
Lea dan Valen langsung melirik Rifal yang sedang menuruni anak tangga dengan baju kaos yang dia kenakan, serta celana abu-abu sampai lutut.
Rifal langsung mengahampiri kedua perempuan itu, karna merasa sedang ditatap begitu dalam oleh Lea dan juga Valen.
"Om Rifal," panggil Lea.
"Om Rifal 'kan yang makan es kelapa didalam kulkas?" hardik Lea membuat Rifal menatapnya dengan santai.
"Emangnya kenapa?" bukannya menjawab, Rifal malah balik bertanya kepada Lea.
"Itu tuh es kelapa punya dokter Valen," kata Lea membuat Rifal menatap Valen sejenak.
Sejak kapan Valen menyukai es kelapa?
"Gue yang makan es kelapa di kulkas," ucap Rifal dengan santai membuat Valen melototkan matanya kearah Rifal.
"Lo apa-apaan sih!" geram Valen membuat Rifal tersentak kaget dengan suara Valen tadi.
"Ganti, nggak?" tuntut Valen membuat Rifal menatap Valen dengan heran.
"Apa?"
"Es Kelapanya," terang Valen kepada Rifal.
Rifal mengeluarkan handponenya, sebelum menekan nomor yang ingin dia telfon, Valen lebih dulu menghentikan pergerakan tangan Rifal.
"Gue mau lo yang ambil kelapanya secara langsung!" perintah Valen mengambil dan menyimpan handpone Rifal. Sampai-sampai Rifal tidak sadar jika handponenya sudah tidak ada ditangannya lagi.
"Mak-" belum sempat Rifal menyelesaikan perkataannya, Valen lebih dulu memotongnya.
"Es kelapa yang lo makan tadi, langsung Lea petik dari pohon," kata Valen melirik Lea yang memperhatikan mereka dari tadi.
Rifal tersenyum simpul, "mana mungkin Lea bisa panjat pohon kelapa," ejek Rifal membuat Lea bersedekap dada kearah Rifal.
"Bukan Lea yang panjat Kelapanya," kata Lea kepada Rifal, "tapi dokter Nathan," sambungnya membuat senyuman mengejek diwajah Rifal langsung luntur begitu saja, saat Lea mengucapakan nama Nathan.
"Jadi, om Rifal harus petik buahnya secara langsung. Nggak kasihan apa lihat perjuangan dokter Nathan ambilin dokter Valen kelapa," kata Lea lagi membuat gejolak dalam dada Rifal meronta.
Hampir satu bulan lamanya, Valen dan Rifal tidak bertukar sapa karna perihal nasi goreng saat itu yang membawa nama Nathan.
Dan sekarang, Lea mengucapakan nama Nathan.
"Om Rifal masa kalah sih sama dokter Nathan turutin keinginan dokter Valen," ejek Lea membuat Rifal melirik jam tangannya masih pukul empat sore.
"Gue bakalan ambilin kelapa buat Valen," kata Rifal lalu pergi dari rumah dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Sementara Valen langsung melihat kearah Lea, "Jadi, yang ambil kelapa Dokter Nathan?" tanya Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
__ADS_1
"Nggak mungkin kan kalau Lea yang panjat pohon kelapanya," kata Lea yang ada benarnya juga.
"Dokter Nathan mana?" tanya Valen kepada Lea.
"Udah pulang," balas Lea, "dia mau ketemu tadinya sama dokter Valen, tapi dokter Valen tidur."
Valen hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lea.
***
Rifal masih menatap pohon kelapa yang akan dia panjat. Pohon kelapa yang begitu menjulang tinggi keatas.
Ini pertama kalinya untuk memanjat pohon kelapa, atas perintah seseorang. Dan bodohnya lagi, dia langsung melaksanakannya.
Huft
Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut pria itu, dia tidak tau apa jadinya jika ada bawahnya yang melihat dirinya memanjat pohon kelapa.
Wibawanya sebagai CEO di perusahaan akan tercoreng jika ada yang melihat dirinya saat ini.
Sekitar tiga menit berpikir, akhirnya pria itu memutuskan untuk memanjat pohon kelapanya.
Rifal melihat kiri dan kanannya, dia tidak mau jika ada yang melihat dirinya disini.
Tiga puluh menit berlalu, Rifal telah menjatuhkan buah kelapa sebanyak dua. Dia membuka baju kaos yang dia kenakan karna keringat bercucuran dipelipisnya.
Handphone milik Rifal bergetar, sehingga pria itu melihat siapa yang menelfonnya.
"Valen," gumam Rifal melihat nama yang terterah dilayar handponenya nama Valen.
Pria itu menekan tombol hijau untuk mengangkat telfonnya.
"Ap-"
Belum sempat Rifal menyelesaikan perkataannya, Valen lebih dulu memotong pembicaraan Rifal.
"Dalam waktu sepuluh menit, lo belum bawa kelapanya. Jangan harap lo masuk kedalam rumah."
Lepas mengatakan itu ditelpon, Valen langsung mematikan handponenya secara sepihak sehingga membuat Rifal mencernah keadaan ini.
Dia ingin mengomeli Valen karna telah berani menyuruhnya untuk memanjat pohon kelapa. Tapi, ini sebaliknya, dimana Valen yang mengomeli Rifal tanpa membiarkan pria itu meneruskan perkataannya.
Dan tadi, apakah Rifal tidak salah dengar? Jika sosok Valen telah mengancam dirinya.
Dengan rasa kekesalan pria itu berdiri dan mengambil dua buah kelapa yang dia panjat penuh kesusahan. Dia harus sampai sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh Valen.
Entah mengapa, cowok itu mau-mau saja menurut dengan apa yang dikatakan oleh Valen telpon tadi. Buktinya saja dia tidak ingin sampai terlambat dan melajukan mobilnya meninggalkan lokasi tempatnya memanjat pohon kelapa.
__ADS_1
Rifal memasuki pekarangan rumahnya, tak lupa pula dia berjalan cepat membawa dua buah kelapa.
Deg
Entah mengapa, jantung Rifal berdetak kencang melihat Valen berada diambang pintu dengan wajah garangnya.
Valen bersedekap dada menatap Rifal dengan tatapan horornya. Dia melirik pergelangan tangannya mengecek jam lalu kembali menatap Rifal dengan tatapan sangar yang dia miliki.
"Lea," panggil Valen membuat Lea langsung berjalan cepat kearah suara. Entah mengapa dia merasa jika akhir-akhir ini Valen berubah sikap.
"Kelapanya kamu bawa ke dapur," kata Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
"Sini kelapanya, om," kata Lea.
Rifal menyerahkan dua kelapa yang dia bawah kepada Lea.
"Lo lambat satu menit," kata Valen membuat Rifal menyeritkan alisnya heran.
"Gue capek, gue mau mandi," kata Rifal melewati Valen. Namun, dengan cepat Valen mencekal pergelangan tangan Rifal.
Rifal melihat tangannya dicekal oleh Valen sehingga mereka berdua saling bertatapan lagi.
Valen melepaskan tangan Rifal.
"Lo lambat, dan seenaknya lo mau main pergi aja," kata Valen dengan suara pelanya namun mampu membuat Rifal merasakan jika sikap Valen berubah saat ini.
"Mulai malam ini." Valen menjeda perkataannya membuat Rifal semakin penasaran dengan lanjutan perkataan Valen.
"Jan-"
"Hust."
Valen langsung menempelkan jari telunjuknya dibibir Rifal sehingga membuat keduanya saling bertatapan.
"Nggak ada bantahan," kata Valen menekan setiap perkataannya.
Valen meninggalkan Rifal diambang pintu membuat Rifal tidak tau kemana arah pikiran Valen saat ini.
Apakah Rifal bisa menafsirkan jika kelakuan Valen akhir-akhir ini sangat berubah? Bukan hanya Rifal saja merasakan perubahan Valen, tapi Lea Pun merasakan jika Valen berubah dari segi sikap.
Valen menaiki anak tangga lalu membalikkan badannya, dia masih melihat Rifal masih menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit dia artikan.
Jujur saja, Valen tidak tau keberanian dari mana yang dia dapatkan ini sehingga membuatnya berani mengancam dan menghukum sosok Rifal.
"Ini rumah gue, lo cuman menumpang," kata Rifal pelan namun setiap perkataannya mempunyai makna tersendiri.
Valen tersenyum manis kearah Rifal.
__ADS_1
"Tapi gue istri lo, gue berhak dengan apa yang lo punya."