Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kepulangan


__ADS_3

Tegar sedari tadi memperhatikan Rara berbicara didepan handponenya. Anak kecil itu hanya diam saja melihat Rara sedang berbincang-bincang.


"Pulang!"


"Nggak mau!"


Perdebatan Frezan dan Rara di video call masih berjalan. Tidak ada yang mengalah diantara mereka berdua.


"Pulang, Ra. Biar aku yang kesana jemput mereka," kata Frezan agar istrinya itu mengikuti perintah darinya.


Rara menggelengkan kepalanya kuat membuat Frezan diseberang telfona menghembuskan nafasnya panjang. Rasanya dia ingin meninju handponenya sekarang juga. Melihat istri kecilnya diseberang telfon membuatnya ingin melahap istrinya itu yang telah membantah perkataannya.


"Ra," panggil Frezan dengan pelan membuat Rara merasakan ketidak nyamanan.


"Kenapa sayang?" tanya Rara dengan pura-pura bodoh membuat Frezan diseberang telfon menatap Rara.


"Nggak takut yah, kalau lewat handphone," mata Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.


"Oh gitu."


Rara langsung melototkan matanya, tanpa sadar dia mengangguk mengiyakan ucapan Frezan, padahal dia ingin menggelengkan kepalanya namun dia malah menganggukkan kepala.


"Bukan gitu sayang. Aku cuman refleks nganguk aja." Rara mencoba membelah dirinnya. Meski dia sudah mengenal sifat Frezan selama mereka menikah, namun Rara tetap takut kepada Frezan karna tatapan pria itu tidak pernah berubah.


"Kalau gitu pulang. Biar aku yang ke bandara jemput mereka," kata Frezan lagi membuat Rara harus berpikir layaknya seorang ingin memutuskan sesuatu yang menyangkut kehidupan semua orang.


"Ra," panggil Frezan diseberang telfon karna Rara tak kunjung menjawab perkataan-nya.


"Eh sayang, jaringan disini jelek banget. Entar aku hubungin lagi yah. Ummachhh." Lepas mengucapakan kata itu Rara langsung mematikan handponenya secara sepihak membuat Frezan menyandarkan kepalanya dikursi yang dia tempati.


Rara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, banyak orang yang senyum-senyum kearahnya. Mungkin saja dia mendengarkan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Rara, kata-kata keramat.


Bodoh amat, untuk saat ini Rara bodoh amat dengan Frezan. Dia akan mengurus itu setelah dia menjemput seseorang yang dia rindukan selama ini.


Ting.....


"Lihat kebelakang, Ra."


Pesan yang diterima oleh Rara membuat gadis itu membalikkan badannya. Dia sudah melihat sosok pria dan juga wanita sesat berjalan kearahnya dengan dua anak kecil yang mereka gandeng.


Rara langsung menggendong Tegar dan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Bang Elga. Kayla!" teriak Rara sehingga seluruh tatapan terarah padanya.


Elga langsung membawa Rara kedalam dekapannya. "Bang El. Rindu!" Rara tentu saja menjatuhkan air matanya setelah sekian lamanya berpisah dengan kembaranya akhirnya dia bisa bertemu dengan sosok Elgara.


Yah, orang yang sedari tadi ditunggu Rara adalah saudaranya dan juga sahabatnya.


Elga mengusap punggung Rara, "Abang El juga kangen sama lo, Ra," balas Elgara.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Rara. Elgara masih tetap tampan bahkan semakin tampan semenanjak pria itu memutuskan tinggal diluar negeri.


Dia menggunakan kacamata hitam serta rambutnya yang tertatah rapi membuat Rara semakin merasakan kehilangan Elgara yang dulu.


"Bang El!" Rara malah terisak dalam pelukan Elgara membuat Elgara paham apa yang dirasakan oleh kembaranya ini. Elgara tau bagaimanapun mereka kembar.


"Gue nggak berubah, Ra. Mungkin penampilan gue berubah lo lihat, tapi nggak dengan sikap gue. Gue masih tetap Elga yang lo kenal," kata Elgara menyelipkan anak rambut Rara.


Rara semakin terisak karna Elgara tau apa yang dia pikirkan saat ini. Sementara Tegar sedang dijaga oleh baby sister kedua anak Elga dan juga Kayla.


Elgara menghapus air mata adiknya itu, "gue juga rindu sama kembaranya gue ini," kata Elgara kembali memeluk Rara.


Elgara tidak menyangka dia bisa melewati ini semua, berpisah dengan kembaranya.


"Nggak ada yang bisa gantiin posisi adik kesayangannya gue," kata Elga membuat Rara kembali memeluk Elga menyalurkan rasa rindunya.


"Hmm."


Rara melepaskan pelukannya dari Elgara, saking rindunya, dia sampai melupakan jika bukan kembaranya juga, tetapi ada Kayla sosok sahabatya.


"Kay," lirih Rara dengan air mata msih basah dipipihnya.


Kayla merentangkan tangannya membuat Rara langsung memeluk sahabatnya itu.


"Gue rindu, Ra!" aduh Kayla memeluk sahabatnya itu.


"Aku juga, Kay. Aku rindu persahabatan kita," balas Rara dalam pelukan Kayla.


Kayla tertawa kecil, masih dalam keadaan berpelukan.


"Udah di didik baik yah, sama Kak Eza," ejek Kayla membuat Rara tersenyum sembari menghapus air matanya.

__ADS_1


"Yah, gitu," balas Rara membuat Kayla menggelengkan kepalanya, sikap Rara ternyata sepenuhnya belum berubah sedari SMA.


Sementara Kayla semakin cantik, rambut gadis itu tergerai indah rambut yang panjang kecoklatan.


"Valen mana?" tanya Kayla.


Perasaan Rara mengatakan padanya sebelum dia terbang ke indo, dia akan dijemput oleh Rara dan juga Valen. Sampai disini, Kayla tidak melihat Valen dia hany melihat Rara berserta anaknya.


***


Sinar matahari masuk kedalam celah-celah gorden kamar milik Valen. Itu menandakan jika sudah tengah hari.


Valen menggeliat karna seperti ada tangan kekar memeluknya begitu erat sehingga dia sulit menggerakkan tubuhnya.


Valen membuka matanya secara perlahan-lahan, dia melirik jam diatas nakas sudah pukul sebelas siang. Dia langsung melototkan matanya, itu berarti dia sudah terlambat 3 jam untuk menjemput Kayla dan Elgara dibandara?


Valen langsung menyibakkan selimutnya dan semakin terdiam saat melihat tangan kekar memeluk pinggulnya begitu erat.


Valen meneguk salivanya susah payah, dia melihat tangan kekar tersebut dan melihat wajah pemilik tangan.


Deg


Jantung Valen berdetak kencang saat melihat wajah tampan milik Rifal yang masih tertidur nyenyak, tanpa merasa terganggu meski wajahnya disinari sinar matahari yang menerobos masuk ke gorden kamar.


Wajah tampam milik Rifal membuat Valen tidak ingin lepas dari objek tersebut. Dengan lancangnya tangannya bergerak membelai wajah milik Rifal.


Valen mengigit bibirnya, saat berhasil menyentuh wajah tampan milik Rifal. Bagaimana jika pria itu bangun dan melihat dirinya membelai wajahnya.


Valen melototkan matanya saat tangannya dipegang oleh Rifal, padahal pria itu masih memejamkan matanya namun mengapa bisa memegang tangan Valen yang mengusap wajahnya.


Valen berusaha melepaskan tangannya, namun Rifal tidak memberikan ruang untuk melepaskan tangan Valen.


Deg


Jantung Valen semakin berdetak kencang, seperti sedang lari maraton saat Rifal membuat matanya sehingga mata mereka berdua bertemu.


Rifal menyungkirkan senyum tipisnya dengan mata sayunya.


"Fal," menolog Valen karna dia ketahuan.


"Mau ngapain lo? Udah ketahuan mau kabur yah, hmm." Suara serak khas bangun tidur membuat bulu kuduk Valen merinding dengan perkataan Rifal.

__ADS_1


"Fal," cicit Valen dengan tangannya masih dipegang oleh Rifal. Seperti dia sedang ketahuan mencuri dan tangannya tidak dilepaskan.


"Kenapa Hmm."


__ADS_2