Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Menjenguk Rifal


__ADS_3

Rara sudah mendapatkan kabar dari Aska, jika Rifal sudah sadar.


Rara juga sudah mengirimkan Alvi pesan, jika Aska sudah siuman.


Malam ini, Rara mengajak Frezan untuk ke rumah Aska untuk menjenguk Rifal. Rara tidak tau, bagaiamana kondisi Rifal saat bangun dan tidak melihat istrinya berada di sampingnya.


Tapi, dari nada suara Aska tadi, Rara sudah menebak jika di rumah mewah Rifal terjadi kekacauan karna pria itu.


Rara sudah berangkat bersama Frezan untuk segera menuju rumah Aska. Kayla tidak ikut, karna tidak ada yang menjaga anak-anak. Para Art lainya sudah istirahat karna sudah malam hari.


Sehingga, Kayla memutuskan tidak pergi menjenguk Rifal malam ini, karna ingin menjaga anak-anak saja.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang di Kendarai Frezan sudah sampai di depan rumah Rifal. Gerbang terbuka lebar, sehingga mobil Frezan langsung masuk.


Frezan dan Rara keluar dari mobil, diruangan tamu sudah ada Aska dan Rina yang menunggu kedatangan Rara dan juga Frezan.


''Assalamualaikum!'' salam Frezan dan Rara.


''Walaukumsalam!'' jawab Rina dan Aska.


Rara dan Frezan terlebih dahulu menyalami tangan milik Aska dan Rina secara bergantian.


Lalu mereka berdua duduk diatas sofa, diatas meja sudah ada cake dan juga minuman untuk mereka berdua.


''Om, gimana kondisi kak Rifal?'' tanya Rara karna melihat kondisi Rina kurang fit, maka Rara lebih bertanya kepada Aska saja.


''Rifal sudah sadar, hanya saja dia tidak ingin di ganggu,'' terang Aska. ''Dia selalu menagis dan berteriak memanggil nama Valen.''


Rara dan Frezan mendengar dengan seksama apa yang di katakan oleh Aska.


Aska menceritakan mengenai kejadian tadi siang. Dimana Rifal mennghamburkan makanan yang di bawa Sukma hingga pecah dan berserahkan dibawah lantai.


Rara sedih mendengar cerita Aska, dia mengusap air matanya.


''Rifal terus-terusan menangis dan memanggil Valen,'' hembus Aska dengan berat.


''Om, apa Valen beneran udah nggak ada?'' tanya Rara dengan kedua matanya sudah mengalir air mata.


Frezan mengusap punggung Rara.


''Om juga kurang tau. Tap....'' Aska tidak meneruskan perkataannya lagi.


Orang-orang akan berpikiran sama dengan dirinya, apa yang dia pikirkan tentang menantunya itu.


''Tapi om udah Telfon teman om. Untuk mengerahkan semua anggotanya untuk kembali mencari Valen di pantai Bali,'' ucap Aska. 'Meski hasilnya tetap sama.''

__ADS_1


Rara mengusap air matanya.


''Om, Rara mau keatas lihat kondisi kak Rifal,'' pamit Rara.


Aska sempat ingin mencegahnya, dia tidak ingin jika Rara terluka dengan perkataan kasar keluar dari mulut Rifal.


Namun niatnya dia urungkan. Siapa tau saja Rifal tidak melupakan emosinya kepada Rara.


Rara naik keatas bersama dengan Frezan. Dia sudah sampai di depan pintu Rifal. Dia menarik nafasnya terlebih dahulu lalu membuka handel kamar Rifal.


Ceklek.


Tentu saja Rifal terusik dengan suara pintu terbuka. Dia melirik kearah Rara dan juga frezan lalu kembali menatap ke depan dengan datar.


''Kak Rifal,'' panggil Rara dengan suara pelan.


Dia melihat rambut rifal yang sangat berantakan, pecahan kaca sudah di bersihkan oleh Sukma saat Rifal beristirahat sore tadi.


Rifal tidak menyahut dengan panggilan Rara.


''Gimana ko—''


''KELUAR!'' usir Rifal menunjuk kearah pintu.


Frezan mengepalkan tanganya, selama menikah dia tidak pernah bersuara keras seperti ini kepada istrinya.


Namun melihat Rifal membentak istrinya, membuat darah beku Frezan menjadi mendidih.


Frezan menarik nafasnya panjang, lalu mengembuskan dengan pelan.


''Dia sedang sakit, Za. Jangan ikutan emosi,” Frezan hanya bisa membatin.


Air mata terkumpul di pelupuk mata Rara, semenjak mengenal Rifal sejak kecil, pria itu tidak pernah kasar padanya hingga membentaknya seperti tadi.


Karna Rara tau, Rifal sudah menganggap dirinya adik perempuannya sendiri. Namun sekarang, dia melihat sisi lain Rifal saat kehilangan Valen.


Rara paham, Rifal seperti ini karna merasakan sakit paling dalam karna Valen tak kunjung ketemu.


''Kita pulang.'' Frezan langsung menarik tangan Rara keluar.


''Kak Eza...'' Rara meminta untuk di lepaskan oleh Frezan.


''Aku belum tanyain kondisi kak Rifal,'' ucap Rara.


Langkah kaki Frezan terhenti di depan anak tangga. Dari atas, Aska melihat Rara dan Frezan seperti sedang marahan.

__ADS_1


Sementara Rina sudah kembali ke kamarnya.


Sudah Aska duga, jika anaknya itu tidak memandang bulu mengusir orang dan membentaknya.


''Kamu tidak lihat kondisi Rifal tadi? Dan kamu masih mau bertanya sama orang yang hatinya masih berserahkan?'' hembus Frezan kepada Rara.


''Aku nggak mau ya, Ra, kamu di bentak seperti tadi. Aku sebagai suami kamu tidak terima. Andaikan saja dia tidak sakit, sudah ku hajar mulut yang sudah berani membentak mu.''


''Kamu harus maklumi sifat Rifal, karna dia sedang sakit dan memikirkan Valen,'' balas Rara.


''Maka dari itu, Ra. Aku mengajak kamu untuk pergi, karna aku tidak mau melihat kamu di bentak sama Rifal,'' terang Frezan berusaha tidak menaikkan oktaf suaranya berbicara sama Rara.


''Aku nggak mau, ya, Ra, air mata kamu netes karna orang lain,'' peringat Frezan.


''Aku sebagai suami kamu saja, tidak pernah memarahimu seperti itu. Tentu saja aku tidak terima,'' ringis Frezan.


''Tap—''


''Kamu mau pulang, atau aku tinggalan kamu di sini?'' ancam Frezan dan dibalas gelengan kepala oleh Rara.


‘’Yaudah pulang,'' ajak Frezan sangat lembut, disertai senyuman. Meski hatinya sedikit berantakan karna mengingat bentakan kasar Rifal kepada istrinya.


''Kak Eza...kita nggak pamit dulu sama kak Rifal?'' tanya gadis itu membuat Frezan tersneyum kecut.


''Nggak sayang,'' Frezan mencubit hidung mancung milik Rara.


''Kita pulang,'' ajak Frezan menggandeng tangan Rara turun tangga.


''Om, Rara pamit, ya,'' ucap Rara bersalaman dengan Aska.


''Hati-hati, Ra.''


Rara menyenggol lengan Frezan, karna Frezan belum menyalami tangan Aska untuk berpamitan.


‘’Kenapa sayang?'' tanya Frezan tanpa beban.


''Salim tangan om Aska baru kita pulang, masa cuman Rara yang pamit. Emangnya kak Eza mau tinggal di sini?'' Rara nampak kesal kepada Frezan.


Sebenarnya Frezan masih kesal kepada Rifal, sehingga dia tidak mood untuk berkomunikasi dengan siapapun kecuali Rara.


Aska tentu paham watak Frezan.


Frezan mengambil tangan Aska untuk pamit , lalu menarik tangan Rara untuk segara pergi. Karna istrinya itu masih mau mengobrol dengan Aska. ''Om… salam sama kak Rifal, kalau Rara sama suami Rara udah balik!'' teriak Rara dengan menengok kearah belakang karna Frezan sudah menarik tanganya pergi dari sini.


Frezan membuka pintu mobil untuk Rara, lalu wanita dua anak itu masuk dengan wajah cemberut. Bagaimana tidak dia belum menyelesaikan perkataanya Frezan sudah menariknya.

__ADS_1


__ADS_2