Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Gercep


__ADS_3

Sedari tadi Rara hanya mengabaikan Frezan. Bagaimana tidak jika suaminya kemarin berbohong kepadanya mengenai Rendang buatanya.


''Rendang kamu enak, ini pertama kalinya aku makan rendang seenak ini.''


Ucapan manis itu terucap dari mulut Frezan kemarin. Dia memberikan perbuatanya jika rendang buatanya kemarin sangat enak.


Namun ternyata itu hanya palsu saja.


''Sini aku coba.'' Dengan semangat empat lima Rara ingin mengambil rendang tersebut namun Frezan berhasil merebut rendagnya.


''Katanya rendang nya buat aku, kok kamu mau makan?'' tanya Frezan seraya menahan sesuatu yang sangat sulit di jelaskan.


''Emangnya rendang sebanyak itu bisa kamu habisin?'' tanya Rara.


Sesuka apapun Frezan dengan makanan, dia tidak akan makan lebih seperti ini contohnya.


Frezan menatap ragu rendang sebanyak itu, entah berapa kilo di buat oleh istrinya itu.


Frezan mengangguk yakin kearah, Rara. ''Aku bisa. Rendang seenak ini mana mungkin aku nggak habisin, apa lagi buatan istri aku, pasti rasanya semakin enak.''


Rara tersenyum, setidaknya dia berhasil membuat rendang kesukaan Frezan.


''Kamu nggak ke atas lihat anak-anak?'' tanya Frezan membuat Rara menggelengkan kepalanya.


''Anak-anak ada di situ sama, Siska.'' Rara menujuk kearah belakang, dimana Siska dan anaknya bermain tidak jauh dari sini.


Siska berusaha menahan tawa melihata wajah Frezan yang berusaha memakan rendang Rara. Siska sempat penasaran dengan rasa rendang Rara, namun mimik wajah yang di tampilkan Frezan membuat rasa penasarannya terbuang.


''Kamu mau nungguin aku makan?'' tanya Frezan dan dibalas anggukan mantap oleh Rara.


''Aku mau lihat nemenin kamu makan.''


Frezan tersenyum. Lalu menambah rendang lagi kedalam piringnya. Mungkin saja besok dia tidak akan ke kantor memakan rendang buatan Rara yang sangat asinnnnnnnnn.


Istri aku kasi garam ke rendang ini berapa kilo?


Frezan memakan kembali makananya, dia berusaha memakan dengan lahap makanan di hadapanya.


''Enak banget ya, sampai makanya belepotan?'' Rara membersihkan bibir Frezan menggunakan tanganya.


Enak banget sayang, rasa garam.


''Iya sayang, rendang buatan kamu enak banget,'' bohong Frezan seraya tersenyum.


Ada rasa puas tersendiri pada diri Rara melihat Frezan makan dengan lahap makanan buatan sendirinya.


''Besok aku buatin lagi,'' ucap Rara dengan senang.

__ADS_1


Uhuk...Uhuk..Uhuk..


Frezan langsung tersedak makananya saat Rara mengatakan ingin membuatkanya lagi makanan ini besok.


Rara langsung memberikan Frezan air minum, sementara Siska berusaha menahan tawanya.


''Minum dulu. Hati-hati makanya,'' ucap Rara mengusap punggung Frezan.


''Mungkin karna kamu mau buatin aku rendang lagi jadi aku kaget,'' ucap Frezan seraya mengusap rambut Rara. ''Nggak usah buatin lagi ya sayang. Aku nggak mau kamu capek gara-gara buatin aku rendang seenak ini. Cukup kamu di rumah tungguin aku pulang.''


''Aku nggak capek. Lagian aku udah catat bahan yang aku gunain sehingga seenak ini.''


Frezan tersenyum, senyuman yang sangat sulit di jelaskan. ''Yasudah.''


Frezan kembali memakan makananya, Frezan berharap salah Revan menangis dan Kayla memanggil Rara untuk membantunya menangani Revan.


Dan di situlah Frezan akan menyuruh Siska untuk membuang rendang ini tanpa sepengetahuan Rara.


Rara menopang dagu. ''Enak banget ya?'' tanya Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.


''Untung aja resepnya udah aku catat. Jadi aku nggak perlu bantuan Siska lagi,'' ucap Rara dengan senang.


''Kamu simpan resepnya di mana?'' tanya Frezan. Dia akan merobek resep sialan itu.


Jangan sampai Rara kembali membuatkanya rendang dengan resep yang sama, sudah di pastikan jika Rara mengulanginya dia akan masuk rumah sakit karna sakit perut.


Frezan mengangguk paham, sebentar malam dia akan merobek resep itu.


Frezan menarik nafasnya dalam, Rara membelakangi dirinya diatas tempat tidur. Rasanya tidak enak dengan posisi seperti ini.


''Aku minta maaf, sayang,'' ucap Frezan dengan tulus.


Semalam dia ketahuan oleh Rara tengah merobek resep itu.


''Kak Eza, kok resepnya di robek?''


Frezan mematung saat melihat istri kecilnya itu menatap dirinya dengan dua bola mata yang mengenang.


''Apa jangan-jangan rendang tadi sore nggak enak? Tapi kamu maksa buat makan.'' Akhirnya air mata Rara tumpah.


Entah mengapa istrinya itu bangun jam 1 dini hari.


''Nggak gitu, sayang.''


''Nggak gitu gimana, kamu udah sobek resep rendang aku.'' Rara mengusap air matanya.


Padahal dia bangun tengah malam begini untuk mengecek apakah daging sapi masih ada di kulkas atau tidak.

__ADS_1


Wanita itu sangat ambigu bangun tengah malam hanya untuk mengecek daging sapi.


Diamnya Frezan membuat Rara paham jika Frezan hanya terpaksa mengabiskan rendang yang entah seburuk apa rasanya.


Frezan memeluk Rara dari belakang, namun berulang kali Rara melapskan pelukan Frezan membuat pria itu bernafas berat.


''Aku nggak mau ngecewain kamu. Makanya aku makan rendang itu sampai habis. Kamu udah masak sesusah itu dan dengan gampangnya aku bilang nggak enak.''


''Apa susahnya bilang nggak enak,'' ketus Rara.


''Ra..''


''Aku nggak mau ngomong sama kak Eza.'' Rara langsung menyelimuti tubunya dengan selimut.


''Aku beneran minta maaf.''


Rara hanya mengabaikan ucapan Frezan.


***


Sore ini Nathan dan Lea berkunjung di salah satu toko berlian di Jakarta yang terkenal dengan perhiasan terbaiknya.


Nathan sangat gercep, sehingga dia langsung melamar Lea saat berkunjung kerumah Lea saat itu.


Untung saja Novi memberikan kepercayan kepada Nathan untuk menjaga Lea. Karna bagaimanapun Lea masih bersikap layaknya anak remaja.


Namun Nathan sangat yakin dan kekeh untuk menikahi Lea dengan cepat. Biaya kuliah Lea nanti Nathan yang akan mengurusnya.


Biaya dan kebutuhan Lea akan di biayayai sepenuhnya oleh Nathan. Sehingga Novi tidak perlu mengkhawatirkan ini lagi.


''Apa nggak secepat ini?'' tanya Lea kepada Nathan yang tengah memasangi dirinya cincin, mencoba cincin yang pas untuk dirinya.


Nathan menatap wajah Lea setelah cincin itu masuk di jari Lea. ''Kamu nggak yakin nikah sama aku?'' tanya Nathan.


''Aku yakin sama dokter Nathan. Hanya saja Lea takut nggak becus lakuin hal yang menjadi tanggung jawab Lea kelak, kalau Lea udah nikah sama dokter Nathan.''


''Cukup jadi istri yang selalu menenangkan hati bila suami pulang kerja.''


Nathan berkata seraya mengeluarkan cincin berlian di jari Lea. ''Saya pesan cincin ini.''


Pegawai itu mengangguk lalu menyiapkan pesanan Nathan.


''Aku bisa membahagiakan kamu sampai nafas ini tidak ada lagi.''


Lea mengangguk. ''Dokter Nathan nggak bakalan cari wanita lain, kan, kalau Lea nggak bisa nyapu bersih.'' Jujur saja, setiap Lea menyapu rumahnya Novi selalu memprotes karna Lea mengaku menyapu rumah namun masih banyak debu belum gadis itu sapu.


Nathan tersenyum seraya mengusap rambut Lea.'' Saya mencari istri bukan pembantu.''

__ADS_1


__ADS_2