Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Hujan


__ADS_3

Villa


Rifal membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran kalut.


Sosok wanita yang membawa bakul tadi membuatnya terus-terusan berpikir jika dia adalah Valen.


Tapi, jika dia Valen mengapa dia tidak pulang? Mengapa dia malah berdagang di pasar seafood Bali?


Memikirkan itu membuat Rifal terus-terusan menghembuskan nafas kasar.


Bukan hanya itu, sosok anak kecil yang di jumpai sore tadi membuatnya kepikiran juga, hingga saat ini.


Bahkan, dia tidak bisa melupakan wajah menggemaskan anak itu, serta namanya lucu, cocok dengan wajahnya yang menggemaskan.


Baru pertama kali melihat anak itu, membuat dara Rifal berdesir. Apakah dia begitu menginginkan anak sehingga dia bahagia berjumpa anak itu tadi?


Rifal mengacak rambutnya frustrasi, kalau anak kecil sore tadi itu beda. Sudah dia jumpai anak Kayla dan Rara, dia tidak pernah merasakan hal yang dia rasakan saat bertemu anak kecil bernama Kianna.


Rifal melirik ke sampingnya, diatas nakas ada bingkai fotonya bersama dengan Valen, foto pernikahan mereka saat dia dan Valen masih berstatus anak SMA, tapi mereka sudah menikah.


Dia sengaja membawa foto pernikahannya di Villa, menyimpan bingkai foto diatas nakas agar dia selalu menatap wajah Valen.


Meski dia hanya bisa melihat foto Valen, setidaknya bisa menyemangati dirinya hingga saat ini.


Rifal turun dari tempat tidurnya, berjalan gontai menuju dapur untuk membuat secangkir coffe.


Coffe yang dia buat sudah selesai, lalu dia menikmati coffenya di ruangan tengah, dimana didepan ruangan tengah terdapat dinding kacah sehingga dia langsung di suguhkan pemandangan pantai dan senja.


''Len, lo dimana!'' hembusnya seraya menyesap coffe buatanya.


Entah sejak kapan, hujan turun membasahi bumi membuat Rifal bergerak meninggalkan ruangan tamu untuk segera ke kamar.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuat langkah Rifal ingin berjalan ke kamar terhenti, dia menaikkan alisnya sebelah.


Siapa yang datang kesini? Seingatnya dia tidak menelfon siapapun untuk datang kesini.


Rifal ingin mengabaikan ketukan itu, namun ketukan pintu itu semakin kencang membuat Rifal menjadi terganggu.


''Siapa yang datang menganggu hujan-hujan begini!'' desis Rifal berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Rifal membuka knop pintu, lalu menatap wajah pria yang membawa bakul berisi ikan.


Rifal merasa tidak asing dengan bapak di hadapanya.


''Ikan mu!''


Rifal langsung mengingat, siapa bapak di hadapanya ini.


''Untung saja kakek Halan mengetahui jika kau tinggal di sini!'' ucap bapak itu lagi.


Dahi Rifal mengerut diantara kedua alisnya. Dia bertanya-tanya dalam benaknya, siapa itu kakek Halan? Dan bagaiamana kakek itu mengetahui jika dia tinggal di Villa ini.


''Saya tidak mengenal kakek Halan!'' Rifal berbicara dengan tegas seraya siap menutup pintu Villa karna dia semakin dingin diluar sini.


Namun pergerakan tanganya itu terhenti, saat bapak itu berdecak kesal kepada Rifal.


''Dasar! Kakek Halan itu kakek yang kau tabrak di tengah pasar!''


Rifal tidak jadi menutup pintu, dia kembali membuka pintu itu lebar-lebar.


''Jadi, bapak kenal kakek itu?'' tanya Rifal berusaha mencari tau.


Dia harus memulai dari sini, mencari tau kakek Halan lebih dulu.


''Siapa yang tidak mengenal kakek Halan. Dia adalah nelayan paling tua di sini,'' ucap bapak itu.


Bapak itu terlihat bingung dengan nada suara Rifal yang sedikit sopan, tidak seperti tadi.


''Nama saya Yadi, saya salah satu nelayan di sini dan penjual ikan di pasar tadi,'' ucapnya dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


Rifal melirik ikan di dalam bakul itu, lalu kembali melirik sih bapak yang bernama Yadi.


''Ambil saja ikanya, saya alergi ikan.'' Bohong Rifal, hanya saja dia tidak bisa di repotkan dengan ikan sebanyak itu.


Dia kesini untuk mencari Valen, bukan malah membeli ikan sebanyak ini.


''Terus kenapa kam—''


''Bisa kita bertemu besok?'' potong Rifal.


Yadi, sekali lagi heran dengan pria tampan dan angkuh di hadapnya ini.


''Untuk apa?'' tanya Yadi bingung.


''Untuk mengantar saya kerumah kakek Halan,'' jelas Rifal.

__ADS_1


''Untuk apa kau ingin kesana?''


''Saya ingin membeli ikan di kakek Halan.''


''Katanya kau alergi ikan, mengapa mau memesan ikan?''


***


Bukan hanya di Bali saja yang hujan, di Jakarta juga tengah hujan lebat. Seakan-akan bumi tengah menangis begitu keras mengguyur kota Jakarta malam ini.


Rara tengah memandang hujan turun dari balkon kamarnya, pedahal cuaca sedang tidak biak namun wanita itu menikmati hujan turun.


Frezan melangkahkan kakinya mendekat Rara, lalu memeluk wanitanya itu dari belakang membuat Rara tersentak kaget lalu kemudian dia tersenyum karna merasa nyaman dengan pelukan Frezan.


''Ngapain di sini? Cuaca sekarang nggak baik,'' ucap Frezan tepat di telinga Rara membuat gadis itu meremang, semakin dingin.


Rara terkekeh geli, ahk, mengapa dia selalu begini setiap Frezan melakukan tindakan yang membuatnya menjadi takut dan bahagia dalam waktu bersamaan.


Padahal mereka sudah menikah sudah cukup lama, dan sudah di karunia putra dan putri yang tampan dan cantik.


''Aku lagi mikirin Valen,'' sedih Rara.


Sampai sekarang dia masih berharap jika sahabatnya itu masih ada dan masih menghirup udara di dunia ini.


Meski sudah satu tahun lebih tanpa kepastian, apakah Valen masih hidup atau sudah tidak lagi.


Frezan membalikkan tubuh mungil Rara, sehingga mereka berdua saling berhadapan. Wajah tampan Frezan membuat Rara setiap saat jatuh cinta kepada suaminya itu.


Begitupun dengan Frezan, menatap Rara merupakan suatu candu yang tidak ingin dia hentikan.


Setiap saat dia selalu jatuh cinta kepada istri kecilnya itu.


Frezan menyelipkan anak rambut Rara menatapnya dengan tatapan teduh.


''Kita hanya bisa berdoa, untuk Valen,'' ucap Frezan membuat Rara menarik nafasnya dalam.


''Aku rasa, kehilangan Valen merupakan hal yang terberat untuk aku. Sudah cukup aku kehilangan Tasya dan juga Tegar,'' hembus Rara mengingat setiap prosesnya ada saja masalah yang menciptakan kesedihan yang larut.


''Saat masa putih abu-abu, Tasya ninggalin kita. Masa perkuliahan Tegar ninggalin kita juga,'' hembus Rara dengan nafas berat. ''Dan sekarang, Valen.''


''Setiap proses tidak selamnya akan berjalan mulus. Bukan proses namanya jika harus setiap saat berjalan mulus. Tidak akan pembelajaran didalamnya jika hanya manisnya saja, tidak ada pahitnya,'' bijak Frezan membuat Rara mengangguk kecil.


''Kita masuk, nggak baik di sini lama-lama,'' ujar Frezan menggandeng tangan Rara masuk kedalam kamar.


Frezan mematikan lampu kamar, dan menyisahkan lampu tidur.

__ADS_1


Frezan dan Rara baring berhadapan, dengan jarak yang sangat dekat, hembusan nafas keduanya dapat di rasakan satu sama lain.


''Hujan-hujan enaknya ngapain?'' tanya Frezan menggoda membuat Rara melotokan matanya yang sangat lucu bagi Frezan.


__ADS_2