan untuk ninggalin aku lagi.''


Deg


Hati Lea terenyah, anak di depanya ini sangat menginginkan dirinya untuk setiap saat bersamanya.


Dia kasihan kepada Agrif, dia tidak bisa membayangkan jika kedua adiknya berada pada posisi Agrif.


‘’Kakak cantik.''


Lea tersenyum kearah Agrif, dia tidak tau harus menjawabnya seperti apa. Meskipun Agrif masih kecil, Lea yakin memori anak itu akan kuat. Dia akan mengingat janjinya sampai kapanpun jika dirinya tidak menempatinya.


‘’Agrif....Sepertinya kakak harus ke ruangan dokter dulu untuk menanyakan kondisi papah kamu, yah,'' bohong Lea kepada anak di hadapnya.


Agrif yang polos mengangguk kecil.


‘’Agrif ikut,'' ucap anak itu membuat Lea terdiam.


‘’Agrif nggak mau sampai kakak cantik nggak balik kagi,'' lanjutnya.


''Kakak akan kembali,'' janji Lea membuat Agrif menggeleng tanda tidak setuju.


Mereka berdua meninggalkan ruangan Daniel. Padahal Lea hanya berbohong ingin menemui dokter, namun karna kebohongannya sendiri dia menuju ruangan dokter Nathan.


Tok....Tok...Tok...


Lea mengetuk pintu ruangan Nathan. Sementara tangan satunya menggandeng tangan Agrif.


''Kita mau ketemu sama dokter siapa?'' tanya Agrif.


‘’Dokter Nathan.''


Agrif mengangguk.


‘’Eh Lea, cari dokter Nathan, yah?'' tanya dokter Zul memastikan.


Dia ingin berjalan menuju ruanganya setelah memeriksa pasien, namun dia tidak sengaja Lea dan Agrif di depan pintu ruangan Nathan.


''Iya, dok. Apa dokter Nathan ada di dalam?'' tanya Lea.


‘’Dokter Nathan sedang memeriksa pasien di lantai lima,'' jawab Zul membuat Lea mengangguk.


Dokter Zul tersenyum kearah Agrif, dan dibalas senyuman manis tentunya oleh anak kecil itu.

__ADS_1


''Udah makan?''


''Udah.'' Bukan Agrif yang menjawab, melainkan Lea.


Dokter Zul menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum kikuk. Dia bertanya pada Agrif namun di jawab oleh Lea.


''Oh, dokter Zul tanya sama Agrif, yah?'' Lea menjadi malu, namun gadis itu tetap ketawa.


Dokter Zul juga ketawa, melihat Lea menertawakan kebodohannya sendiri. Berada di lingkungan rumah sakit membuat Lea melupakan sedikit pikirannya yang khawatir mengenai dokter Valen yang belum ketemu, dan Rifal yang belum juga sadarkan diri.


''Kalau begitu saya duluan, yah,'' pamit dokter Zul kepada Lea dan juga Agrif.


''Iya dik,'' jawab Lea.


Dokter Zul melenggang pergi dari hadapan Lea dan juga Agrif.


''Kakak cantik mau ke lantai lima?'' tanya Agrif.


Lea nampak berpikir-pikir, ''nggak usah deh, nanti aja kalau dokter Nathan udah datang. Lebih baik kita ke kantin, kakak juga lapar,'' saran Lea seraya mengusap perutnya.


Padahal, gadis itu baru saja makan bersama dengan Nathan di cafe tadi. Bahkan, Lea lebih banyak makanya ketimbang dokter Nathan yang hanya memesan coffe dan juga kentang goreng.


Agrif dan Lea berjalan menuju kantin, masih dengan posisi bergandengan tangan.


‘’Kakak cantik mau tinggal, kan?'' tanya Agrif setelah mereka berdua duduk di meja dekat pintu kantin masuk.


''Nanti kakak lihat, yah, soalnya banyak banget tugas yang harus kakak selesaikan.'' Kali ini Lea tidak berbohong.


Dia harus belajar sebelum terjun ke rumah sakit untuk praktek. Dia tidak mau jika nilainya akan anjlok karna tidak ada persiapan sama sekali.


''Kakak cantik bisa kok belajar di sini,'' ucap anak itu menatap Lea dengan tatapan memohon agar Lea tetap di sini.


‘’Kamu makan dulu, yah.'' Lea menyodorkan nasi goreng di depan Agrif, karna makanan mereka sudah datang.


Lea menyeruput es teh dingin seraya bernafas legah.


Lea mulai memakan makananya dengan lahap. Di meja mereka hanya ada ikan goreng, ayam dan juga nasi.


Nathan yang tidak sengaja lewat depan kantin melihat Lea sedang makan dengan lahap.


''Astagah,'' gumam dokter Nathan melihat Lea makan.


Padahal, baru-baru saja mereka singgah makan di cafe. Dan Nathan kembali melihat Lea makan dengan lahap bersama anak kecil di hadapanya.


Nathan menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan Daniel.


Unik, tapi tetap saja Lea bukan tipe ku.


Lea menyeruput es teh manisnya. “Makan yang banyak, supaya cepat besar,'' ucap Lea kepada Agrif yang sedang makan lahap.

__ADS_1


‘’Andai nasi goreng ini buatan kakak cantik, mungkin Agrif makan banyak.''


__ADS_2