Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Dyta dan Agrif


__ADS_3

Frezan langsung menghampiri Agrif dengan mengendong Dyta. Dia tau, jika Dyta dan Agrif menjadi sahabat di sekolah.


"Agrif," panggil Frezan berlari dengan cepat menghampiri Agrif yang sudah ingin masuk ke dalam mobil.


"Bisa om bicara sama kamu?" tanya Frezan kepada anak yang tatapannya hanya datar saja.


Frezan bisa melihat dirinya sendiri yang datar di wajah Agrif. Tapi Agrif kecil ini menyeramkan tatapannya yang sangat kosong.


"Iya," balasnya tanpa semangat.


Dari bicara anak itu, seakan-akan hidupnya tidak berguna lagi.


"Bibi bisa pulang duluan. Biar nanti saya yang antar Agrif pulang," pintah Frezan kepada Bi Minah.


"Baik pak. Agrif, bibi tinggal dulu, ya," pamit Bi Minah mengacak rambut Agrif dengan lembut lalu masuk kedalam mobil.


"Ikut om, ya, kita bicara di dekat taman sekolah ini," ajak Frezan dengan lembut.


Anak itu menganguk tanda mengiyakan ucapan Frezan, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Terlebih dahulu Frezan menghubungi Kayla untuk pulang lebih dulu bersama anak-anak. Frezan akan menyuruh supir untuk menjemputnya nanti bersama dengan Dyta dan juga Agrif.


Mereka bertiga sudah sampai di taman sekolah yang cukup ramai, mereka bertiga duduk di kursi kayu cat putih.


"Ada yang ingin om bilang," ucap Frezan melihat Agrif yang masih diam dengan tatapannya yang datar.


"Apa benar kamu mau ke Banjarmasin?" tanya Frezan.


Sementara Dyta masih menyimak obrolan orang dewasa yang bernama Frezan dan sahabat barunya, Agrif.


Anak itu menganguk.


"Kamu tidak perlu jauh-jauh ke Banjarmasin dengan tujuan ke panti Asuhan. Ada Om di sini yang jaga kamu dan rawat kamu seperti anak om sendiri. Om bakalan anggap kamu anak om sendiri."


"Jadi, kamu tidak perlu ke Banjarmasin. Masih ada saya di sini sebagai kelurga kamu. Saya dan alm papah kamu itu sangat dekat."


Agrif masih diam, tapi dia mendengar dengan seksama apa yang di katakan oleh Frezan yang tulus kepada dirinya.


"Kamu mau, ya, tinggal sama om," pinta Frezan karna Agrif tak kunjung bersuara juga.


Agrif menatap Frezan. Bisa Frezan lihat jika tatapan mata Agrif sangat sedih ada berbagai kesedihan dia simpan di dalam bola matanya.

__ADS_1


"Agrif akan ke Banjarmasin. Disana Agrif nggak akan kesepian kalau di panti, di sana banyak anak-anak yang sama kayak Agrif," ucap anak itu dengan serius.


"Agrif akan suka tempat keramaian supaya Agrif nggak selalu ingat papah dan mamah yang udah ninggalin Agrif sendiri. Kalau di panti, banyak anak-abaka yang akan buat Agrif lupa."


"Agrif..."


"Agrif bakalan kembali ke sini om, dengan Agrif versi baru," ucap anak itu berusaha tersenyum kearah Frezan.


Frezan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Jawaban dari Agrif sangat menohok membuatnya tidak bisa memaksa Agrif untuk di sini.


"Agrif bakalan cari Kebahagian Agrif, om, sampai Agrif lupa kalau masa kecil Agrif jauh dari kata bahagia," lanjutnya.


Agrif akan menemukan kebahagianya dengan caranya tersendiri.


"Kak Agrif.." panggil Dyta yang sedari tadi diam.


Agrif melihat Dyta, sosok sahabat baru yang dia temukan di sekolah ini. Agrif tersenyum kearah Dyta.


"Kak Agrif beneran mau pergi?"


Agrif menganguk kecil.


"Kenapa?" tanya Dyta.


"Dyta aja di tinggal papah keluar negeri Dyta masih di sini," ucap anak itu polos.


"Papah kamu akan kembali jika waktunya sudah tiba, Ta. Tapi papah Daniel? Papah nggak akan kembali sampai kapanpun," sedihnya membuat Dyta terdiam karna apa yang di katakan Agrif memanglah benar.


Frezan langsung memeluk Agrif.


Bagaiamana jika Agrif tau, jika papah sahabanya sendiri yang membuat papahnya menderita hingga meninggal? Itu yang di pikir Frezan.


Frezan berharap, jika Agrif melupakan ini semuanya agar tidak ada dendam diantara anak keturunan mereka nanti.


Dyta melepaskan gelang kaki yang di berikan Elga padanya saat ulang tahunya.


"Kak Agrif, ini dari Dyta. Semogah aja kak Agrif nggak lupain Dyta kalau udah di Banjarmasin dan dapat teman baru," ucap Dyta memberikan gelang kakinya pada Agrif yang berwarna hitam.


Gelang kaki tersebut seperti benang, tipis tapi kuat. Sudah lama Dyta pakai dan barang itu masih tahan lama.


Karna Elga membelinya dengan harga mahal sesuai dengan kualitas, di gelang kaki itu terdapat inisial nama Dyta, D.

__ADS_1


"Ini hadiah ulang tahun Dyta, Dyta kasi ke kak Agrif sebagai simbol persahabatan kita," ucap Dyta.


Tentu saja Agrif tersneyum, dia kembali mengingat sosok anak kecil di taman saat dia bermain bersama. Saat itu, Agrif yang berinisiatif duluan memberikan gelang couple itu kepada anak kecil di taman itu, bernama Ziya.


"Pakaikan, Ta," pinta Agrif sehingga Frezan memberikan ruang untuk Dyta untuk mendekat kepada Agrif.


Dyta mulai memakaikan gelang kakinya untuk Agrif dengan telaten di bantu oleh Frezan, karna bagaimanapun Dyta masih susah mengaturnya.


"Jaga baik-baik, ya, pemberian Dyta," ucap Dyta setelah berhasil memakaikan Agrif gelang kakinya.


"Pasti, Ta," balas Agrif. Kali ini, senyuman Agrif untuk Dyta sangat tulus.


"Kak Agrif nggak kasi sesuatu ke Dyta, buat kenangan-kenangan kalau kita udah berjauhan," cemberut anak itu karna Agrif tidak memberikan sesuatu yang dapat dia lihat selama Agrif pergi dari sini.


"Maaf, Ta, Agrif nggak sempat belu sesuatu untuk kenangan," ucap Agrif karna memang dia tidak tau jika akan bertemu nantinya Dyta di sekolah.


"Gelang Agrif aja," ucap Dyta menujuk gelang di tangan Agrif.


Agrif melirik gelang di tanganya, gelang ini adalah gelang coupelnya dengan Ziya pas di taman.


Apakah dia harus memberikan ini untuk Dyta?


"


Ayolah," cemberut Dyta karna Agrif tak kunjung mengiyakan ucapnya.


"Ok." Setelah berpikir panjang, akhirnya Agrif setuju lalu melapaskan gelangnya.


Agrif mulai memakaikan Dyta gelang anak kecil itu tersenyum. Membuat Frezan yang memperhatikan aktivitas mereka tersenyum hangat.


"Agrif, kapan ke Banjarmasin?" Tanya Frezan.


"Besok lusa, om, pengacara papah akan jemput Agrif besok lusa untuk ke Banjarmasin," ucapnya dan dibalas anggukan kakuh oleh Frezan.


"Agrif, kamu janji sama Dyta nggak bakalan lupa Dyta," anak itu menaikkan jari kelingkingnya lalu di sambut oleh Agrif.


"Kamu jangan nakal, ya, Ta" Tawa Agrif membuat Dyta juga tertawa.


"Kak Agrif juga jangan nakal di sana, ya, Semogah kita cepat ketemu."


Mereka berdua berpelukan, Frezan memotret mereka atas keinginan Dyta karna dia akan menyimpan fotonya bersama dengan Agrif nanti.

__ADS_1


Bagaimanapun, Agrif adalah sahabanya di masa SD ini, apa lagi hobi mereka sama, suka bermain basket.


__ADS_2