Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ketus


__ADS_3

Valen tidak menggubris dengan apa yang di katakan Rifal, dia tetap pada pendiriannya untuk tidak dengan mudah terkeco dengan perktaan manis Rifal.


Valen melepaskan tanganya yang di genggam erat oleh Rifal.


“Len,” tegur Rifal saat Valen melepaskan tanganya.


“Aku sibuk,” ketus Valen lalu kembali fokus kepada laptopnya.


Huft


Hembus nafas berat keluar dari mulut Rifal.


“Len. Aku udah minta maaf, cuman masalah sepeleh kayak gini kamu diamin aku seperti ini?” Rifal berkata dengan sedikit menuntut.


Dia masih memikirkan masalah mengenai Elga, dan pulang kerumah dia di sambut dengan diaman dan keketusan sang istri.


“Len.”


Rifal masih setia memanggil Valen, namun


Valen masih tidak menggubris panggilan dari Rifal. Valen kecewa dengan Rifal, karna dari semalam pria itu tidak menghubunginya dan membuatnya tidur subuh hanya menunggu kedatangan Rifal.


“Jangan buat aku tambah pusing,” kata Rifal lagi membuat Valen semakin kesal kepada Rifal, namun dia tidak menunjukkan Kekesalnya kepada Rifal saat ini.


“Len,” panggil Rifal dengan suara dingin membuat Valen menjadi bergedik ngeri.


“Kalau suami kamu panggil, di jawab,” lanjut Rifal lagi dengan dingin kepada Valen.


“Aku sibuk.” Valen menjawabnya dengan sedikit ketus, dia juga takut saat ini dengan perubahan suara Rifal yang tadinya lembut memanggilnya kini menjadi dingin.


Seakan-akan ruangan yang di tempati sekarang berselimut es batu.


“Apa pekerjaan mu lebih penting, daripada suami mu sendiri,” kata Rifal lagi, masih dengan suaranya yang dingin.


Valen ingin beranjak dari kursinya namun pergelangan tanganya langsung di cekal oleh Rifal. “Aku belum selesai ngomong, Len,” dingin Rifal karna Valen sudah ingin beranjak padahal dia masih memberikan wejangan pada Valen.


Valen nampak kesal. “Aku mau mandi,” ucap Valen.


Rifal menyeritkan alisnya. “Sejak kapan kamu mau mandi cepat?” Rifal memberikan pernyataan pada Valen. Karna dia tau, semenjak Valen hamil dia sangat malas mandi.


Dia hanya mandi di sore hari, menjelang magrib.


“Ini masih jam 1 siang, belum jam 5 sore,” lanjut Rifal lagi.


“Yah, aku mau mandi cepat sekarang,” kata Valen lagi agar terhindar dari pertanyaan Rifal yang membuatnya kesal.

__ADS_1


“Nggak baik mandi siang,” ucap Rifal. “Masa itu aja kamu nggak tau, padahal kamu dokter,” ejek Rifal kepada Valen.


“Terserah aku.”


“Jangan mandi siang, kalau nggak….” Rifal menjeda perktaanya.


“Kalau nggak apa?” Valen berkata dengan hati-hati.


“Kita mandi bareng,” sambungnya membuat Valen memukul tangan Rifal.


“Aku nggak mau mandi sama kamu,” ketus Valen.


“Jangan ketus-ketus sama suami kamu, Len. Durhaka kamu sama suami sendiri,” ejek Rifal agar dia bisa mencarikan Valen.


“Biarin aja.”


“Kamu mau kualat?” Tantang Rifal.


“Tau ahk,” ketus Valen lagi.


“Len,” panggil Rifal selembut mungkin.


“Apa,” jawabnya dengan ketus lagi.


“Entar aku maafin, kalau mood aku udah membaik,” ucap Valen lagi.


“Len, aku nggak mau kamu ngambekin aku lama,” rengek Rifal.


“Tunggu sampai mood aku baik,” ucap Valen lagi tanpa terbantahkan.


“Gini. Kamu maafin aku sekarang juga, dan aku bakalan ngabulin permintaan kamu,” Rifal memberikan tawaran menarik pada Valen membuat Valen nampak berpikir sejenak. Memikirkan tawaran yang diberikan oleh Rifal.


Rifal yang melihat gelagat Valen yang akan memanfaatkan situasi ini langsung kembali angkat bicara. “Asal jangan aneh-aneh,” lanjut Rifal sebelum Valen mengutarakan apa yang ingin dia minta kepadanya.


“Ok.”


“Permintaan kamu apa?” Tanya Rifal.


“Liburan.” Satu kata yang keluar dari mulut Valen membuat Rifal diam sejenak, beberap detik kemudian dia kembali bertanya.


“Mau liburan kemana?” Tanya Rifal.


“Nggak jauh-jauh kok, aku nggak akan minta liburan keluar negeri. Aku cuman minta liburan di Bali saja,” tutur Valen mengutarakan keinginannya pada Rifal.


“Kalau kamu setuju, aku bakalan maafin kamu,” lanjut Valen membuat Rifal nampak berpikir.

__ADS_1


Tidak memungkinkan jika dia liburan sementara pikiranya saat ini di penuhi dengan nama Elgara.


Valen masih setia menunggu jawaban dari Rifal.


Rifal menatap manik mata Valen. “Entar malam aku pikir soal permintaan kamu,” kata Rifal tanpa mengalihkan pandanganya menatap Valen. Dia tau, jika permintaan Valen saat ini yang ingin liburan ke Bali merupakan sebuah kewajiban, namun Rifal juga tidak bisa berlibur dengan pikiranya yang kacau, banyak sekali masalah.


“Soalnya banyak pekerjaan di kantor,” lanjut Rifal.


“Emangnya Nando nggak bisa handel pekerjaan kamu? Biasanya kan Nando sering handel pekerjaan kamu, kalau kamu sibuk,” ucap Valen.


“Aku nggak enak, Len, udah berbulan-bulan aku mengalami kebutaan, semua pekerjaan di kantor di handel sama Nando. Masa iya aku tega sama Nando lagi buat handel pekerjaan di kantor selama kita liburan.” Sebenarnya bisa saja Rifal menyuruh Nando untuk menghandel pekerjaan kantor, cukup menaikkan gaji pria itu dia akan bahagia.


Namun, ini bukan waktu yang tepat menurut Rifal untuk liburan, semenetara sahabatnya sedang di runding masalah.


“Yaudah,” ucap Valen lalu meninggalkan Rifal untuk masuk kedalam kamar mandi.


“Jangan mandi, siang-siang begini. Tidak baik buat kesehatan kamu sama bayi kamu,” peringat Rifal.


Rifal tau, jika Valen semakin kesal kepadanya karna belum memberikan kepastian mengenai permintaan Valen untuk liburan ke Bali.


Valen hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rifal, tanpa menghentikan langkah kakinya dan tanpa mengiyakan apa yang di katakan oleh Rifal.


Valen menutup kamar mandi, sementara Rifal berjalan meninggalkan kamar menuju ruangan kerjanya.


Valen menyalakan keran air, lalu membasahi wajahnya dengan air.


“Masa gitu aja nggak bisa,” keluh Valen seraya melihat wajahnya yang cantik di depan cermin.


Valen mematikan keran air, lalu membuka pintu kamar mandi dengan pelan-pelan, seraya mengintip apakah masih ada Rifal atau sudah pergi.


Valen keluar dari kamar mandi setelah dia mengintip jika Rifal sudah pergi dari sini, entahlah Rifal kemana, itu yang di pikir Valen saat ini.


Rifal sedang menyandarkan tubuhnya di kursi kerja miliknya, dia memejamkan matanya seraya memikirkan permintaan Valen tadi.


Jika dia mengiyakan permintaan Valen, sekitar dua minggu dia akan berada di Bali. Rifal tidak suka liburan jika dia mempunyai banyak masalah, seperti saat ini.


Andaikan saja dia belum mengetahui masalah Elgara, jika Valen meminta berkeliling negara untuk liburan, Rifal dengan senang hati mengiyakan permintaan Valen.


Huft


Hembusan nafas berat keluar dari mulut Rifal, dia berjalan menuju meja yang berada dekat jendela. Dia mengambil sebatang rokok serta korek api lalu membakar rokoknya.


Rifal mulai mengisap rokoknya, m menyemburkan asap tokonya, seraya memandang keluar jendela.


Pikiranya sedikit tenang, saat mengisap sebatang rokok.

__ADS_1


__ADS_2