Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kejahilan Farel


__ADS_3

Kedua saudara beda ibu itu asik berbincang, Frezan tidak tau apa keperluan Nathan untuk keluar kota.


Dia juga penasaran sehingga dia memutuskan untuk bertanya.


“Ada keperluan apa kamu ke luar kota?” Tanya Frezan membuat Nathan tersenyum sangat tipis.


Nathan pikir saudaranya itu tidak akan bertanya mengenai kepergiannya untuk keluar kota, tapi rupanya dia salah, karna saudaranya itu bertanya padanya.


“Urusan kerja,” jawab Nathan.


“Apa kamu di pindahkan tugas di luar kota sebagai dokter?” Tanya Frezan.


Dengan cepat Nathan menggelengkan kepalanya.” Tidak,” kilah Nathan membantah pertanyaan Frezan dengan cepat.


Frezan tidak bertanya lagi, dia tidak akan bertanya lebih lanjut pada saudaranya itu, karna setiap orang mempunyai privasi.


“Gue nggak lama di sana,” kata Nathan,” palingan cuman seminggu,” lanjutnya dan di balas anggukan mengerti oleh Frezan.


“Kalau gitu gue pamit dulu. Gue mau siapin baju buat berangkat besok,” pamit Nathan beranjak dari tempat duduk yang dia duduki.


Frezan juga beranjak dari tempat duduknya lalu berjabat tangan dengan saudarany itu yang berprofesi sebagai seorang dokter.


“Makanya lo cepat nikah!” Ada nada mengejek saat Frezan mengucapkan kata ini, membuat Nathan tertawa kecil.


Mereka berdua berpelukan,” Secepatnya bang gue bakalan nikah kalau jodohnya udah kelihatan,” kata Nathan sembari melepaskan pelukannya dengan Frezan.


“Jodoh lo udah terlihat, cuman lo aja yang selalu menghindar!” sanggah Frezan membuat Nathan mengerutkan alisnya.


“Maksud bang Eza dokter Valen?”


Pletak….


Awkh….


Nathan langsung meringis saat Frezan menjitak keningnya.


“Cinta mereka berdua masih kurang puas buat lo?” ringis Frezan kepada Nathan.


Frezan tidak tau, mengapa adiknya itu masih berharap pada orang yang sudah mencintai seseorang dalam hidupnya.


Frezan tau, kisah cinta saudarany semasa SMA itu tidak pernah berjalan dengan mulus. Frezan masih mengingat dimana saat itu Nathan menyukai Rara dan mereka berdua saling menyukai. Namun bodohnya Nathan, dia kalau jadian dengan Tasya, padahal dia menyukai Rara secara diam.


Dia tidak mempunyai keberanian saat itu mengutarakan rasa sukanya pada Rara karna dia sadar diri. Padahal dia juga tampan saat masa SMA, Nathan saat itu tidak menembak Rara karna takut untuk di tolak.


Namun saat dia tau Rara juga menyukainya sejak Mos membuat Nathan menjadi terombang-ambing, apa lagi saat itu dia tau dengan statusnya berpacaran dengan Tasya sahabat Rara.


Jika mengingat cinta masa SMA, tidak ada habisnya jika dibahas.

__ADS_1


“Terus….Maksud lo jodoh gue yang udah terlihat itu siapa?” Tanya Nathan lagi.


Frezan tersenyum tipis. “Tetangganya Valen,” jawab Frezan dengan enteng membuat Nathan langsung bergedik ngeri.


Bagaiamana bisa saudaranya itu tau jika ada gadis yang umurnya belum sampai 20 tahun mengejarnya. Bahkan Nathan tadi tidak sampai berpikiran kesana.


“Gue nggak bakalan mau sama bocah!” desis Nathan lalu pergi meninggalkan Frezan di ruangannya.


“Jangan sampai bocah yang buat lo bucin!” Teriak Frezan sebelum Nathan benar-benar lenyap dari ruangannya.


“Nggak bakalan!” teriak Nathan juga lalu menutup pintu ruangan Frezan.


Sebelum pergi, Nathan ke taman belakang pamit pada Rara dan juga Farel adiknya. Nathan sudah memberitahukan pada Farel jika dia akan keluar kota dan akan tinggal dirumah Frezan sampai dia balik ke Jakarta lagi.


“Rel!” panggil Nathan menghampiri adiknya itu.


“Abang Nathan udah mau pulang?” Tanya Farel.


“Iya, abang mau pulang beresin pakaian yang abang bawa besok, kamu di sini yah sama mbak Rara sama kembar, sama Hasya dan juga Tegar,” kata Nathan menundukkan tubuhnya untuk mensejajarkan tingginya dengan Farel.


“Abang Nathan jangan lama di sana,” kata Farel sembari memeluk Nathan dengan erat.


Semenjak Reta maminya meninggalkan dirinya keluar negeri, dia sudah tidak mencari Reta lagi karna sudah terbiasa tanpa Reta.


Nathan selalu mengatakan padanya untuk melupakan Reta yang telah pergi meninggalkan dirinya dengan pria lain di luar negeri.


Nathan membalas pelukan Farel,” Iya. Abang nggak bakalan lama disana,” kata Nathan.


Sementara Rara hanya memperhatikan kedekatan mereka berdua. Setelah Reta meninggalkan Farel dan Alex meninggal dunia


Nathan yang mengurus segala keperluan Farel.


Frezan biasa mengirimkan uang pada Nathan untuk memenuhi kebutuhan Farel, meski Nathan mampu namun Frezan tetap mengirimkan Farel uang sebagai bentuk pertanggung jawabnya pada sang adik.


“Jangan nakal Disini,” ancam Nathan pada Farel dan dibalas anggukan kepala oleh Farel.


Nathan langsung pamit pada Rara.


“Ra, titip Farel yah,” kata Nathan.


“Iya, Rara bakalan jagain mereka,” balas Rara.


Lepas itu Nathan pamit pulang untuk segara membereskan pakainya untuk keluar kota besok.


“Tegar!” Panggil Rara. “Sini dulu!” Lanjutnya.


“Ta, kamu disini dulu. Bunda panggil aku,” kata Tegar lalu pergi meninggalkan Dyta yang masih menendang bola.

__ADS_1


Tegar langsung menghampiri Rara. “Kenapa bun?” Tanya Tegar.


“Ini ada Farel, kamu main sama yah,” kata Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Tegar.


“Ayok. Kita main bola sama Dyta juga!” Ajak Tegar menggandeng tangan Farel untuk menuju tempatnya bermain dengan Dyta.


“Rambutnya jelek banget!” tawa Farel pecah melihat rambut Dyta yang keriting itu membuat Dyta langsung mendongakkan kepalanya melihat kedatangan Farel.


“Rambutny Dyta cantik,” kata anak itu dengan sedikit cadel membuat Farel semakin tertawa.


“Ayok main!” Kata Tegar mengambil bolanya lagi.


“Rambut kamu jelek!” Ejek Farel pada Dyta, padahal Nathan baru saja mengatakan padanya untuk tidak nakal Disini.


“Keriting!”


“Keriting!”


“Keriting!”


Farel terus saja mengejek Dyta, untung saja anak itu belum terlalu tau namanya sakit hati. Sementara Tegar yang mendengar ejekan Farel menggelengkan kepalanya dengan lucu.


“Dyta keriting!”


“Rambut Dyta jelek!”


“Dyta keriting!”


Mereka bertiga bermain bola, sekali-kali Farel berteriak mengejek Dyta.


“Sudah, nanti Dyta nangis,” kata Tegar agar Farel berhenti mengejek Dyta.


“Rambutnya jelek!” ejek Farel lagi membuat Tegar ingin melaporkan kejahilan Farel pada sang ayah.


Saat ini, ketiga anak kecil itu sedang duduk di tengah lapangan dengan posisi Dyta berada di tengah Tegar dan Farel berada di sampingnya.


“Rambut kamu jelek banget!” kata Farel penuh pengejekan sembari memegang rambut Dyta mengguling-gulingnya dengan tanganya.


“Jangan di pegang, nanti Mamah susah nyisir rambut Dyta!” cemberut Dyta sembari berusah melepaskan tangan Farel pada rambutnya menggunakan tangan mungilnya itu.


Farel tentu saja tertawa keras mendengar penuturan Dyta.


“Rambut keriting seperti kamu ini emang susah di sisir!” ejek Farel. “Rambut kamu ini beban!” lanjutnya dengan tawa masih keras membuat Tegar juga tertawa.


Sementara Rara yang mendengar tawa Farel juga ikutan tertawa, tawa lepas anak itu seperti melepaskan beban yang banyak, padahal dia masih kecil belum mempunyai banyak beban.


Tapi seperinya, Farel masih sedih dengan kepergian Reta dan juga Alex.

__ADS_1


__ADS_2