Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Yatim piatu?


__ADS_3

Pukul 9 malam.


Para dokter berjalan dengan cepat menuju ruangan seorang pasien.


''Cepatlah!''


Intruksi dokter Zul dengan keringat bercucuran di wajahnya saat ini.


‘’Kemana dokter Nathan?''


''Aku tidak tau!'' balas dokter Kiki yang tidak tau kemana dokter Nathan sekarang.


Dokter Zul dan juga Dokter Kiki berjalan dengan cepat menuju ruangan seseorang.


Ceklek


Saat membuka pintu, ruangan sudah di hiasi dengan suara isakan tangis dari anak kecil.


''PAPAH!''


''JANGAN TINGGALIN, AGRIF, PAH!''


''PAPAH, BANGUN!''


Kiki dan juga dokter Zul mematung di ambang pintu. Di ruangan Daniel sudah ada dokter Nathan bersama dengan beberapa perawat.


''Dia meninggal.''


''PAPAH!''


Dokter Kiki dan juga dokter Zul saling berpandangan.


''Kita telat.''


Lea yang sedari tadi menahan tubuh Agrif untuk tidak megamuk, perlahan-lahan dia lepaskan saat dokter Nathan megatakan kata meninggal.


Agrif langsung berlari cepat menuju bansal Daniel.


''PAPAH, AYOK BANGUN!''


Agrif terus mengguncang tubuh Daniel yang sudah tidak bernyawa lagi. Sementara Lea sudah jatuh tersungkur di bawah lantai.


''Apa Agrif sudah menjadi anak yatim piatu?'' Lea menatap nanar kedepan.


Belum selesai kabar duka yang dia dengarkan, kini dia di hadapkan oleh duka. Kenapa ujian ini datang bertubi-tubih?


Bibi menghampiri Agrif yang mengguncang tubuh Daniel untuk segera bangun.


‘’Allah lebih sayang, papah kamu, nak.'' Bibi datang memeluk Agrif dengan deraian air mata.


''BI, AGRIF MAU PAPAH, BANGUN!''


Berontak anak itu dalam dekapan bibi, Lea tidak tau harus bagaiamana lagi dalam kondisi seperti ini.


Kakak cantik maukan jadi mamah sambung untuk Agrif?


Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam kepala Lea. Air matanya jatuh begitu deras, dia menundukkan kepalanya seraya menangis.

__ADS_1


''Apa kita hubungi Frezan sekarang?'' tanya dokter Zul kepada Nathan.


‘’Seharusnya begitu, bagaimanapun kabar ini harus di beritahukan kepada Frezan,'' sahut Kiki yang sedari tadi melihat Agrif mengamuk untuk di bangunkan Daniel untuknya.


''Frezan sudah di jalan, menuju kesini,'' ucap Nathan.


Dokter Zul dan Kiki berjala mendekati Agrif, guna menghibur anak itu.


Nathan melihat Lea sedang menagis di bawah lantai. Dia menyimpan stetoskop di tanganya lalu menghampiri Lea.


Lea yang merasakan langkah seseorang menghampirinya mendongakkan kepalanya. Baru sore tadi dia katakan, jika sekarang dia tidak ingin bertemu Nathan.


Namun malam ini, Nathan datang memeluknya.


Yah, Nathan memeluk Lea saat ini, tanpa gadis itu minta Nathan memeluknya.


''Siapa yang akan menemani Agrif, dokter Nathan!'' tangis Lea dalam pelukan Nathan.


''Hiks....!''


Lea semakin menangis dalam dekapan Nathan, saat melihat Agrif mengamuk kepada kedua dokter di hadapnya untuk di bangunkan Daniel.


''Agrif!'' panggil Lea dengan suara kecilnya namun mampu membuat Agrif menengok Lea.


Anak itu semakin menagis, melihat Lea juga menangis. Lea melapskan pelukanya dari Nathan lalu berdiri.


Dia merentangkan kedua tanganya, dengan cepat Agrif berlari kearah Lea.


''KAKAK CANTIK, PAPAH.....!!!''


Lea memeluk Agrif dengan erat, seakan-akan berusaha menyalurkan kekuatan kepada Agrif untuk tenang.


Setelah berbulan-bulan Daniel koma, garis finish pria itu adalah kematian.


Agrif melepaskan kain putih yang menutupi wajah papahnya, sementara Kiki sudah keluar dari ruangan ini.


Dia tidak bisa tinggal lama di sini, bisa-bisa air matanya akan habis jika melihat Agrif secara terus-terusan meminta mereka untuk membangunkan orang yang sudah tidak ada.


''PAPAH.....HIKSSS!!!!!


Lea memejamkan matanya melihat wajah tampan Daniel sudah terbujur kakuh.


Dia sudah pergi meninggalkan anaknya, wajahnya yang pucat seperti seseorang yang tersenyum atas takdirnya saat ini.


''Kenapa om cepat pergi? Siapa yang jagain Agrif, om? Lea sungguh tidak bisa!'' tangis Lea masih memeluk Agrif.


Dia tidak tau, bagaiamana kedepanya dengan ini. Seharusnya dia tidak bermain terlalu jauh hingga sampai kesini.


''PAPAH, NGGAK LAMA LAGI AGRIF TERIMA RAPOR, TAPI KENAPA PAPAH PERGI!''


Bruk


Lea terjatuh pingsan, dia tidak bisa menahan bebanya saat ini. Dia tidak tau, harus melakukan apa jika ini sudah berlalu.


Nathan dengan cepat menggendong Lea menuju sofa. Perawat berusaha membangunkan Lea dengan memberikan minyak kayu putih, itu semua perintah Nathan.


''PAPAH, BANGUN! ORANG ITU JAHAT SAMA PAPAH, HINGGA PAPAH HARUS IKUT MAMAH!''

__ADS_1


Frezan sudah berada di ambang pintu, ruangan Daniel sudah di hiasi suara isakan tangis dari Agrif.


Nathan yang melihat saudaranya langsung menghampiri Frezan.


''Bagaiamana bisa, Nath?'' tanya Frezan tanpa mengalihkan pandanganya dari sosok Agrif yang menangis kencang.


''Aku juga tidak tau,'' ucap Nathan. ''Padahal, kemarin aku memeriksa Daniel dan ada kemajuan. Tapi jam 8 lewat tadi, tiba-tiba saja imunya menurun.''


‘’Apa tidak ada yang merencanakan ini semua?'' tanya Nathan karna berita ini tiba-tiba.


Padahal dia sudah bernafas legah, jika kondisi Daniel sudah mengalami perubahan.


Tapi, malam ini dia mendapatkan kabar buruk mengenai Daniel.


Nathan menggelengkan kepalanya. ''Ini murni, Za. Tidak ada gangguan dari orang lain.''


Huft


Nathan menghembuskan nafas berat, seseorang yang menemaninya dari SMA, kini telah kembali. Sosok Daniel yang mengurus caffe milik Frezan saat itu.


Hingga dia menikah, dia menjadi tangan kanan Frezan karna tidak bisa selalu stay di caffe.


‘’Padahal, aku sudah berjanji pada anaknya. Jika papahnya akan bangun, sekarang aku berbohong pada anak kecil itu,'' ucap Nathan menatap Agrif yang memeluk erat Daniel.


''Aku memikirkankanya, Nath. Kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi.''


Nathan tidak tau lagi, harus berbicara seperti apa.


Frezan berjalan menghampiri Daniel yang sudah terbaring kakuh.


''Kamu orang baik, Niel,'' bisik Frezan di telinga Daniel dengan suara serak.


''Aku akan mengurus segala keperluan anak mu, aku akan menganggapnya seperti anak ku sendiri.''


''Kamu tenang di sana, anak mu Aman di sini.'' Air mata Frezan jatuh begitu saja.


‘’Selamat tinggal orang baik. Kebaikan mu akan selalu ku kenang. Agrif akan Aman di sini.''


Frezan langsung memeluk Agrif, sehingga anak itu semakin memberontak dalam dekapan Frezan.


''OM, AGRIF MAU PAPAH BANGUN!''


''NGGAK LAMA LAGI AGRIF NAIK KELAS DAN TERIMA RAPOR DI SEKOLAH!''


''SIAPA YANG AKAN AMBILIN RAPOR AGRIF OM!''


Frezan mengusap air mata Agrif.


‘’Ada om yang akan ambilin rapor kamu di sekolah,'' ucap Frezan.


Zul yang sedari tadi mendengar Agrif mengatakan rapor menjadi semakin teriris. Setiap penaikan kelas, tentu saja orang tua dagang mengambil rapor anak masing-masing.


''AGRIF MAUNYA PAPAH DANIEL!''


''AGRIF MAU PAPAH BANGUN!''


''PAPAH, MAMAH UDAH NINGGALIN AGRIF, KENAPA PAPAH JUGA NINGGALIN AGRIF!''

__ADS_1


Akhirnya Frezan membiarkan tubuh mungil Agrif lepas dari pelukanya, lalu memeluk Daniel dengan erat.


__ADS_2