
Nathan kembali ke rumah sakit, setelah mengantar Lea pulang kerumah mamah Novi. Nathan sudah kembali kw rutinitasnya setelah mereka sudah fighting gaun pengantin dan gaun yang akan di kenakan Lea saat lamaran nanti.
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa satu minggu lagi akan ada acara pelamaran di rumah Lea.
Nathan akan melepas masa lajangnya menikahi sosok gadis yang sudah mengejar cintanya saat pertama kali Lea praktek di rumah sakit ini.
''Ada yang senyum-senyum nih karna sebentar lagi lamaran dan melepas masa lajangnya!'' celetuk dokter Zul kearah Nathan.
Saat ini, mereka sedang berada di kantin rumah sakit. Nathan dan Zul tengah makan bakso.
Nathan melirik Zul. ''Kau juga buruan lamar dokter Kiki. Kau pikir usiamu masih muda? Ingat dokter Zul, usia kita beda tipis!'' Nathan tertawa kecil membuat Zul menggelengkan kepalanya.
Karna apa yang di katakan Nathan barusan itu adalah suatu fakta untuk dirinya.
''Apa Kiki belum memberimu kejelasan?'' tanya Nathan memasukkan bakso kedalam mulutnya.
Zul mengangguk seraya menggeleng membuat Nathan pusing sendiri.
''Maksudmu?''
Zul menarik nafasnya dalam. ''Dokter Kiki kasi aku satu fakta yang yang buat aku harus menimbang-nimbang, apakah aku bisa menerima dirinya atau tidak,'' lesuh Zul membuat Nathan kembali bingung.
''Bukanya kata-kata itu seharusnya Kiki yang gunakan?'' Nathan kembali tertawa.
''Aku serius, Nath.''
Nathan meredahkan tawanya.
''Masalahnya apa?'' Nathan melanjutkan pertanyaanya seraya menyeruput es jeruknya.
Zul menatap Nathan dengan wajah kasar. ''Dokter Kiki punya anak satu.''
Nathan terdiam!
Itu berarti...
''Itu berarti dokter Kiki punya suami? Dan kau ingin melamar dirinya?'' Nathan menggeleng tak habis pikir dengan rekan kerjanya itu.
''Aku belum selesai bicara, kau sudah memotongnya!'' Zul nampak kesal.
''Ok lanjutin,'' ujar Nathan santai.
''Dokter Kiki udah pisah sama suaminya.''
''Dia janda?''
Zul mengangguk dengan apa yang Nathan ucapkan, karna kenyataannya memang seperti itu. Jika Kiki adalah seorang janda anak satu. Penampilannya seperti gadis tapi ternyata...
''Kau tau ini kapan?''
__ADS_1
''Tiga hari yang lalu, dokter Kiki sendiri yang megatakan padaku. Jika ia mempunyai anak dan berstatus janda. Singel Mom.''
Nathan menganguk.
''Selain itu, ada yang dokter Kiki katakan lagi?'' tanya Nathan.
Pantas saja beberapa hari ini Zul nampak murung.
Tiga hari ini juga, Nathan tidak melihat dokter Kiki dan Dokter Zul ke kantin bersama. Saat mereka berdua tugas, mereka berdua hanya bicara seperlunya seperti sepasang kekasih sedang marahan.
''Dokter Kiki bilang, aku harus nerima dia apa adanya jika aku ingin melamar dirinya. Dan yang paling utama kata dokter Kiki, aku harus terima anaknya juga dengan senang hati.''
''Saat aku mau melamarnya, dia memberikan pernyataan ini padaku. Membuat aku pusing. Apakah aku harus terus atau berhenti sampai sini.'' Keluh dokter Zul membuat Nathan mengangguk.
''Apakah kau mencintai dokter Kiki dengan tulus?'' tanya Nathan menaikkan alisnya sebelah.
Dokter Zul mengangguk mantap, karna memang ia mencintai dokter Kiki dengan tulus.
Nathan tersenyum dengan anggukan yang diberikan oleh Zul.
''Seharusnya ketulusan mu itu tidak membuat mu ragu, dengan apa yang di miliki Dokter Kiki. Dan seharusnya ketulusan mu itu tidak membuat mu mundur meskipun dokter Kiki adalah singel Mom.''
''Jika kau benar-benar tulus mencintai seseorang, latar belakang bukan masalah untukmu mencintainya dan terus berjuang untuknya. Ingat, Zul. Ketulusan seseorang bisa menerima latar belakang orang yang ia cintai.''
''Sekarang kau hanya tinggal membuktikan, apakah kau benar-benar tulus mencintai dokter Kiki atau hanya sebuah rasa penasaran saja.''
''Kau mau kemana?'' tanya Nathan melihat Zul beranjak dari kursi yang mereka tempati.
''Menemui dokter Kiki, kalau aku benar-benar tulus padanya.'' Lepas itu Zul pergi meninggalkan Nathan membuat Nathan tersenyum.
''Semogah berhasil!'' teriak Nathan dan dibalas acungan jempol oleh Zul.
Saat ini Zul sedang berjalan di koridor rumah sakit untuk mencari seseorang.
''Dokter Kiki kemana?'' decak Zul yang tidak melihat dokter Kiki berkeliaran di sini.
Senyuman terbit di wajah Zul saat melihat dokter Kiki sedang tersenyum menyapa pasiennya yang menggunakan kursi roda.
''Dokter Kiki!'' teriakan Dokter Zul mampu membuat pasang mata terarah padanya. Apa lagi ini koridor rumah sakit.
Tempat keluarga pasien, perawat dan dokter berlalu lalang.
Dokter Kiki membalikkan tubuhnya dan melihat Dokter Zul yang tidak jauh dari dirinya.
''DOKTER KIKI, MAUKAH KAMU MENIKAH DENGAN KU? AKU TULUS PADAMU!'' Zul menyimpan kedua tanganya di di dekat mulutnya seraya berteriak, seperti Tarzan di tengah hutan.
Kiki terdiam!
Tepuk tangan meriah di koridor rumah sakit menggemah, saat dengan terang-terangan Zul melamar dokter Kiki.
__ADS_1
''TERIMA!'' Suara itu milik orang-orang yang menyaksikan Zul berteriak melamar Kiki.
''Ayo dong dokter Kiki terima.'' sahut mereka semua.
Kiki tersenyum, bulir air mata jatuh di pipihnya. Dia tidak menyangka selama tiga hari seperti asing dengan Dokter Zul, akhirnya pria itu kembali melamar dirinya, setelah dia mengatakan jika ia adalah singel Mom.
Dokter Kiki menganggguk. ''Aku mau!''
Suara tepuk tangan semakin menggemah saat dokter Kiki menjawab.
''Yes!'' Zul langsung menghampiri Zul.
Untung saja Nathan memberinya kata bijak, sehingga pikiranya terbuka. Jika ia memang tulus kepada Kiki. Latar belakang Kiki bukan masalah baginya.
Kiki dan Zul saling bertatapan, Zul mengeluarkan cincin di saku jasnya. Untung saja dia selalu membawa cincin tersebut.
Karna ucapan Nathan, dia tidak ragu melamar Kiki untuk menjadi istirnya, karna ia sempat ragu. Namun berkat ucapan Nathan, ia menghempaskan keraguannya itu.
Zul memegang tangan Kiki, lalu memasukkan cincin bermata berlian di jari manis Kiki.
''Aku tidak perlu membelikan mu jam, karna semua sudah terjawab.'' Zul mencium punggung tangan Kiki.
Zul mengusap air mata Kiki. Dia tidak tau bagaiaman perjalanan dokter Kiki menjadi singel Mom menjaga anaknya tanpa bantuan seorang suami.
Zul langsung memeluk dokter Kiki membuat tepuk tangan kembali tercipta.
''Makasih udah nerima aku apa adanya,'' tangis Kiki.
Rasanya sangat mustahil dokter Zul menerima dirinya , namun sekali lagi ketulusan akan menutupi itu semua.
''Seharusnya aku berterimakasih. Karna kamu ingin menerima lamaran ku. Andai kamu tidak menerimanya mungkin aku malu saat ini di saksikan banyak orang!'' tawa Zul membuat Kiki juga terkekeh.
Mereka berdua melepaskan pelukanya, karna merasa tidak enak karna mereka masih berada di lingkungan rumah sakit.
''Nanti acara peluk-pelukanya kita lanjutin.''
Kiki hanya tertawa dengan apa yang di ucapkan Zul barusan. Maksudnya pelukan mereka di pending dulu, begitu?
Nathan tersenyum, ia juga melihat bagaimana Zul melamar Kiki. Bahkan ia juga ikutan bertepuk tangan.
Nathan sudah merekam Zul dan Kiki. Dia akan mengirimkan video ini kepad Lea. ‘’Berbagi Kebahagian dengan calon istri,'' ucap Nathan seraya tersenyum.
Ia membuka ponselnya lalu mengirimkan rekaman itu kepada Lea, setelah pesan tersebut terkirim Nathan memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.
''Kalau pelamaran nanti, gue bakalan nyuruh kak Eza percepat tanggal pernikahnya. Jangan sampai dokter Kiki dan Zul gercep,'' Nathan tertawa kecil.
''Yah...pulang dari rumah sakit nanti gue bakalan bilang sama kak Eza. Pasti dia bakalan mengerti.'' Senyuman mengambang di wajah Nathna.
Dia tidak mau jika Zul dan Kiki mendahuluinya. Bisa-bisa Zul akan menertawai dirinya.
__ADS_1