Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Lea Dan Nathan


__ADS_3

Lea langsung menghampiri Nathan, sosok pria tampan yang dia kejar sejak dulu, sudah beberapa hari ini Lea tidak melihat Nathan karna tidak ada tugas dari kampus.


Namun sekarang dia melihat Nathan karna sedang berada di rumah sakit.


“Dokter Nathan apa kabar?” Tanya Lea setelah berhasil menghampiri Nathan.


Lea melirik tangan Nathan berbalut kain kasah. “Dokter Nathan sakit?” Tanyanya lagi sembari mendongakkan kepalanya kepada Nathan.


“Tidak,” jawab Nathan singkat.


“Tapi itu tanganya kok di perban,” kata Lea lagi membuat Nathan menarik nafas berat.


“Saya tidak sakit,” kata Nathan lagi mencoba menjelaskan kepada gadis di hadapnya. Sosok gadis yang terang-terangan menyukai dirinya.


Sosok mahasiswa yang sudah melakukan praktek di rumah sakit tempat dia bekerja.


“Anak kecil juga bakalan tau kalau dokter Nathan sedang sakit,” kata Lea. “Karna buktinya ini,” lanjutnya mengangkat tangan Nathan yang sedikit terbungkus kain kasah.


“Maaf,” cicit Lea melepaskan tangan Nathan, karna tidak sengaja mengangkat tangan pria di hadapannya.


“Ini hanya bekas jarum impus,” kata Nathan.


“Jadi beneran dokter Nathan sakit?” Tanya Lea lagi dan dibalas gelengan kepala oleh Nathan.


“Terus apa?”


“Saya mendonorkan darah saya kepada pasien yang membutuhkan darah,” jawab Nathan, karna memang begitu faktanya.


Lea hanya mengangguk. Lalu kemudian Nathan pergi meninggalkan Lea membuat Lea tersenyum kecut sembari melihat punggung Nathan yang sudah menjauh.


“Dokter Nathan kapan bisa lirik Lea?” Keluh gadis itu. “Padahal Lea nggak jelek-jelek amat,” lanjutnya.


“Katanya mau makan!”


Suara yang tidak asing memasuki gendang telinganya. Lea sudah hapal betul siapa pemilik suara tersebut.


“Katanya lapar!” Lanjut Nando lagi sembari bersedekap dadah kearah Lea yang sedang berdiri seorang diri seperti sedang orang gila saja.


Sedari tadi Nando memperhatikan Lea dan juga Nathan mengobrol, meski sebenarnya yang mengajak ngobrol adalah Lea dan hanya di jawab seadanya oleh Nathan.


Nando sudah tau mengenai perasaan Lea kepada dokter tampan yang menyukai istiri bosnya.


“Tiba-tiba rasa lapar Lea hilang,” kata Lea sembari memanyunkan bibirnya membuat Nando tertawa.


“Hahahah….Mental kamu lemah banget yah? Baru dapat penolakan kayak gitu udah nggak mau makan,” cibir Nando membuat Lea melorotkan matanya kearah Nando.


.

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Nando enteng.


“Kak Nando lihat Lea ngobrol sama dokter Nathan?” Tanya Lea dan dibalas angguka kepala oleh Nando.


“Dasar lemah kamu, baru aja gitu udah mau mogok makan. Dasar bocah ingusan!”


“Mental kerupuk!” Lanjut Nando mengejek Lea.


“Dasar tukang nguping!” Cibik Lea lalu berjalan meninggalkan Lea.


“Dasar gadis lemah!”


Lea langsung pergi meninggalkan Nando berjalan lebih dulu.


.


“Kamu mau kemana?” Tanya Nando sembari mengikuti langkah kaki Lea.


“Makan!”


“Katanya kamu nggak lapar!”


“Lea tiba-tiba lapar lagi karna kak Nando!”


“Lah kok saya?”


“Ngapain kak Nando ngikutin Lea?” Kesal gadis itu pada Nando.


“Siapa juga ikutan kamu!”


“Lebih baik kak Nando balik ke ruangan om Rifal, nggak ada yang jagain. Kondisi dokter Valen belum sepenuhnya baik!” Perintah gadis itu.


“Kenapa kamu perintah saya? Emangnya kamu kekasih saya ” Tanya Nando menaikkan alisnya sebelah membuat Lea semakin kesan lalu kembali melanjutkan langkahnya. Meladeni Nando akan menbuatnya kalah aduh bacot.


Nando kembali mengikut langkah kaki Lea untuk menuju kantin. Andai saja tidak ada dokter Kiki Nando tidak akan pergi meninggalkan ruangan Rifal.


Karna dokter Kiki pengertian ingin menjaga Rifal sampai dia kembali, karna Rifal ingin beli coffe di kantin lalu meminumnya di ruangan inap tempat Rifal di rawat.


“Lea!”


Panggil Nando yang tidak di hiraukan oleh Lea. Gadis itu terus berjalan hingga tidak lama lagi sampai di kantin rumah skit.


“Lea!” panggil Nando lagi, namun belum di gubris oleh Lea.


Lea masih kesal, bukan karna Nando memergoki dirinya mengobrol dengan dokter yang dia sukai. Dia kesal karna Nando mengejeknya mogok makan hanya karna perihal tadi, padahal itu tidak sama sekali.


“Lea!”

__ADS_1


Lea menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kantin.


“Kenapa manggil Lea mulu!” Ketus Lea kepada Nando.


“Galak amat!”


Lea tidak menanggapi Nando lagi, dia langsung masuk lalu memesan bakso dan jug teh yang cukup untuk uang 20 ribu. Dengan harga bakso harga 15 ribu dan es teh 5 ribu.


Nando duduk didekat Lea sembari menunggu coffe yang dia pesan untuk dia bawa di ruangan Rifal.


“Lea!” Panggil Nando lagi kepada gadis yang duduk di sampingnya menunggu makanannya datang.


Lea hanya melirik Nando dengan malas lalu kembali menopang dagu dengan tanganya diatas meja, entah apa yang dia pikirkan.


“Kamu marah sama saya?” Tanya Nando lagi karna melihat wajah Lea masih belum berubah, wajah kesal yang di perlihatkan Lea padanya membuatnya tidak enak.


“Apa karna saya mendengarkan obrolan kamu dengan dokter Nathan?” Tanya Nando lagi yang tidak di gubris oleh Lea.


Makanan pesanan Lea datang sehingga gadis itu langsung memberikan saos dan kecap pada baksonya. Sementara Nando masih menunggu coffe nya.


“Lea,” panggil Nando lagi namun Lea enggan untuk menjawab. Gadis itu menikmati makanananya menghiraukan Nando yang sedari tadi memanggilnya.


Coffe milik Nando datang. “Saya duluan yah, mau jaga Rifal,” pamit Nando dan belum di awab oleh Lea.


Nando tersenyum kecut, dia merasakan bagaiamana rasanya di abaikan oleh seseorang. Apa begini yang dirasakan oleh wanita yang dia tinggalkan karna sudah bosan? Rasanya sungguh tidak enak, ini mungkin karma buat dirinya.


“Makanya sudah bayarkan,” kata Nando lalu benar-benar pergi meninggalkan Lea. Dia tidak ingin lama-lama karna ada Rifal yang dia harus jaga.


Lea mengunyah dengan pelan baksonya lalu menatap punggung kokoh Nando yang sudah pergi. Lepas itu, Lea kembali melanjutkan makanya hingga tandas.


Saat Lea ingin membayar makanannya, pihak kantin mengatakan jika makanannya sudah di bayar oleh pria yang mengenakan jas, padahal Nando sudah mengatakan jika dia sudah membayar makanannya namun dia tetap ngotot untuk ingin membayar.


Ceklek


Ruangan Rifal dibuka, muncullah Nando membawa coffe.


“Buat dokter Kiki,” kata Nando memberikan coffe untuk Kiki.


“Makasih,” jawab Kiki mengambil coffe yang diberikan oleh Nando.


Sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan coffe, namun dia juga tidak enak menolak pemberian Nando.


“Sama-sama.” Tumben saja Nando tidak menggoda wanita cantik, karna pria itu langsung duduk di kursi sofa sembari menikmati coffe yang dia beli tadi.


Dokter Kiki merupakan dokter yang sangat ramah dan murah senyum kepada orang-orang. Kiki memperhatikan Nando sehingga membuat sudut bibirnya berbentuk senyuman Manis.


Jelang beberapa menit Kiki pamit pada Valen dan Nando karna dia mempunyai jadwal operasi bersama dengan dokter Nathan.

__ADS_1


__ADS_2