Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Om jahat


__ADS_3

Lea langsung membuka mata Agrif, membuat anak itu langsung memeluk Lea.


“Kakak cantik, papah. Hiks….Hiks!” isaknya dalam pelukan Lea.


Lea menghapus air mata Agrif yang sudah membasahi wajahnya yang putih, mata Lea juga berkaca-kaca saat mengingat kejadian barusan.


“Hiks….Om itu mau bunuh papah Agrif. Om itu jahat sama papah!” tangisnya pecah membuat Lea semakin memeluk erat Agrif.


Dia kasihan kepada Agrif, apa lagi anak itu hanya mempunyai Daniel saja, sementara mamahnya sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


“Kita kerumah sakit sekarang,” kata Lea menghapus air mata Agrif. Dia terlebih dahulu memesan taxi karna dia kesini bersama dengan Daniel.


Mobil Daniel berada di parkiran.


Lea langsung masuk kedalam taxi bersama dengan Farel, sedari tadi Farel menangis dalam pelukan Lea.


Dia sangat mengingat wajah yang memukul papahnya membuat anak itu semakin terisak. Dia mengingat senyuman Daniel sebelum dia menutup matanya.


“Om itu jahat hiks…Hiks!” Agrif terus-terusan menangis dalam pelukan Lea.


“Dia mau bunuh papah, Agrif!”


“Om itu jahat!”


Agrif terus saja mengeluarkan kata jika yang menghar papahnya adalah orang jahat.


Lea mencium kening Agrif mencoba menenangkan Agrif.


“Agrif cuman punya papah, kalau papah pergi ninggalin Agrif. Agrif bakalan sendiri hiks…!”


Lea tak bisa menahan air matanya, dia ikutan menangis sembari memeluk Agrif.


“Kita berdoa yah sayang, Semogah papah kamu baik-baik aja,” ucap Lea sembari mencium Agrif dengan penuh kasih sayang.


“Om itu jahat!”


Agrif terus saja menagis, bahkan air mata bercampur dengan keringatnya, dia mengingat wajah kesakitan papahnya dan wajah yang menghajar Daniel dengan penuh amarah tanpa memberikan ruang untuk Daniel melawan.


Mereka telah sampai di rumah sakit tempat Daniel di rawat, Lea dan Agrif bergandengan tangan berjalan dengan buru-buru di koridor rumah sakit.


Lea berjalan kearah resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan Daniel. Setelah mendapatkan petunjuk dia dan Agrif melanjutkan langkah kakinya.


Mereka telah tiba di depan pintu tempat Daniel di rawat, Lea langsung membuka pintu ruangan tempat Daniel di rawat.

__ADS_1


Ceklek


Dia sudah melihat kedua perawat menjaga Daniel, lalu Lea melihat kearah Daniel, dia melihat berbagai alat telah di pasang di tubuh Daniel.


Layar monitor begitu jelas, menunjukkan pernafasan Daniel saat ini.


“Papah!” teriak Agrif lalu memeluk Daniel yang tidak sadarkan diri.


“Papah bangun. Ada Agrif di sini hiks…hiks!” Agrif menangis keras melihat papahnya tidak sadar.


Lea langsung menghampiri daniel, dia mengecek denyut nadi Daniel, Lea menitihkan air matanya saat memeriksa denyut nadi Daniel sangat lemah.


“Om itu jahat mukulin papah, sampai papah nggak bangun!” Agrif terus-terus saja menangis sembari memeluk Daniel.


Perawat menyuruh Lea untuk menjauhkan Agrif dari Daniel, jangan sampai alat yang di pasangkan dengan susah payah tercabut akibat Agrif.


Lea membawa Agrif dalam pelukanya, dia tidak bisa mengatakan jika papahnya akan baik-baik saja. Namun Lea berdoa Semogah keajaiban Tuhan memberikan kekuatan kepada Daniel.


Lea tidak sanggup melihat Agrif yang sudah dekat dengannya menangis jika Daniel meninggalnya, jika Daniel pergi sama siapa Agrif?


Lea menangis sembari memeluk Agrif. “Kamu yang sabar yah sayang, kita doain papah kamu supaya bisa lewati masa kritisnya,” kata Lea. Meski tanpa bertanya pada dokter mengenai keadaan Daniel, Lea sudah cukup tau jika Daniel dalam kondis kritis.


Sebagai seorang perawat, dia tentu saja tau sedikit.


“Agrif cuman punya papah, kalau papah ninggalin Agrif, Agrif udah nggak punya siapa-siapa,” kata Agrif membuat Lea tidak bisa menahan isakan tangisnya.


“Agrif nggak punya siapa-siapa lagi kecuali papah!”


“Om itu jahat sama papah!”


Agrif terus saja menagis.


“Kamu punya kakak cantik, kamu tenang yah,” nasehat Lea.


Agrif tidur dalam pelukan Lea, Lea langsung memperbaiki posisi Agrif untuk tidur di sofa.


Lea mengusap rambut Agrif, dia sangat kasihan kepada Agrif, masih kecil sudah di berikan cobaan yang luar biasa.


“Semogah kamu tumbuh jadi anak dewasa yang kuat,” kata Lea dengan suara seraknya karna baru saja menagis.


Lea masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya, terlebih dahulu dia menghubungi orang tuanya jika dia menginap di rumah sakit.


Setelah menghubungi orang tuanya, Lea berjalan kearah bansal Daniel. Dia melihat di layar monitor melihat pernafsan Daniel naik turun membuat Lea menitihkan air matanya.

__ADS_1


“Lea harap, bapak segera bangun dan kuat melewati ini semua, kasihan Agrif. Dia hanya punya bapak di sini,” kata Lea sembari melihat wajah Daniel yang bengkak dan memiliki banyak luka di wajahnya dan juga di sekujur tubuhnya.


Lea yakin, besok pagi luka yang di miliki Daniel akan membiru dan semakin kentara.


“Lekas sembuh orang baik.”


****


Rara sudah sadar sekitar sepuluh menit, sedari tadi dia menangis dalam dekapan Frezan membuat Hasya langsung memeluk Rara juga.


“Bunda kenapa nangis hiks…?” Anak itu ikutan menangis dalam pelukan Rara.


Frezan mengusap rambut Hasya. “Bunda kamu baik-baik aja,” kata Frezan.


Frezan menelfon supir untuk menjemput mereka di sini, sementara mobil yang di kenakan Frezan tadi sudah di jemput oleh satpam.


Tidak butuh waktu lama, supir datang menjemput mereka.


Farel duduk di depan tepat di samping supir, Sementarara Hasya, Dyra, Dyta dan Tegar duduk paling belakang.


Sementara di tengah ada Rara dan juga Frezan. Rara masih belum juga berhenti menangis, seperti mimpi dia di suguhkan pemandangan yang sangat keji.


Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika saudaranya itu memukul Daniel secara sadis, sehingga tidak memberikan celah kepada Daniel untuk melawan.


“Aku takut!” Isak Rara, dia memikirkan kondisi Daniel di rumah sakit dan memikirkan nasib Elga di kantor polisi.


Frezan mengusap punggung Rara dan mencium kening istrinya, akhir-akhir ini banyak sekali ujian yang di berikan untuk keluarga mereka.


Rara tertidur dalam dekapan Frezan, dia capek menangis. Dia harap kejadian Ini semua hanya mimpi, agar dia bisa bangun dengan legah.


Mobil telah sampai, baby sister yang bertugas menjaga anak-anak membawa kelima bocah itu untuk istirahat lalu mandi.


“Tegar,” panggil Frezan kepada Tegar setelah mengangkat Rara untuk tidur di kamar.


“Iya Yah,” jawab anak itu.


Frezan mensejajarkan tingginya dengan putranya itu, “jangan cerita soal ini sama siapapun, terutama Dyta. Jangan bilang sama dia kalau papahnya di bawa ke kantor polisi,” kata Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Tegar, karna Tegar yang menyaksikan bagaimana omnya itu menghajar orang di bawah kungkuhanya dengan sadis.


Frezan mengusap rambut Tegar.


“Kamu pergi tidur.”


Tegar langsung pergi ke kamar, sementara Farel yang tidak sengaja mendengar percakapan antara anak dan ayah itu tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2