
Kayla menaikkan alisnya sebelah melihat Rara membawa kantongan kresek, yang entahlah isinya di dalam apa.
Kayla tidak bisa melihat dengan jelas isinya di dalam apa. Mungkin karna masih ingin tidur sudah di bangunkan, membuat Kayla melihat didalam hanya keburaman saja.
''Lo bawa apa, Ra?'' tanya Kayla melihat Rara menyimpan kantongan kresek diatas meja tamu.
''Rujak.''
''Ha?''
Rara menatap Kayla. ‘’Dari kemarin, kan, kamu mau makan rujak. Pas kita pulang tadi, aku lihat penjual rujak di pinggir jalan. Jadi aku suruh kak Eza minggirin mobilnya buat singgah beli ini rujak,'' jawabnya membuat Kayla menatap Rara dengan tatapan bahagia.
Air matanya turun di pipihnya, meski Elga tidak ada di sini untuk memperhatikan keinginannya, setidaknya masih ada Rara memperhatikan apa yang dia inginkan.
Siska datang membawa mangkuk kaca besar, untuk menyatukan seluruh rujak yang dia beli tadi.
‘’Makasih,'' ujar Rara kepada Siska.
''Sama-sama nyonya.''
Kayla mengusap air matanya karna takut jika Rara melihatnya kembali menagis. Sementara Rara sibuk menyatukan rujak yang di dalam cap ke dalam mangkuk kacah.
Rara tersenyum tipis melihat Kayla mengusap air matanya dengan cepat.
Rara mengambil sendok lalu mengambil mangkuk kecil lalu dia masukkan rujak di dalamnya.
''Makan rujak, Kay.'' Rara memberikan semangkuk rujak kepada Kayla.
Kayla tersenyum kearah Rara seraya mengambil semangkuk rujak dari tangan Rara. Tadinya, Kayla mengantuk kini matanya menjadi seger kembali karna mendapatkan perhatian kecil dari Rara.
''Makasih, Ra.''
''Lo nggak makan rujak?'' tanya Kayla karna Rara tak kunjung mengambil rujak.
Dengan wajah kecut, Rara menggelengkan kepalanya tanda tidak ingin.
''Enak, loh.'' Kayla mempengaruhi Rara seraya ingin menyuapi Rara.
''Nggak, mau ahk, Kay!'' tolak Rara dengan gemas seraya menutup mulutnya karna tidak ingin memakan suapan rujak dari Kayla.
''Kalau nggak mau, kenapa beli rujak sebanyak ini?'' tanya Kayla seraya memasukkan rujak ke dalam mulutnya.
''Aku beliin untuk, kamu,'' protes Rara.
‘’Kenapa sebanyak ini?'' tanya Kayla lagi.
''Untuk besok lagi.''
Kayla sudah tidak membalas perkataan Rara lagi. Rara hanya memasang wajah kecut melihat Kayla makan rujak begitu lahap.
__ADS_1
''Udah yah, Kay. Nanti perut kamu sakit.'' Rara berdiri lau mengambil mangkuk besar yang berisi rujak.
Dia tidak mau, jika Kayla memasukkan kembali rujak ke dalam mangkuknya.
''Yah, Ra, kok di ambil sih. Gue belum puas makan nih rujak. Rujaknya enak banget,'' protes seraya mengunyah rujaknya.
''Perut kamu nanti sakit, Kay. Kalau Abang El tau Rara biarin kamu makan rujak sebanyak ini, aku juga bakalan kena omel Abang El,'' ucap Rara mengayuhkan langkah kakinya membawa rujak untuk dia masukkan kedalam kulkas.
Dengan mata nanar, Kayla hanya bisa menatap punggung Rara membawa rujak yang menurutnya sangat enak.
Kayla menghabiskan rujak di mangkuknya. Dia harus mendengarkan perkataan Rara. Jika kebanyakan makan rujak, maka perutnya akan sakit.
Dia tidak mau itu sampai terjadi, karna tidak ingin merepotkan Rara dengan embel-embel sakit perut, akibat kebanyakan makan rujak.
''Mah!''
Kayla hampir tersedak rujaknya, rasa rujak manis pedas mampu membuat Kayla ingin tersedak karna panggilan mamah dari arah belakang.
''Mamah makan apa?'' tanya anak kecil menghampiri Kayla.
''Dyra.''
''Kamu dari mana sayang, muka kamu cemong banget!'' Kayla langsung cekatan menggendong anaknya.
''Main comberan sama, Hasy, mah.''
***
Sebagai gadis yang menyukai dokter Nathan, tentu saja Lea tidak menolak ajakan Nathan, meski dia masih dalam keadaan menangis.
Nathan mengajak Lea, karna semata-mata ingin menghindari mata yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Karna mereka melihat Lea menangis, dan mereka pikir itu semua ulah dokter Nathan, padahal itu tidak benar.
''Mau kerumah mu atau ke rumah sakit?'' tanya Nathan dengan matanya fokus ke depan.
Lea nampak berpikir, lalu kemudian angkat bicara. ''Ke rumah sakit aja.''
''Mau ketemu, Agrif? Atau papahnya?''
Pernyataan dari Nathan membuat Lea terdiam. Nathan membelok mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
‘’Dokter Nathan kok tau?'' tanya Lea.
Nathan tidak menjawab pertanyaan Lea.
Beberapa menit terdiam, Nathan mengajukan pertanyaan kembali kepada Lea seputar Valen.
‘’Valen hilang di mana?'' tanya Nathan dengan menatap Lea sejenak lalu kemudian fokus mengemudikan mobil.
__ADS_1
''Pantai, Bali,'' jawab Lea.
''Kita singgah cafe dekat rumah sakit.'' Nathan tanpa menunggu jawaban dari Lea langsung singgah di depan cafe dekat rumah sakit.
Jujur saja, Nathan tidak tenang saat ini. Pikiranya di penuhi dengan nama Valen saat ini juga.
''Pake ini,'' ujar Nathan seraya memberikan kacamata hitam kepada Lea.
''Untuk apa?'' tanyanya dengan bingung.
Lea masih melihat kacamata yang di berikan Nathan belum juga dia m ambil.
''Mata kamu sedikit bengkak.''
Lea menggelengkan kepalanya, sekarang dia tau mengapa dokter Nathan memberikanya kacamata.
''Mata Lea nggak terlalu bengkak kok,'' ujar Lea melihat matanya melalui kaca mobil.
Matanya tidak terlalu bengkak, jadi dia tidak perlu menggunakan kacamata.
''Ok.''
Mereka berdua turun dari mobil lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam caffe.
Mereka berdua duduk di meja dekat meja kasir, seraya menunggu pesanan mereka, Nathan kembali mengajak Lea mengobrol mengenai Valen.
‘’Valen kenapa bisa hilang?'' tanya Nathan dengan suara berat.
Lea mulai menjelaskan mengapa Valen sampai hilang di pantai Bali. Setiap kali Lea bicara mampu membuat.
''Jadi, sampai sekarang Valen belum ketemu?'' tanya Nathan dan di balas anggukan kepala oleh Lea.
''Bagaiamana kondisi, Rifal?''
''Om Rifal belum sadar sampai sekarang.'' Lea juga sudah menjelaskan, jika Rifal sudah ketemu dalam keadaan lemah.
‘’Besok aku akan ke Bali,'' gumam Nathan yang di dengar samar oleh Lea.
Setelah berbincang-bincang, mereka berdua berdiri dari kursin. Lea memainkan tanganya membuat Nathan bingung dengan sikap gadis di hadapanya.
''Kamu kenapa?'' tanya Nathan dengan bingung. Perubahan sikap gadis di depannya cepat sekali.
Padahal baru saja dia menangis, sekarang gadis itu cengengesan kearah Nathan dengan memainkan jarinya, layaknya anak kecil.
‘’Lea nggak punya uang Dok, buat bayar makanan Lea,'' ucap Lea dengan suara pelan.
Tentu saja dia tidak enak, dia memesan makanan begitu banyak. Sampai-sampai Nathan berpikir jika dia tidak pernah makan selama satu bulan.
Nathan merasa geli, dia berusaha menahan tawanya.
__ADS_1
''Hm...saya tau kamu banyak makan, tapi saya bukan pria yang menyuruh perempuan untuk membayar,'' ucap Nathan meninggalkan Lea di meja tempat mereka menuju meja kasir untuk membayar makanan mereka.
Andai Eza ada, mungkin wajah dinginnya itu berubah. Lea ini ada-ada saja.