
Dokter Nathan dan Zul sudah pamit untuk kerumah sakit kembal. Dokter Zul naik taxi pulang sesuai yang dia katakan jika dia akan menggunakan taxi pulang.
Karna Lea dan Nathan akan singgah untuk makan siang. Dokter Zul sempat kesal kepada Nathan karna dokter tampan itu sama sekali tidak menawarkan dirinya untuk makan bersama.
Sekalipun dokter Nathan mengajaknya, dia juga akan menolak karna dia tidak ingin menggangu momen antara Lea dan Nathan.
Tapi...Setidaknya ajak dirinya.
Dari balkon kamar Rifal, Nando melihat dokter Nathan membukakan pintu mobil untuk Lea.
''Makasih,'' ucap Lea sebelum masuk kedalam mobil.
Lea yang ingin langsung masuk langsung terhenti, saat melihat keatas ada Nando yang sedang menatap dirinya dengan bersedekap dada.
Dan terjadilah lagi, tatapan mata antara Nando dan Lea. Kali ini, Nando tidak tersenyum sama sekali kearah Lea.
Membuat gadis itu memaksa bibirnya untuk tersenyum, karna Nando tidak senyum kepadanya.
Dan Nathan kembali melihat kearah yang di lihat, dia kembali melihat momen ini yang kedua kalinya dalam sehari.
“Tadi di kamar, sekarang di sini lagi.” Nathan membatin.
''Lea,'' panggil Nathan.
''Eh…iya dok,'' jawab Lea kembali gelagapan sama seperti tadi.
''Jangan lama-lama berpandangan, banyak pasien yang menunggu kita,'' tegur dokter Nathan membuat Lea cengengesan.
''Lea pikir dokter Nathan cemberu, heheh,'' ucap Lea.
''Tidak!'' jawabnya dengan cepat lalu Nathan berjalan menuju kursi pengemudi untuk masuk lebih dulu.
Lea kembali mendongakkan kepalanya melihat Nando masih sama dengan posisi yang tadi.
Lea melambaikan tanganya dari bawah dan tersenyum manis kearah Nando membuat pria diatas balkon itu tersenyum tipis yang tidak bisa Lea lihat.
Lea masuk kedalam mobil lalu menutup pintu mobil. Nathan langsung menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan pekarangan rumah Rifal.
''Apa kau tidak tau, Lea. Kalau saya benar-benar jatuh pada pesona mu,'' hembus Nando. ''Banyak wanita yang mendekati saya, tapi mengapa bocah ingusan sepertimu yang memenangkan hati ini.''
''Tapi sudahlah, yang tampan akan kalah sama orang yang kau sukai,'' lesuhnya.
Nando membalikkan tubuhnya, dia langsung tersentak kaget saat melihat Rifal menatapnya dengan tatapan yang sangat datar.
__ADS_1
Sejak kapan pria itu sudah bangun?
Posisinya sudah bersandar di sandaran tempat tidurnya.
''Fal.'' Nando berjalan kearah Rifal.
''Kau sudah bangun dari tadi?'' tanya Nando menghampiri Rifal.
Rifal menatap Nando dengan tatapan tajam, Nando bisa melihat sisi lain dari Rifal yang sangat menakutkan.
''Kel—''
''Kau pasti ingin mengusir ku, kan? Tanpa kau usir saya akan pergi,'' cemooh Nando melenggang pergi meninggalkan Rifal.
Padahal, dia sangat ingin mengobrol dengan pria itu, agar dia berbagi sedihnya dan tidak memendam dengan sendirian.
Rifal menatap punggung kokoh Nando. Sebelum menutup pintu kamar Rifal, Nando bertatap dengan Rifal lebih dulu.
Nando mengepalkan tanganya keatas tanda memberikan semangat kepada Rifal, lepas itu Nando menutup pintu kamar Rifal.
Nando berpapasan dengan Aska di anak tangga, dia berniat ingin mengatakan jika Rifal sudah bangun. ''Dad, Rifal sudah sadar,'' ucap Nando kepada Aska.
''Daddy tau,'' jawab Aska santai membuat Nando menaikkan alisnya sebelah.
''Daddy tau dari mana?'' tanya Nando.
''Itu berar—''
''Daddy lihat kamu di balkon kamar Rifal. Ternyata bertatapan dengan Lea,'' potong Aska dengan cepat. ''Daddy tau karna rasa penasaran Daddy. Jadi, Daddy turun ke bawa untuk melihatnya,'' Aska tertawa kecil membuat hNando menjadi malu sendiri.
''Kamu menyukainya?'' tanya Aska dengan rasa penasaran.
''Suka,'' jawabnya jujur. ''Tapi susah buat di gapai.''
Aska lagi-lagi tertawa dengan jawaban Nando. ‘’Kamu, kan, tampan.''
Nando tertawa receh. ''Yang tampan akan kalah sama yang dia suka,'' jawab Nando mantap.
‘’Lea sudah punya pacar?''
''Masih calon pacar,'' jawab Nando.
‘’Daddy jadi penasaran,'' Aska manggut-manggut.
__ADS_1
‘’Daddy kenal sama dia. Dia penyelamat orang sakit,'' senyum Nando.
Aska menaikkan alisnya sebelah terlihat berpikir. ''Siapa?''
''Dokter Nathan,'' jawab Nando dengan lesuh.
Aska tertawa, tentunya tawa Aska membuat Nando menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
''Ohhhh, dokter Nathan. Pantas saja kamu tidak bisa mendapatkanya.'' Aska menggelengkan kepalanya dengan sisa tawanya.
''Udah Nando bilang, yang tampan akan kalah sama orang yang dia sukai.''
Aska mengangguk setuju dengan perkataan Nando.
''Kita mengobrol di bawa, Daddy juga suntuk tidak tau mau buat apa,'' ucap Aska.
Nando mengganguk lalu mereka berdua menuruni tangga untuk menuju ruang tamu, tadinya Aska ingin ke kamar namun berpapasan dengan Nando membuatnya mengurungkan niatnya.
''Apa Daddy tidak punya kegiatan lain di Jakarta?'' tanya Nando.
Nando tidak tau betul apa sebenarnya pekerjaan Aska saat ini. Tapi setau Nando, Aska sangat pandai dalam urusan kantor.
Yah, dia baru tau itu saat obrolannya waktu kemarin dengan Aska, saat Aska menyuruh Nando kembali menghandel kantor.
''Daddy hanya rindu suasana kampung,'' jawab Aska. ''Untuk usia Daddy sudah tidak cocok lagi di sini. Masanya sudah habis. Daddy lebih suka di kampung sekarang karna disana Dady berkebun dan bertemu dengan masyarakat yang sederhana dan berjuang demi sesuap nasi. Tidak seperti di Jakarta, hampir seluruh pamer harta,'' canda aska namun ucapannya memamg benar
Aska dan Nando mengobrol bersama menceritakan pengalaman mereka masing-masing dan Aska bercerita masa SMA nya kepada Nando.
***
Mobil Nathan singgah di salah satu restoran yang sedikit jauh dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan tadi tidak ada obrolan antara mereka berdua.
Lea sempat berpikir jika Nathan tidak akan mengajaknya makan, karna dari wajah Nathan saat di mobil sangat tidak mood untuk diajak ngobrol.
Namun pikiran Lea salah, karna saat ini mobil Nathan parkir di salah satu restoran favoritnya.
Nathan turun dari mobil begitupun dengan Lea. Mereka berdua belum mengobrol sama sekali sampai jalan masuk kedalam restoran.
Lea mengekori Nathan dari belakang. Dokter Nathan sudah memesan ruangan VVIP untuk makan bersama dengan Lea.
Saat Nathan dan Lea sudah duduk, para pelayan datang membawakan makanan untuk Lea dan Nathan membuat Lea termangu.
Padahal mereka belum memesan makanan, tapi pelayan sudah membawakan berbagai macam makanan diatas meja yang sangat menggugah selera.
__ADS_1
Nathan sudah memesan makanan sebelum dia sampai. Dia tidak mau menunggu lama. Dia memesan banyak makanan karna dia tau porsi makanan Lea.
Meski badan Lea kecil, namun porsi makan gadis itu perlu di pertanyakan. Nathan saja bingung melihat porsi makan Lea begitu namun badanya tetap kecil.