
Rifal tengah fokus menyetir dengan pikirannya masih membuanah kepada Amora, rasanya dia ingin memberikan pelajaran kepada wanita itu tadi namun Valen menghalanginya.
Rifal melirik Valen. "Perkataan Amora nggak usah diambil pusing," kata Rifal sehingga Valen juga melirik Rifal.
Valen mengangguk kecil namun tidak dengan hatinya dan juga pikirannya saat ini. Apa yang dikatakan oleh Amora tadi mampu membuatnya menjuluki dirinya wanita tidak tau diri.
Dia akui, jika yang menyelamatkan dirinya saat itu adalah Adelia namun tidak ada niat sedikitpun Valen menginginkan Adelia seperti sekarang ini.
Rifal menepikan mobilnya dipinggir jalan sehingga membuat Valen melirik Rifal. Dia bertanya ada apa? Sehingga pria itu meminggirkan mobilnya.
"Mobilnya kenapa?" tanya Valen kepada Rifal yang tengah meliriknya juga.
"Mobilnya nggak kenapa-kenapa, kamu yang kenapa," kata Rifal membuat Valen terdiam dengan perkataan cowok itu.
"Aku nggak mau kamu pikirkan semuanya tadi, cukup jalani hubungan kita. Kita bakalan bisa lewatin tantangan ini," kata Rifal yakin lalu mengengam tangan Valen membuat Valen tak kuasa menahan air matanya dengan perlakuan manis Rifal saat ini.
"Kalau kita berdua bersatu, aku yakin kita bisa lewatin semua masalah," kata Rifal menatap manik mata Valen.
Rifal merapikan anak rambut Valen." Aku disini, aku nggak bakalan ninggalin kamu apapun yang terjadi. Aku janji aku bakalan ada di setiap kamu butuh," janji Rifal membuat Valen langsung memeluk Rifal.
Valen harap perkataan Rifal akan terbukti untuk kedepannya nanti, karna dia yakin kisahnya dengan Rifal baru saja dimulai. Bakalan banyak tantangan yang akan dia lalui bersama-sama.
Rifal mengusap rambut Valen lalu mencium rambutnya yang sangat wangih. "Don't leave me, Valen," kata Rifal diselah-selah pelukannya membuat Valen mengangguk. Padahal Valen yang mengkhawatirkan jika Rifal yang akan meninggalkannya nanti. Namun Valen percaya, kali ini Rifal benar-benar serius kepadanya.
Valen tidak ingin mengulang kejadian saat malam itu, yang membuatnya terbang lalu dijatuhkan oleh kenyataan yang sangat pedih.
"Love you, Fal," kata Valen kepada Rifal dengan tulus.
"Love you to, Len," balas Rifal sehingga mereka berdua kembali berpelukan dengan erat.
Rifal melepaskan pelukannya lalu menyandarkan kepala Valen dikursi. "Kamu tidur aja, kalau udah sampai aku bangunin," kata Rifal yang melihat Valen sudah mengantuk berat.
__ADS_1
Valen mengangguk kecil lalu menutup matanya untuk segera tidur. Rifal kembali menjalankan mobilnya untuk segera pulang kerumahnya.
Rifal memasuki pekarangan rumahnya, dia turun dari mobil untuk membukakan Valen pintu. Dia langsung menggendong Valen untuk segera masuk kedalam rumah.
Dia yakin, Valen sangat capek apalagi dia sedang mengandung membuat tingkat capeknya bertambah.
Cup
Rifal mencium kening Valen lalu menyelimutinya.
"Gue bakalan selalu ada buat lo, Len. Lo sangat berarti dalam hidup gue." kata Rifal lalu mengambil handphonenya untuk mengirimkan pesan kepada seseorang.
Setelah pesanya terkirim, dia membaringkan tubuhnya di dekat Valen lalu menatap langit-langit kamarnya malam ini. Dia tau, hubungannya dengan Valen baru saja dimulai, dia sangat yakin bakalan banyak rintangan kedepannya yang akan dia lalui.
Rifal menamakan pada dirinya sendiri, jika dia bisa melewati semuanya ini jika bersama dengan orang yang dia cintai. Jujur saja, Rifal juga masih memikirkan kondisi Adelia, dia sudah tidak mempunyai perasaan kepada gadis itu. Namun rasa bersalah selalu menghantuinya sehingga dia masih ingin mengetahui kondisi Adelia.
Apa lagi sampai sekarang ini, Rifal yang membiayai pengobatan Adelia sampai gadis itu benar-benar sembuh.
Terdengar hembusan nafas berat keluar dari mulut Rifal, membayangkan hal kedepannya membuatnya harus ekstra hati-hati. Dia melirik Valen yang sudah tertidur lelap, dia menyungkirkan senyum tipisnya lalu menutup matanya untuk segera bergabung kedalam mimpi.
Masih ada hari esok, dia harus memikirkan hari esok untuk persiapannya bekerja.
***
Pagi -pagi begini Nando sudah merenggangkan otot-otot tubuhnya. Dia belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Dia melirik jam masih pukul delapan pagi menandakan dia masih mempunyai banyak waktu untuk bermalas-malasan diatas kasur.
Dia mengecek handphonenya, rupanya pesan yang dikirim oleh Rifal semalam tidak sempat dia balas karna dia tengah tertidur.
"Gue mau lo pecat Amora sebagai sekretaris. Cari sekretaris lain gue nggak mau kalau Amora masih menjabat sebagai sekretaris!"
Pesan tersebut dari Rifal yang memerintahkan Nando untuk memecat Amora dari pekerjaannya. Nando belum bisa berpikir keras karna nyawanya belum juga terkumpul.
__ADS_1
Nando iseng-iseng melihat stori wa, dia menyungkirkan senyum mengambang saat melihat Lea baru-baru saja mengupdate stori. Kemarin mereka berdua saling bertukar nomor wa.
Tangan Nando bergerak membalas stori Lea.
Ting
Lea yang sedang cemberut karna masih ngantuk melihat handphonenya, dia membuat stori emoticon menguap menandakan jika dia masih ngantuk tidak ingin diganggu namun ada saja yang membalas stori nya.
Dia tambah jengkel saat melihat siapa yang membalas stori nya, siapa lagi kalau bukan Nando.
"Sok seleb banget dah ini bocah," Nando menggelengkan kepalanya karna Lea tak kunjung membalas pesannya, padahal dia mengirimkan sticker lucu gambar monyet kepada gadis itu.
Ting
Pesan Nando telah dibalas oleh Lea.
"Nauzubillah!" pekik Nando terkejut, saking terkejutnya dia membuang handphonenya diatas kasur. Untung saja diatas kasur kalau diabawah lantai sudah dipastikan handphone mahalnya itu akan pecah begitu saja karna balasan pesan dari Lea.
Nando mengambil handphonenya kembali, dia tidak menyangka jika gadis bar-bar itu sedang mengirimkan dirinya pap pagi-pagi begini. Andaikan saja foto cantik yang dia kirim mungkin Nando tidak terkejut. Tapi ini, Lea memberikan pap kepada Nando dengan wajahnya yang kusam, belum cuci muka, rambut acak-acakan serta dia masih berbaring diatas kasur. Dan jangan lupa ekspresi wajahnya yang cemberut seperti anak kecil yang tidak pernah diberikan uang jajan.
Nando tidak tau, mengapa pikiran gadis itu selalu aneh. Bisa-bisanya dia mengirimkan foto sejelek itu kepada Nando tapi Untung saja imut jika diperhatikan.
Nando menyimpan foto Lea, siapa tau saja dia bisa menjadikannya senjata kelak.
Ting
Pesan dari Lea masuk kembali padahal Nando belum membalas foto yang dikirim oleh Lea tadi.
"Jangan ganggu tidur Lea. Kalau nggak Lea bakalan sunat kak Nando!" ancam Lea membuat Nando meneguk Saliva nya susah payah. Apa lagi dia tau jika Lea adalah mahasiswa keperawatan jika soal sunat menyunat sudah pasti tau.
"Harusnya kamu bersyukur bisa punya nomor saya, jarang-jarang loh saya kasi nomor pribadi saya ke orang lain, apa lagi orang baru kenal," oceh Nando.
__ADS_1
Jujur saja, dinomor pribadinya hanya ada nomor orang penting. Jika wanitanya meminta nomornya dia selalu memberikan nomor umumnya.