
Mereka berdua tidur dengan lelap, seraya berpelukan dengan hangat. Valen mengembulkan kepalanya di dada bidang milik Rifal. Sehingga tidurnya semakin lelap.
Menjelang magrib, Rifal membuka matanya melihat kearah jam sudah pukul 17:30. Dia melirik Valen masih tertidur lelap didalam dekapanya.
Tangan Rifal bergerak mengusap perut milik Valen yang sudah sedikit membuncit. “Sehat-sehat yah anak Daddy,” gumam Rifal mengusap perut Valen dengan lembut.
Rifal mengambil ponselnya, dan mengirimi Nando pesan. Tangan kekar miliknya mengetik pesan lalu dikirim kepada tangan kananya. Setelah berhasil mengirim pesan, Rifal langsung menyimpan ponselnya lalu memeluk Valen.
Ting….
Nando baru saja selesai mandi melirik ponselnya, ponselnya berbunyi menandakan pesan dari seseorang masuk.
Nando mengusap rambutnya denganya handuk. Karna baru saja dia usai mandi.
“Malam minggu saya mau kemana yah?” Menolognya pada dirinya sendiri seraya memperhatikan wajahnya yang tampan didepan cermin.
Nando tersneyum simpul melihat wajahnya begitu tampan. “Wanita mana yang bisa menolak ketampanan Fernando?” Gumamya masih memperhatikan wajahnya.
“Kecuali Lea, yang bakalan nolak saya secara tidak jelas. Saya tampan, banyak uang, meskipun lebih banyak uang Rifal,” tawanya dengan kecil. “Namun gaji saya bisa nafkahin tuh anak satu,” lanjutnya seraya menyimpan handuknya.
Nando mengenakan baju kaos berwarna putih. Serta celana sampai lutut, dia mengambil minyak rambut dan juga parfum.
“Wangi dan tampan,” gumamya menyimpan parfumnya kembali keatas meja.
Dia berjalan menuju meja tempat kerjanya, dia mengambil ponselnya dan melihat pesan beruntun dari Rifal.
Bawaain gue makanan, di kantor ruangan gue. Valen belum makan malam. Sekarang juga.
Nando mulai membaca pesan pertama dari Rifal lalu kemudian membaca pesan kedua.
Sok seleb lo, Nan. Gue bos lo nyuruh lo buat bawaain gue makan!
Nando dengan santai membaca pesan dari Rifal. “Udah bukan kerja, tetap aja disuruh.”
Dalam waktu sepuluh menit lo nggak datang bawa makanan, gaji lo bulan ini bakalan gue potong!”
Pesan ketiga Rifal mengancam Nando membuat pria itu dengan sigap mengambil kunci mobilnya. Dia bergegas dengan cepat. Dia tau, jika Rifal tidak akan main-main dengan perktaanya.
Nando langsung melajukan mobilnya, seraya menelfon salah satu chef di restoran untuk menyiapkan makanan dengan cepat untuk dia bawa ke kantor.
Untung saja jarak apartemen ke kantor dan juga restoran tidak terlalu jauh, sehingga waktu 10 menit lebih dari cukup.
__ADS_1
Pelayan yang melihat mobil Nando langsung menghampiri pria itu. Lalu memasukkan makanan kedalam mobil.
Nando langsung melajukan dengan begitu cepat ke kantor. Mobil miliknya telah sampai depan kantor. Dia keluar dengan cepat lalu membawa kresek berisi makanan yang di inginkan Rifal.
Huft
Nando mengatur nafasnya saking buru-burunya pria itu. Saat ini, Nando sudah berada didepan pintu ruangan Rifal.
Setelah memasukkan kode pintu ruangan Rifal. Pintu langsung terbuka. Sehingga Nando bisa melihat Rifal tengah duduk di kursinya seraya menatapnya dengan intens.
“Lo lambat 30 detik,” desis Rifal mengambil kresek berisi makanan di tangan Nando.
“Cuman 30 detik doang,” balas Nando.
“Tetap saja, gaji lo bakalan gue potong!” tegas Rifal lalu beranjak dari kursinya untuk segera masuk kedalam kamar.
“Ini bukan jam kerja!” kesal Nando.
“Bukan cuman jam kerja lo kerja,” santai Rifal lalu masuk kedalam kamar menguncinya. Meninggalkan Nando diluar ruanganya dengan kesal.
Tring…
Ponsel milik Nando bergetar. Rupanya wanita yang dia ajak kencang untuk malam minggu ini sedang menelfon dirinya.
Namun karna moodnya hancur, dia membatalkannya tanpa wanita itu ketahui.
****
Lea berjalan di koridor rumah sakit, sesuai dengan janjinya dengan Agrif dia akan bermalam di rumah sakit menemani dirinya dan juga Daniel.
Di koridor. Lea berpapasan dengan dokter Nathan yang hendak ingin pulang. Terlihat wajah pria itu letih dengan pekerjaannya seharian.
“Dokter Nathan,” sapa Lea dengan cengengesan.
Nathan tidak menggubris Lea, dia langsung pergi sehingga Lea tersenyum kecut melihat punggung dokter Nathan yang telah pergi.
“Apa Lea bakalan nyerah?” Menolog gadis itu. Lalu kemudian dia mengangkat sudut bibirnya lalu tersneyum. “Tentu saja tidak, dokter Nathan.”
“Meskipun Lea tau. Lea bukan tipe dokter Nathan, tapi Lea yakin Lea bisa jadi tipe dokter Nathan dengan cara tersendiri,” menolog gadis itu.
“Lea memang nggak secantik dokter Valen, sepintar dokter Valen, dan orang berada seperti dokter Valen. Tapi Lea punya rasa saya kepada dokter Nathan dengan tulus. Bukan karna embel-embel dokter Nathan adalah seorang dokter dan orang terpandang.”
__ADS_1
“Maafkan Lea. Yang udah lancang menyukai dokter Nathan.”
Lepas itu. Lea melanjutkan langkah kakinya untuk segera menuju ruangan Daniel dengan membawakan Agrif bekal makan malam.
Ceklek
Pintu ruangan Daniel dibuka oleh Lea. Sehingga Agrif yang melihat kedatangan Lea langsung memeluk gadis berusia 19 tahun itu dengan erat.
“Kakak cantik lama banget,” aduh Agrif membuat Lea mencubit pipih Agrif gemes.
“Kakak cantik lagi sibuk dengan kuliah kakak,” balas Lea.
Bibi yang menjaga Daniel dan juga Agrif tadi pamit untuk pulang kerumah utama Daniel.
Agrif menggenggam tangan Lea menuju bansal tempat Daniel tengah berbaring, dengan alat-alat yang menemaninya setiap saat.
“Papah belum juga bangun,” aduh anak itu kepada Lea. “Padahal Agrif kangen sama suara papah,” lanjutnya.
“Apa papah ingin menemui mamah? Sampai-sampai papah nggak mau bangun.”
“Jangan ngomong kayak gitu,” tegur Lea dengan lembut. “Kita lebih baik doain papah kamu supaya cepat bangun. Jangan berpikir smpai kesana yah ganteng,” nasehat Lea.
“Om itu jahat sama papah Agrif. Dia mukulin papah sampai kayak gini,” tangis anak itu memeluk Lea. Seraya ingatannya membawanya pada kejadian beberapa bulan.
Dimana dia melihat dengan jelas. Jika seorang pria menghajar papahnya dengan membabi buta.
“Semogah aja dia dapat balasannya.”
Lea memenangkan Agrif. Membawa anak itu menuju sofa lalu menenangkannya.
“Perbanyak doa,” ucap Lea mengusap rambut Agrif.
Berhadapan dengan Agrif. Membuat dirinya terlihat dewasa. Terlihat bagaiamna gadis berusia 19 tahun itu menenangkan Agrif.
“Papah udah lama nggak buka mata,” tangis anak itu. “Kalau papah pergi, Agrif bakalan sama siapa? Karna mamah udah duluan ke surga,”ucap anak itu membuat Lea langsung membawa Agrif kedalam dekapanya.
“Kamu makan dulu yah,” Lea membuka tasnya. Mengeluarkan kotak bekal untuk Agrif.
“Kakak cantik mau kan suapin Agrif?” Tanya anak itu dan dibalas anggukan kepala oleh lea.
“Tentu saja.”
__ADS_1
Lea menyuapi Agrif dengan penuh kasih sayang, dia tidak tau. Bagaimana jadinya jika Daniel akan pergi? Siapa yang akan mengurus anak sekecil Agrif?