Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ciuman beneran


__ADS_3

Sepertinya Valen lambat setengah jam, karna dia mengganti bajunya tadi dirumah lalu kerumah sakit. Telfon milik Nathan sedari tadi tidak diangkat oleh Valen karna dia tidak mau jika Rifal akan curiga kepadanya, apa lagi mereka baru saja baikan.


"Siapa?" tanya Rifal karna sedari tadi handphone milik Valen berdering tidak diangkat oleh Valen.


"Nathan," jawab Valen sehingga Rifal meliriknya.


"Kenapa nggak diangkat? Siapa tau penting," kata Rifal lalu fokus kembali menyetir mobilnya.


"Dia udah nungguin aku, buat operasi malam ini," kata Valen membuat Rifal hanya mengangguk kecil.


Mobil milik Rifal telah sampai didepan gerbang rumah sakit, terlebih dahulu Rifal turun dari mobilnya untuk membukakan Valen pintu mobil.


"Makasih," kata Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


"Aku masuk dulu yah, udah telat," kata Valen membalikan badannya untuk segera masuk.


"Valen!" panggil Rifal sehingga langkah kaki Valen terhenti.


Rifal langsung menghampiri Valen. "Jangan sampai kelelahan. Kasihan kamu sama anak kita," kata Rifal lembut membuat Valen menyungkirkan senyum manisnya kepada Rifal.


"Jaga diri kamu sama calon anak kita," lanjut Rifal membuat Valen mengangguk.


"Aku bakalan jaga diri aku sama anak kita," kata Valen.


"Pulang jam berapa? Entar aku jemput," kata Rifal lagi, dia tidak mau jika Valen pulang bersama dengan Nathan.


"Kalau operasinya lancar, aku bakalan pulang jam 11. Aku bakalan hubungin kamu kok kalau aku udah pulang," kata Valen kepada Rifal.


"Yaudah," ucap Rifal.


Valen pamit untuk segera masuk sehingga Rifal masih setia menatap punggung Valen, setelah punggung Valen telah menghilang dia baru masuk kedalam mobilnya.


Dia belum menyalakan mobilnya, terlebih dahulu dia mengambil handphonenya guna untuk menelfon Nando.


"Ini anak kemana?" menolog Rifal karna panggilannya tidak diangkat oleh Nando.


Rifal menjalankan mobilnya sembari menelfon Nando karna pria itu tak kunjung mengangkat telfonnya.

__ADS_1


Rifal menyimpan handphonenya lalu fokus menyetir, Rifal berpikir jika Nando bisa menyelesaikan semuanya apa lagi dia bukan lagi anak kecil yang harus diberikan arahan kecil seperti itu.


Rifal yakin, Nando akan membereskan tempat itu karna besok pagi dia akan mengadakan rapat ditempat yang tadi.


Drt.


Handphone milik Rifal bergetar, dia pikir Nando yang menelfonya tenyata yang menelfonya adalah orang tua Lea.


Rifal tidak sembarang memberikan nomor handphonenya, jika dia memberikannya hanya untuk orang tertentu saja.


"Halo," sapa seseorang paruh baya diseberang telfon. "Maaf menganggu waktunya, apa Lea sudah pulang. Soalnya dia tadi pamit sama ibu untuk pergi bersama dengan Nando. Ibu juga tidak tau siapa itu Nando, tapi Lea bilang Nando sangat dekat dengan Rifal," kata wanita paruh baya diseberang telfon membuat Rifal terdiam.


Itu berarti, sekarang Nando sekarang bersama dengan Lea?


"Lea ada dirumah saya, sebentar lagi dia bakalan keseblah. Dia sedang bersama dengan istri saya," Rifal terpaksa berbohong.


Setelah berbincang-bincang dengan orang tua Lea, Rifal kembali menelfon Nando. Rifal tidak akan membiarkan Nando lolos begitu saja jika dia melakukan hal yang sama kepada mantanya.


Rifal tidak masalah jika Nando melakukan seperti itu kepada wanita lain, asal bukan kepada Lea. Dia sudah menganggap Lea seperti adiknya sendiri meski gadis itu selalu memanggilnya dengan kata om.


Nando membuka matanya dengan terpaksa karena suara handphonenya yamb yang sangat ribut, sementara Lea masih setia bersandar dipundaknya dengan dirinya sedang sandar di sandaran kasebo dengan posisi duduk.


"****!" umpat Rifal karna Nando mematikan handphonenya. Dia takut jika Nando melakukan hal yang tidak-tidak kepada tetangga polosnya itu.


Rifal laki-laki, jadi dia tau jika nafsu itu sangat susah untuk ditahan apalagi jika sudah berada didepan mata.


Untung saja Rifal pandai dia memang sebuah GPS pada mobil Nando, sehingga dia bisa melihat dimana posisi pria itu.


Setelah melihat melalui GPS, akhirnya Rifal langsung melajukan kembali mobilnya ditempat yang tadi. Tidak butuh waktu lama, Rifal telah sampai ditempat yang tadi.


Dekorasi belum juga terbongkar, masih seperti semula itu berarti Nando belum bergerak selama dia pergi.


"Nando!" panggil Rifal.


Dia berjalan ke kasebo siapa tau saja pria itu berada di sana.


Rifal langsung terkejut melihat Nando dan juga Lea yang sedang tertidur dengan posisi duduk. Lea yang menyandarkan kepalanya dipundak Nando sementara Nando menyandarkan belakangnya pada kasebo untuk menyeimbangkan tubuhnya.

__ADS_1


Huft


Rifal bernafas legah, setidaknya pemikirannya tidak terjadi melihat posisi Nando seperti ini. Dia sudah cukup lama mengenal Nando, jika pria itu sudah meniduri wanita dia akan merokok dan tidak ingin tidur sampai perempuan itu benar-benar pergi.


Rifal mengeluarkan handphonenya lalu memfoto Lea dan juga Nando. Dia menggelengkan kepalanya melihat air liur Lea turun seperti air terjun saja.


"Banyak banget nyamuk!" kata Nando membuat Rifal tersentak kaget.


"Bangun, sayang," bisik Rifal ditelinga Nando penuh dengan gairah berpura-pura menjadi wanita penggoda.


Nando membuka matanya secara perlahan, mendengar bisikan tersebut membuat jiwa kelakiamnya meronta-ronta.


"Setan!" Nando langsung berteriak melihat wajah Rifal yang sangat dekat dengan wajahnya membuatnya bergedik ngeri sendiri.


"Kepala Lea kenapa ditumbuk," racau gadis itu setelah kepalanya tersandar pada kasebo bukan lagi pada pundak Nando karna pria itu bergerak lincah saking terkejutnya melihat wajah Rifal yang sangat dekat dengannya.


"Muka lo setan!" sungut Rifal kepada Nando.


"Buset, lanjut tidur lagi nih bocah," kata Nando mengumpulkan nyawanya. Dia melihat Lea yang tidak terganggu sama sekali dengan suaranya.


"Lo nggak ngapa-ngapain, Lea kan?" tanya Rifal menyipitkan matanya kearah Nando.


"Nggak saya apa-apain tuh tetangga kesayangan kamu," kata Nando . "Cuman saya ***** doang," sambungnya.


"Apa lo bilang?" Rifal siap menghajar wajah tampan milik Nando.


"Ya ampun, nggak bakalan saya apa-apain nih bocah. Dia juga bocah bukan level saya," kata Nando membuat Rifal menatapnya tajam.


"Yaudah balik," kata Rifal.


"Nih bocah ditinggal disini?" tanya Nando membuat langkah kaki Rifal terhenti.


Rifal menatap tajam Nando dengan perkataannya yang tidak penting. Entahlah mengapa dia mengangkat pria seperti Nando menjadi tangan kanannya dikantor.


"Lo gendong dia," kata Rifal lalu melanjutkan langkahnya.


Nando tersenyum masam lalu menggendong tubuh mungil milik Lea. "Ini bocah kecil tapi beratnya nggak main-main. Kebanyakan dosa jadi berat kayak gini," omel Nando kepada Lea yang tengah tertidur dengan gadis itu mengalungkan tangannya ke leher milik Nando membuat bulu kuduk Nando meremang.

__ADS_1


Cup


"Dicipok beneran juga nggak apa-apa. Lagian cuman cium di jidat doang," kata Nando tanpa dosa kepada dirinya sendiri.


__ADS_2