
Valen masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya untuk segera tidur, karna dia juga kecapean seharian ini.
Dari dia menemani Rifal menjalani operasi hingga ke makam milik Adelia, di tambah lagi cuaca sangat dingin membuat tubunya cepat lelah.
Setelah mencuci wajahnya dengan sabun pembersih, Valen kemudian menatap wajahnya di cermin lalu mengeringkan wajahnya menggunakan handuk khusus wajahnya.
Valen keluar dari kamar mandi, dia sudah melihat Rifal tengah duduk di kursi sofa.
“Udah mau tidur?” Tanya Rifal setelah melihat Valen keluar dari kamar mandi.
Valen mengangguk lalu berjalan menuju lemari mengambil selimut. “Iya, aku kayaknya kecapean jadi mau cepat tidur,” jawabnya membuat Rifal tersenyum kecil.
“Bukan kayaknya, tapi kenyataan,” terang Rifal kepada Valen.
“Terserah kamu aja,” balas Valen lalu menidurkan tubunya diatas tempat tidur.
Dia menarik selimutnya untuk segera tidur. Rifal mengambil laptop dari laci meja lalu membuka laptopnya.
Dia melihat hasil laporan Nando selama sebulan ini yang menghandel segala pekerjaannya selama dia dalam kondisi buta. Rifal fokus dengan layar laptop di hadapnya. Memeriksa satu persatu pekerjaan yang di lakukan oleh Nando.
Rifal tersenyum saat melihat hasil kerja Nando yang luar biasa, dia sudah tidak meragukan kemampuan Nando lagi jika mengurus bisnis, semuanya aman jika dia yang menghandel segala pekerjaannya.
Rifal mengambil ponselnya diatas meja, sudah satu bulan lebih dia tidak memegang ponselnya itu. Terlebih dahulu dia mencari kontak Nando.
“Kerja yang bagus, bulan ini gajimu naik tiga kali lipat.”
Lepas mengirimkan pesan kepada Nando, Rifal langsung menyimpan kembali ponselnya diatas meja.
Terlebih dahulu Rifal berjalan kearah lemari untuk mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.
Rifal menyalakan shower air lalu membasahi seluruh tubunya, dia mengusap rambutnya lalu mengambil shampo dan membersihkan kepalanya dengan sampo kesukaannya.
Rifal mengambil sabun mandi lalu menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun yang selalu dia kenakan. Lepas memakai sabun dia menggosok gigih.
Sekitar dua puluh menit mandi akhirnya dia telah selesai. Dia mematikan shower air lalu melilitkan handuk di pinggangnya.
Rifal melihat wajahny di depan cermin, dia fokus pada matanya. Dia tersenyum melihat matanya di depan cermin yang sangat indah.
__ADS_1
Rifal akui. Jika mata milik Adelia memang sangat indah. Mata yang dulu dia sukai sehingga dia jatuh hati pada Adelia dan menembak gadis itu untuk menjadi pacarnya.
Tapi sekarang, mata yang dia kagumi sekarang ada di hadapnya, “gue bakalan jaga mata lo, Del. Ini hadiah terindah dalam hidup gue,” menolog Rifal di depan cermin lalu keluar dari kamar mandi.
Dia mengambil baju tidur di dalam lemari, lepas memakai baju tidur dia menggosok kepalanya menggunakan handuk yang berbeda.
Di liriknya Valen diatas ranjang yang sudah tidak bergeming lagi karna dia sudah tertidur nyenyak, Rifal kembali mengusap rambutnya menggunakan handuk.
Sebenarnya ada pengering rambut, hanya saja dia malas menggunakannya. Rifal berjalan kearah Valen yang sudah tertidur pulas akibat kecapean.
Rifal tersenyum melihat wajah Valen yang sudah tertidur pulas. Hembusan nafas teratur Valen membuat Rifal semakin yakin jika Valen sudah berada di alam mimpinya.
Cup
Satu ciuman mendarat di pipih milik Valen, membuat Valen membuka matanya dengan sayu, antara ingin menutup matanya untuk tidur kembali dan membuka matanya dengan lebar karna di suguhkan pemandangan yang sangat wow.
Dia di suguhkan wajah tampan milik Rifal dengan jaraknya yang sangat dekat. Rifal terkekeh melihat mata Valen yang memaksa untuk melek.
“Lanjut aja tidurnya,” kata Rifal lembut sembari mengusap rambut Valen.
“Peluk,” manja Valen membuat Rifal tertawa.
Rifal langsung membaringkan tubunya di samping Valen, lalu membawa istrinya dalam dekapanya.
Aroma wangi Rifal membuat Valen kembali tidur, Rifal memberinya kenyamanan dalam pelukan membuat Valen nyaman.
“Dia bangun,” bisik Rifal di telinga Valen, Valen tentu saja mendengar dengan samar perkataan Rifal karna dia sudah mengantuk berat.
****
Rifal hanya mengumpat karna Valen rupanya kembali tertidur nyenyak, dia tidak bisa tidur dengan cepat jika posisinya dengan Valen seperti ini tanpa melakukan olahraga malam.
Tangan Rifal bergerak ingin membangunkan Valen untuk memenuhi kebutuhanya, namun dia langsung mengurungkan niatnya karna mengingat jika Valen sangat kecapaen.
Apa lagi sebulan penuh ini Valen mengurus segala kebutuhanya. Rifal menghembuskan nafasnya berat, untuk malam dia membiarkan Valen tidur nyenyak dan dia yang berusaha menahan hasrat yang sangat sulit untuk di tahan.
“Ok, Rifal. Untuk kali ini biarkan dia lolos. Untuk hari berikutnya tidak akan,” menolog Rifal menahan gejolak dalam dirinya.
__ADS_1
Perlahan-lahan Rifal juga tertidur dengan posisinya berpelukan dengan Valen. Valen memeluk erat Rifal seakan-akan tidak ingin melepaskannya.
***
Pagi haripun tiba, Nando yang sedang tertidur lelap di bangunkan dengan alarm ponselnya yang sedari tadi berbunyi.
Dia sangat kecapean. Sebulan lebih dia menghandel pekerjaan kantor tanpa bantuan Rifal membuatnya sangat letih.
Nando dengan terpaksa bangun lalu duduk menyilang diatas kamarnya.
“Capek pake banget!!” ucapannya dengan suara serak sembari meregangkan otot-otot tubunya.
Nando menatap kesal kearah ponselnya yang sedari tadi bunyi karna alarm yanh dia pasang. Nando mengambil ponselnya lalu mematikan alarm ponsel miliknya.
Nando menyeritkan alisnya saat melihat pesan yang di kirimkan oleh Rifal.
“Bukanya Rifal buta? Kok bisa sms saya,” bingungnya.
Dia membuka isi pesan dari Nando, saat membaca isi pesan tersebut Nando langsung melototkan matanya.
“Rifal udah ngelihat?”
Nando langsung menghempaskan selimutnya lalu turun dari tempat tidurnya, dia mengambil handuknya lalu masuk kedalam kamar mandi.
Pesan yang di kirim Rifal semalam membuat rasa ngantuk dalam diri Nando hilang seketika. Dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mandi lalu berangkat kerumah Rifal.
Dia ingin memastikan jika bosnya itu sudah melihat, dan pesan yang tadi menbuat Nando semangat karna gajinya bulan ini menjadi berlipat ganda.
“Semogah aja Rifal yang ngirimin saya pesan,” menolognya sembari memberikan sabun pada tubunya.
Pria itu cepat sekali mandi. Karna hanya beberapa menit saja dia langsung keluar dari kamar mandi lalu menuju lemari mengambil baju.
Pria itu sudah tidak sabaran lagi ke rumah Rifal melihat dengan langsung Rifal. Lepas menggunakan baju kaos dia langsung mengambil kunci mobilnya lalu menuruni anak tangga.
Nando langsung melajukan mobilnya dengan semangat empat lima, sangat bagus bukan jika Rifal sudah melihat, itu tandanya dia tidak perlu menghandel segala pekerjaan di kantor dan hanya mengerjakan tugasnya sebagai tangan kanan Rifal.
Sekira 30 menit berkendara, akhirnya dia sampai di depan gerbang rumah Rifal, dia langsung memasukkan mobilnya di pekarangan rumah.
__ADS_1