
Dyta masih terdiam.
“Ngapain diam, Ayo naik!” Perintah Farel.
“Nanti Hasya sama Dyra datang,” lanjut Farel.
Dyta langsung naik diatas sepeda. Meski umurnya baru beberapa tahun, namun tinggi Farel sudah tidak di ragukan lagi.
Farel langsung menggayuh sepedanya untuk segera menuju lapangan basket waktu hari bersama dengan Dyta dan Elga saat di membakanya bekal.
“Kita kenapa ninggalin Hasya sama Dyra? Nanti mereka nangis,” kata Dyta sembari memeluk Farel.
“Aku kan udah bilang, aku mau main bola basket berdua doang sama kamu. Kalau mereka ikut berarti kita nggak berdua mainya,” balas Farel sembari menggayuh sepedanya, lebih tepatnya lagi sepeda milik Tegar.
Dyta tidak membalas perkataan Farel lagi, di tengah perjalananya Dyta memikirkan Elga, dia merindukan papahnya itu.
Dyta memejamkan matanya, air matanya turun begitu saja.
Pah, Dyta kangen. Dyta kangen papah ngajakin Dyta main bola.
Sementara Hasya dan Dyra bergandengan tangan untuk menuju tempatnya di mana Farel dan Dyta tadi.
“Om Farel mana?” ucap Hasya melihat sekelilingnya Farel dan Dyta sudah tidak ada lagi.
“Kak Farel nipu kita!”
“Om Farel nipu kita!”
Kedua anak itu langsung kembali ke kamarnya masing-masing, rasanya sangat hampah jika terus-terusan bermain masak-masam dan juga main boneka.
Hasya dan Dyra sangat kesal kepada Farel, terutama Hasya, dia pikir Farel benar-benar ingin bemain denganya sehingga dengan semangat empat lima dia langsung memanggil Dyra juga.
Dyra tentunya bahagia, saat Hasya mengatakan jika Farel dan Dyta menunggunya di luar untuk bermain basket.
Namun rupanya Farel menipu mereka berdua. Hasya sangat kesal kepada Farel, rasanya dia ingin melapor kepada ayahnya atas perlakuan Farel.
Farel dan Dyta telah sampai di lapangan basket dekat TK. Dyta langsung turun dari sepeda.
Untung saja jarak dari rumah mereka ke tempat ini tidak terlalu jauh, dan jalan menuju tempat ini juga tidaklah ramai.
Jadi aman saja Farel dan Dyta bersepeda.
“Ayok!” ajak Farel kembali mengemam tangan Dyta.
Mau tidak mau Dyta langsung mengikut Farel.
“Kalau kamu berhasil ngambil bola ini dari aku. Aku bakalan turutin permintaan kamu,” kata Farel membuat Dyta nampak berpikir.
__ADS_1
“Beneran?”
“Iya.”
“Kalau aku berhasil. Aku mau kamu berhenti manggil aku curiting,” kata Dyta membuat Farel nampak berpikir.
“Ok, tapi kalau kamu kalah aku bakalan tetap manggil kamu curiting sampai kapanpun,” kata Farel sembari tersenyum kearah Dyta.
“Ok.”
Farel sudah mulai mempermainkan bola basket di tanganya, sementara Dyta berusaha merebut bolah dari Farel.
Memang dia sudah sedikit tau, namun sepertinya kemampuan Farel sangat jauh darinya. Apa lagi tinggi Farel dengan tingginya tidaklah seberapa.
Dyta mengatur nafasnya, karna sudah dua puluh menit dia ingin merebut bola dari Farel namun tetap saja tidak bisa.
“Kamu kalah,” kata Farel menghampiri Dyta. “Itu berarti aku bakalan manggil kamu dengan curiting sampai kapanpu,” bangga Farel.
Farel melihat jam di pergelangan tanganya, sudah hampir sore lalu dia megajak Dyta untuk pulang karna tidak lama lagi Nathan pulang dari rumah sakit dan menjemputnya.
“Ayok pulang,” ajak Farel lalu di ikuti oleh Dyta.
****
Valen langsung terdiam saat menerima Telfon dari Kayla, jika Elga di tahan selam 13 tahun lamanya. Apakah Valen harus mengatakan semuanya kepada Rifal?
Huft
Terdengar hembusan nafas berat dari seberang Telfon.
“Iya Va, aku nggak tau kedepanya tanpa Elga gimana. Tapi gue harus kuat, karna ada anak-anak yang butuhin gue,” kata Kayla.
“Kamu kuat, kamu bakalan bisa lewatin ini semua. Tuhan nggak bakalan kasi ujian sama hambanya di luar batas kemampuannya,” kata Valen.
“Va, gue butuh Elga dalam membesarkan anak-anak,” kata Kayla dengan isakan yang sangat tertahan.
Kepala Kayla kembali pusing, semakin dia bersedih semakin dia ingin muntah.
“Ada Rara yang bantu lo, Kay. Gue juga ada,” kata Valen.
“Anak-anak kamu nggak bakalan kekurangan kasih sayang,” kata Valen.
Mereka berdua asik berbincang di Telfon, hingga Kayla memutuskan telfonya karna kepalanya sangat pusing. Mungkin karna dia banyak pikiran dan nafsu makanya turun sehingga akhir-akhir ini kepalanya pusing dan ingin muntah.
Kayla masuk kedalam kamar mandi, dia kembali memuntahkan makananya. Dia menatap dirinya di depan cermin, wajahnya sangat pucat pasih.
Dia menyalakan kerang air lalu berkumur-kumur lalu itu dia membasahi wajahnya.
__ADS_1
Kayla merasa tidak enak badan, sudah kemarin Rara menyuruh Kayla untuk ke dokter namun Kayla selalu berkata jika dia hanya merasa pusing akibat memikirkan Elga.
Farel dan Dyta telah sampai di rumah, Dyta terlebih dahulu masuk. Farel melihat mobil Nathan sudah terparkir. Itu tandanya Nathan sudah balik dari rumah sakit dan singgah untuk menjemput dirinya.
“Dyta, kamu dari mana?” Tanya Frezan yang melihat Dyta masuk dengan berkeringat.
“Dyta baru pulang main basket sama Kak Farel,” ucap Dyta.
“Terus Farel mana?“ tanya Nathan.
“Udah ada kesini,” jawab Dyta.
Dyta langsung pamit karna ingin mandi.
“Bang Nathan!” teriak Farel saat melihat Nathan duduk sembari berbincang-bincang dengan Frezan.
Nathan langsung merentangkan tanganya kepada Farel. Farel langsung memeluk Nathan dengan erat. Satu minggu Nathan keluar kota menbuat Farel merindukan kakak keduanya itu.
“Rindu sama Abang Nathan!” kata Farel dalam pelukan Nathan.
“Abang juga kangen sama adik ganteng Abang ini,” kata Nathan menarik hidung mancung Farel.
Farel sudah melihat tasnya sudah tertatah rapi, pakainya sudah ada di dalam tas. Itu berarti tidak lama lagi dia pergi.
Jarak apartemen Nathan dengan rumah Frezan tidaklah jauh, namun tetap saja hampa rasanya.
“Kita pulang, soalnya sebentar malam Abang ada operasi. Abang mau istirahat dulu,” kata Nathan dan dibala anggukan kepala oleh Farel.
Frezan memanggil Haysa, Tegar, Dyta dan juga Dyra untuk melihat Farel sebelum dia pergi.
“Lain kali kita main berdua lagi,” bisik Farel di telinga Dyta yang tidak di gubris oleh Dyta.
“Kak Farel.” Manja Dyra kepada Farel. “Kita belum pernah main, kak Farel udah mau pulang aja,” kata anak itu lagi membuat Farel tertawa.
“Om Farel jahat, Hasya sama Dyra di tinggal main,” kata Hasya membuat Farel juga tertawa.
“Aku minta maaf, aku cuman mau main berdua sama Dyta. Kalau aku kesini lagi kita main,” kata Farel.
“Janji,” kata Dyra dan Hasya bersamaan.
“Janji.”
Farel sudah membuka pintu mobil, dia melambaikan tanganya kearah empat anak itu.
“Dadah semuanya!”
“Curiting jangan rindukan aku!” teriak Farel lalu masuk kedalam mobil membuat Frezan dan Nathan menggelengkan kepalanya mendengar apa yang di katakan oleh Farel.
__ADS_1