Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Menunggu dokter Nathan


__ADS_3

Lea saat ini sedang menunggu Agrif keluar dari kamar mandi. Lepas dari sekolah tadi anak itu langsung masuk kedalam kamar mandi.


Lea pikir anak itu tengah buang air kecil, namun ternyata dia salah, karna anak itu sedang menangis didalam kamar mandi.


Suaranya nampak jelas, membuat Lea langsung mengetuk pintu kamar mandi.


“Agrif, kamu kenapa nangis?” Tanya Lea sembari menggedor pintu kamar mandi.


Ceklek


Pintu kamar mandi di buka oleh Agrif, wajahnya sudah memerah dan matanya begitu sembab akibat menagis terlalu lama.


Agrif langsung memeluk Lea, membuat Lea membalas pelukan anak itu. Lea mensejajarkan tingginya dengan Agrif.


“Kamu kenapa?” Tanya Lea dengan lembut seraya merapikan rambut Agrif yang berantakan.


“Agrif kangen sama papah!” Tangisnya langsung pecah membuat Lea mengusap punggun Agrif.


Sudah lebih tiga bulan lamanya Daniel belum juga sadar dari komanya. Begitu kerasnya pukulan dari Elga sampai-sampai membuat Daniel sudah tertidur selama berbulan-bulan.


“Kamu yang sabar yah,” nasehat Lea.


Ceklek


Pintu kamar tempat Daniel di buka oleh dokter.


Lea langsung melihat keasal pintu, rupanya yang datang adalah dokter Nathan bersama dengan dokter Zul yang diberikan amanah untuk menjaga Daniel.


“Dokter, Nathan,” kaget Lea melihat siapa yang datang. Rupanya yang datang adalah Nathan.


Selama tiga bulan ini, hanya dokter Zul saja yang menangani Daniel bersama perawat lainya, tidak ada dokter Nathan. Namun hari ini, dia melihat dokter Nathan.


Dia semakin tampan menurut Lea.


Dokter Zul melirik Nathan. “Apa kau mengenalnya?” Tanya Dokter Zul pada Nathan.


Nathan menganguk kecil. “Dia salah satu mahasiswa perawat yang pernah praktek di sini,” kata Nathan membuat dokter Zul mengangguk.


“Jadi, dia bukan asisten rumah tangga Daniel?” Tanya Zul.


“Bukan. Dia seorang mahasiswa.” Lepas itu Nathan langsung menghampiri bansal milik Daniel.


Zul mengikuti langkah kaki Dokter Nathan.


“Apa kau serius adik Kakak dengan Frezan?” Tanya dokter Zul.


Tadi, Nathan memberikan pernyataan jika yang memberikan amanah untuk menjaga Daniel adalah kakaknya.


Dokter Zul sempat tidak percaya. Jika Frezan mempunyai seorang adik bergelar dokter mengapa dia memberikan amanah untuknya.


Jawaban dari Nathan cukup mencolok, dia mengatakan jika kakaknya itu orang kaya dia tidak akan memberikan uangnya pada adiknya, karna masih banyak yang membutuhkannya.

__ADS_1


“Kalau kamu tidak percaya, Yasudah.”


“Iya-Iya. Saya percaya dokter Nathan.”


“Oh iya, dokter Kiki kemana?” Tanya Dokter Zul.


“Kau tanya sendiri pada Kiki, kamu kan punya nomor ponselnya,” ucap Nathan membuat Zul nampak kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Nathan.


“Gimana?” Tanya Zul setelah melihat Nathan telah usai memeriksa denyut nadi Daniel.


“Dia semakin melemah,” jawab Nathan membuat Zul menarik nafasnya panjang.


Dokter Zul menarik nafasnya panjang, dia sengaja menyuruh Nathan untuk memeriksa Daniel. Dia ingin memastikan jika pemeriksaannya itu benar atau salah. Baru kali ini dia melakukan hal ini karna takut salah memberikan penyampaian pada Frezan.


“Saya akan memberitahukan kabar ini pada Frezan.”


“Jangan dulu,” cegah Nathan. “Tunggu sampai satu minggu, jika kondisinya masih seperti baru kita hubungi Frezan,” lanjut Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Zul.


“Dokter, gimana keadaan papahnya Agrif,” Lea langsung menghampiri kedua Dokter tampan itu, dan yang memberikan pertanyaan adalah Agrif.


Dokter Zul tersenyum, di sisi lain dia ingin mengatakan kondisi Daniel yang sebenarnya namun dia mengurungkan niatnya karna Agrif masih kecil.


“Kondisi papah kamu baik-baik saja ganteng,” bohong dokter Zul.


“Kalau papah baik-baik aja, kapan papah bisa bangun dokter?” Tanyanya dengan serius.


“Kamu bantu doa aja yah,” timpal Nathan sehingga Lea langsung melirik Nathan.


“Agrif, kamu tunggu kakak di sini yah,” pinta Lea yang ingin mengejar dokter Nathan.


“Kakak cantik mau kemana?” Tanya Agrif.


“Kakak ada urusan bentar. Bentar aja,” ucap Lea.


Agrif mengangguk tanda setuju. “Beneran yah cuman bentar.”


Lea tersenyum. “Iya, sayang.”


Lea langsung keluar dari kamar untuk segera menyusul Dokter Nathan.


“Dokter Nathan!” Panggil Lea dengan ngos-ngosan.


Dokter Nathan langsung membalikkan tubunya. Rupanya yang memanggilnya adalah Lea.


Lea langsung menghampiri dokter Nathan.


“Dokter Nathan, gimana kondisi Daniel?” Tanya Lea. “Lea tau, kalau jawaban yang diberikan dokter Zul tadi tidak sesuai dengan kenyataan.”


“Kondisi Daniel memang semakin melemah. Kita tunggu sampai satu minggu, jika tidak ada perubahan kita akan mencabut selang oksigen pada tubunya.”


Deg

__ADS_1


Jantung Lea berdetak kencang, dengan apa yang dikatakan oleh Nathan.


“Saya duluan,” pamit Nathan melenggang pergi meninggalkan Lea.


Lea menarik nafasnya panjang. “Apa Lea bukan kriteria dokter Nathan?”


Langkah kaki Nathan terhenti mendengar apa yang dikatakan oleh Lea, karna dia belum terlalu jauh melangkah meninggalkan Lea.


Nathan berhenti melangkahkan kakinya, namun dia tidak membalikkan tubunya untuk melihat kebelakang.


Nathan menarik nafasnya panjang, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.


Lea mengejar dokter Nathan, sehingga dia bisa menyamai langkah kaki Nathan.


“Dokter Nathan,” panggil Lea.


Langkahnya dengan langkah Dokter Nathan sejajar. “Dokter Nathan ganteng, tapi sayang bukan milik Lea,” kata gadis itu dengan mengerucutkan bibirnya.


“Ngapain kamu ngikutin saya,” ketus Nathan kepada Lea.


“Minta jawaban,” balas Nathan.


“Lebih baik kamu kembali di ruangan Daniel, tidak ada yang menjaganya disana,” ucap Nathan lagi tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.


“Nggak mau, sampai dokter Nathan kasi Lea jawaban,” balasnya berusaha menyamai langkah kaki Nathan karna pria itu berjalan dengan cepat.


“Jawaban apa yang kamu tunggu, Lea?” Bingung Nathan karna dia tidak tau jawaban apa yang ditunggu oleh gadis 19 tahun di sampingnya ini.


“Apa Lea bukan kriteria dokter Nathan?” ucapnya dengan pelan sehingga Nathan menghentikan langkah kakinya.


Dia melirik Lea. Dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Lea.


“Masa iya dokter Nathan belum punya perasaan sama Lea,” ucap Lea lagi.


“Sampai kapan saya harus mengatakan jika ini bukan waktunya untuk saya berpacaran karna saya sudah dewasa, saya ingin langsung menikah bukan untuk berpacaran lagi,” terang Nathan.


“Lea nggak minta buat pacaran.”


“Terus?” Nathan mengeritkan alisnya.


“Lea mau jadi teman hidup dokter Nathan sampai mau memisahkan kita, dalam ikatan pernikahan.” Lea berkata dengan sungguh-sungguh membuat Nathan terdiam.


“Perjalanan kamu masih panjang, lebih baik kamu menatah masa depan kamu dari sekarang. Usinya mu juga masih muda,” terang Nathan.


“Tap-“


“Saya buru-buru Lea, saya tidak punya waktu untuk membahas hal kurang penting ini,” papar Nathan langsung pergi meninggalkan Lea.


Lea tidak mengikuti langkah kaki Nathan.


“Lea bakalan nunggu dokter Nathan. Meski itu satu tahun, dua tahun lamanya, atau bahkan sampai dokter Nathan menikah baru Lea berhenti mengejar cinta dokter Nathan!” Ucapnya dengan lantang.

__ADS_1


__ADS_2