Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Menyetujui kepindahan Kayla


__ADS_3

''Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk pindah, Kay!'' Rara berkata dengan tegas seraya berdiri dari kursi yang ia duduki.


Saat ini, ia sedang duduk di taman belakang rumah. Kayla tiba-tiba mengajak Rara untuk bicara berdua di taman belakang rumah.


Ia mengatakan ingin pindah dan mencari rumah untuk ia tinggal bersama ketiga anak-anaknya.


Kayla menghampiri Rara yang membelakangi dirinya. ''Ra, gue mohon.''


Kayla membalikkan tubuh Rara, menatap mata ipar sekaligus sahabatnya itu.


‘’Biarin gue tinggal bersama anak-anak gue, Ra. Gue bisa hidup di rumah yang akan gue beli, gue akan tunggu Elga di sana juga.'' Kayla berusaha meyakinkan Rara.


''Gue baik-baik aja.''


Rara menggeleng. ''Nggak, Kay. Kamu harus tetap di sini selama Abang El di penjara,'' final Rara tidak ingin bantah lagi.


“Ra,” panggil Kayla.


Rara menggeleng. “Nggak, Kay, kamu nggak boleh ninggalin rumah ini sampai Abang El keluar dari penjara,” ucap Rara lagi.


“Ra, gue mau rasain tinggal di rumah sendiri sama anak-anak gue, meski Elga belum ada. Gue mau rumah gue yang akan di tempati anak-anak gue besar, Ra,” ujar Kayla.


Rara terdiam.


“Tap”


“Gue mohon.” Mata Kayla memerah siap ingin mengeluarkan air mata.


“Lo bahagia kan kalau tinggal di rumah sendiri? Gue mau rasaian hal itu juga, Ra.” Kayla mengusap air matanya membuat Rara langsung memeluk Kayla.


Mereka berdua berpelukan di taman belakang rumah Rara. “Tapi kamu harus janji yah, Kay. kamu bakalan sering kerumah Aku. Kalau butuh bantuan langsung huhungin aku sama Kak Eza. Terus, kalau Revan nangis jangan sungkan-sungkan yah Telfon aku sama kak Eza. Jangan lupa, Dyra, Dyta dan Revan harus sering kerumah.”


Kayla melepaskan pelukanya tersenyum kearah Rara. “Iya, Ra. Gue janji bakalan sering kesini bawa anak-anak gue.”


“Jadi kapan kamu cari rumah barunya?” tanya Rara membuat Kayla tersenyum.

__ADS_1


“Gue udah dapat rumah barunya, sisa tinggal tunggu pindah.”


***


Sudah dua hari Nathan dan Lea sudah berada di Bandung, pagi ini mereka akan kembali ke Jakarta.


Nathan dan Lea masuk kedalam mobil untuk segera menuju Jakarta.


Sisa dua hari lagi mereka akan menikah, membuat mereka berdua harus menyiapkan diri sebelum hari pernikahan berlangsung.


Sepanjang perjalanan Lea dan Nathan mengobrol hal kecil, kadang mereka tertawa kecil di tengah banyaknya pengendara berlalu lalang.


“Jadi dokter Nathan pernah suka sama istrinya kak Eza?” tawa gadis itu membuat Nathan tertawa.


Bukan yang Lea ucapkan barusan yang membuat Nathan ketawa, tapi tawa Lea menular padanya.


Seharusnya Lea merasakan cemburu karna menceritakan mengenai sosok gadis yang pernah ia sukai saat di bangku SMA.


Namun ini? Gadis itu hanya tertawa. Seakan-akan apa yang barusan ia ucapkan sebuah lelucon.


Seharusnya Lea cemburu setelah Nathan menceritakan masa putih abu-abunya.


“Kenapa harus Lea cemburu? Masa itu, kan, Lea masih belum tau apa-apa, Lea malahan ketawa dengar dokter Nathan pernah suka sama istirnya Om Eza, tapi dokter Nathan nggak dapat. Lea pikir semua wanita akan tergila-gila dengan dokter Nathan, sama seperti Lea tergila-gila dengan dokter Nathan.”


Lea menjelskan secara meredahkan tawanya, ia pikir semua wanita akan jatuh kepada pelukan Nathan, jika pria itu inginkan.


“Ada satu lagi yang belum aku ceritain di masa putih abu-abu aku waktu dulu,” ujar Nathan membuat Lea penasaran.


“Apa?” tanyanya membuat Nathan tersneyum mengingat wajah Tasya, mantan kekasihnya saat SMA.


“Kamu tau, kan, kalau aku sama kak Eza saudara?” Nathan memberikan pernyataan pada Lea, dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.


“Kamu juga tau, kan, kalau aku sama kak Eza saudara sepapah, beda ibu,” lanjut Nathan.


Di sepanjang perjalanan mereka menuju Jakarta, mereka mengebrol mengenai masa SMA Nathan, dan Lea dengan setia mendengar seraya tertawa.

__ADS_1


“Saat itu, mamahnya kak Eza nikah lagi sama pria lain.” Nathan tidak akan menjelaskan mengenai Frezan lebih dalam, jika pria itu di lahirkan di luar nikah.


Mereka bertiga sama, ini semua karna ulah Alex. Yang tidak setia dan tidak bertanggung jawab sehingga ketiga anak mereka lahir di luar nikah.


“Kak Eza punya adik, mereka saudara semamah, beda papah. Aku pacaran dengan adik Frezan saat itu, namanya Tasya, ia sahabatnya Rara, Kayla dan dokter Valen. Mereka berempat itu sahabat sejak SMA sampai sekarang.”


“Waktu itu, aku hanya menjadikan Tasya pelampiasan karna telah gagal memilik Rara, akhirnya aku cari pelampiasan dengan memacari adiknya kak Eza.”


“Kak Eza tau, kalau aku cuman pacarin Tasya hanya karna ingin menjadikan dia pelampiasan. Saat itu kak Eza marah dan aku berantem dengan dia.”


Lea ingin memprotes, mengapa Eza memukul nathan, padahal nathan adalah adiknya juga.


“Jangan di potong, biarin aku ceritain sampai selesai.” Nathan kembali menempelkan jari telunjuknya di bibir Lea, sama seperti yang ia lakukan saat di pemakaman.


“Frezan emang terlihat cuek kepada Tasya, dan pura-pura tidak peduli. Padahal di lubuk hatinya paling dalam, dia menyayangi adiknya dengan setulus hati. Namun cara Frezan saat itu berbeda dengan kakak yang lain menyanyangi adiknya.”


“Saat itu, aku sama Kak Eza belum tau kalau aku berdua saudara sepapah.”


“Kamu tau, Lea, apa yang dirasakan Tasya saat ia tau kalau aku hanya menjadikannya pacar pelampiasan untuk melupakan seseorang? Padahal kami sudah menjalin hubungan beberapa bulan. Menciptakan momen indah dan tawa berdua yang di dalamnya palsu. Tanpa aku sadara jika aku…”


Lea menggeleng, sungguh Lea penasaran dengan kelanjutan ucapan Nathan.


“Penyakit yang menggerogoti tubuh Tasya saat itu, tiba-tiba kambuh..” rasanya Nathan masih tidak percaya jika ia berada pada posisi seperti itu dulu, menyedihkan.


“Dan akhirnya, dia ninggalin aku, sahabatnya, kedua orang tuanya, dan semua orang di dunia ini.”


Deg


Sungguh pikiran Lea tidak sampai kesini, “dia bawa cinta aku dibawah tanah, tanpa aku sadari. Jika aku sudah jatuh cinta denganya setelah menciptakan momen indah yang ku sebut palsu padahal suatu realita yang tidak akan pernah terbantahkan oleh hati dan keadaan.”


“Dan gadis wanita ketiga, aku tidak perlu menjelaskannya ke kamu. Pasti kamu sudah tau,” ujar Nathan santai.


Tentu saja Lea tau, jika wanita ketiga itu adalah dokter Valen, istri Rifal.


“Aku tiga kali gagal soal ini,” lanjut nathan seraya tertawa kecil.

__ADS_1


“Namun gadis yang ke empat yang aku temui, tidak akan aku lepaskan dan si-siakan sepeti Tasya. “


“Aku mencintai mu, Lea.”


__ADS_2