Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Menyuapi Lea


__ADS_3

Lea masih setia di dalam mobil, gadis itu belum keluar padahal Nathan sudah mengajaknya untuk turun dan masuk kedalam restoran untuk makan.


Wajah Lea sudah tidak sepucat tadi, untung saja Nathan gercep memberikan obat kepada Lea.


Nathan menarik nafasnya dalam. ''Ayok Lea kita masuk ke dalam.'' Entah sudah berapa kali Nathan mengajak Lea untuk masuk namun gadis itu selalu menggelengkan kepalnya.


''Lea nggak lap—''


''Mau bilang nggak lapar? Jelas-jelas muka kamu pucat karna nggak makan dari rumah,'' potong Nathan sebelum Lea melanjutkan ucapannya.


''Lea nggak mau tubuh Lea bakalan gemuk saat acara nanti, entar bajunya sempit.''


''Lea...Kita bisa ganti bajunya satu hari sebelum acara kalau bajunya nggak muat,'' kilah Nathan lagi.


''Mau turun secara baik-baik atau aku....''


''Iya-iya!'' Dengan cepat Lea turun dari mobil daripada Nathan mendekatkan wajahnya dengan dirinya yang tidak baik dengan detak jantungnya kelak.


Nathan tersenyum kemenangan, jika Lea di ancam seperti itu, ia langsung bergerak dengan cepat.


Sekarang mereka masuk di restoran yang terkenal dengan olahan makanan dari laut yang enak.


Dan tentu saja harganya fantastis.


''Mau pes—''


''Pesan makanan sembarang aja, semua makanan Lea makan kok, kecuali racun,'' potong gadis itu dengan cepat membuat Nathan mengangguk mengerti.


''Jangan lupa, pesan yang banyak,'' lanjut Lea cengengesan dengan sedikit malu.


Nathan menggelengkan kepalanya.


''Aku lebih suka Lea yang ini, daripada Lea yang mau diet cuman hanya karna acara sehari saja,'' ungkap Nathan dengan santai.


''Lea takut bakalan keluarin biaya lebih banyak.'' Jujur saja, Lea tidak enak jika sudah mengukur baju namun tiba-tiba nanti tubuhnya mendadak melar.


Jalan sama Nathan membuatnya harus was-was. Bagaimana tidak, jika pria itu selalu saja memberikanya makanan di luar batas.


Bisa saja dia akan gendut karna Nathan memberikan porsi yang sangat banyak, dari biasanya dia makan.


Bahkan, saat Lea di kampus dia menimbang berat badanya, berat badanya naik dua kilo. Bagaimana jika ia sudah menikah nanti, dan hamil? Pasti besar badanya bertambah berkali-kali lipat.


Sekitar beberapa menit, makanan yang ia pesan datang.


Makanan yang di pesan Nathan datang, ''mau aku suapin?'' tanya Nathan.

__ADS_1


Lea melihat sekelilingnya, semenjak mereka jalan Nathan tidak pernah ingin menyuapi dirinya dan ia pun tidak meminta akan hal itu.


Namun hari ini, Nathan menawarkan diri untuk menyuapi dirinya. ''Nggak usah, banyak orang.'' Setelah menatap sekeliling banyak orang di restoran ini, Lea menolak tawaran Nathan.


Nathan mengangguk seraya berkata. ''Jadi kalau nggak banyak orang, mau aku suapin?'' tanya Nathan seraya mengambilkan nasi untuk Lea.


''Iya.''


Senyuman Nathan mengambang, tidak apa-apa jika dia menyuapi Lea di tempat ramai.


''Nggak perlu pedulikan orang sekitar, buka mulut kamu.'' Sendok berisi sesuap nasi dan udang siap masuk kedalam mulut Lea.


''Lea nggak mau, banyak orang.'' Lea menutup rapat-rapat mulutnya.


Dia tidak mau jika sampai Nathan menyuapi dirinya di tempat seperti ini, banyak orang. Apalagi Nathan tidak memesan ruangan VVIP karna tidak ada kosong.


Posisi mereka berhadapan, dengan sendok masih bergantung di udara karna Lea belum membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Nathan.


''Daripada kita kayak gini?''


Lea kembali melihat sekelilingnya, banyak pasang mata menatap kearah mereka berdua gemas dengan pasangan itu. Jangan lupa para ibu-ibu melihat Lea dengan senyuman mengambang melihat tingkah gadis itu yang malu-malu menerima suapan dari Nathan.


Salah satu ibu-ibu yang duduk tidak jauh dari kursi Lea angkat bicara.'' Terima aja, nggak baik loh nolak pasangan sendiri.''


Lea termangu.


Satu tahun lebih dia menjalin hubungan dengan Nathan sedekat ini, pria di hadapnya tidak pernah menyuapi dirinya.


Dan ini pertama kalinya Nathan menyuapi dirinya di depan banyak orang-orang.


Prok…


Prok...


Prok...


Tepuk tangan menggemah di dalam restoran, orang pikir pasangan itu adalah pasangan pengantin baru yang masih malu-malu.


Tingkah Lea sangat menggemaskan sehingga membuat orang-orang di dalam gemas dengan tingkah Lea yang tidak ingin menerima suapan dari suaminya, padahal mereka berdua belum menikah.


''Kok mereka tepuk tangan?'' tanya Lea.


Rasa laparnya tiba-tiba hilang saat Nathan menyuapi dirinya, pipihnya memanas sehingga menciptakan semburat merah di pipihnya yang sedikit berisi itu.


''Karna kamu mau terima suapan dari aku, lain kali jangan malu-malu kalau nggak mau di lihatin sama orang-orang.'' Peringat Nathan kepada Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.

__ADS_1


''Iya dokter Nathan.''


''Calon istri yang patuh.'' Nathan mengusap rambut Lea membuat gadis itu merasakan Kupu-kupu sedang berterbangan di dalam perutnya.


''Mau aku suapin lagi?''


''Makan sendiri aja dok, kalau di suapin Lea mendadak kenyang.''


Nathna tertawa kecil membuat Lea juga ikutan tertawa. Nathn jika tertawa semakin tampan dan berkharisma.


Pantas saja sesama rekan dokternya menyukai Nathan, bahkan ada yang menaruh hati kepada Nathan, namun pria itu hanya abai saja.


''Ok.''


Mereka berdua makan dengan khidmat, Lea sempat ragu-ragu untuk menambah makanan di atas piringnya, tapi mengingat perktaan Nathan tadi membuat Lea menyingkirkan semua keraguan itu dan kembali menambah makanan di dalam piringnya.


Ini adalah tempat terenak menurut Lea, karna makanan di sini rempahnya sangat mewah tidak pelit.


''Nathan!''


Seseorang memanggil Nathan, membuat Lea Nathna langsung melihat keasal suara.


Dokter Zul dan Dokte Kiki datang menghampiri keduanya.


''Akhirnya kamu bisa nikah.'' Zul menggeser kursi dimeja Nathan bersama dengan Kiki untuk duduk bergabung bersama.


''Belum nikah,'' jawab Nathan seraya menyeruput minumanya.


''Tapi udah nggak lama lagi,'' ucap Zul lagi.


''Jangan lupa undangannya.'' Kini Kiki yang angkat suara dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


Tanpa mereka minta Nathan akan memberikan mereka undangan pernikahannya nanti, semua rekan dokternya akan dia berikan undangan untuk menghadiri acara bahagianya.


Besok, Nathan akan menemui Frezan. Bagaimanapun Frezan yang paling tua diantara mereka.


Hanya saja, Nathan harus menyiapkan mental yang kuat. Pasti Frezan akan mengolok-olok dirinya karna dia memakan ucapannya sendiri.


''Gimana hubunganmu dengan dokter, Kiki?'' tanya Nathan mengusap bibirnya dengan tisu.


Dia bertanya setelah Kiki pamit ke toilet.


''Yah gitu deh, Kiki minta waktu baru di jawab. Mau gue beliin jam tangan malah cemberut.''


Lea tertawa, ternyata Zul itu lucu juga.

__ADS_1


Zul dan Nathan bersamaan menatap Lea. ''Kamu makan aja, nggak baik dengerin percakapan orang dewasa.'' Nathan tersenyum penuh arti membuat Lea menjadi cemberut dan Zul menahan tawa.


__ADS_2