Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ada kemajuan


__ADS_3

Rumah sakit…


Sudah satu bulan ini, Rifal belum juga sadarkan diri semenjak dia di temukan. Hingga saat ini juga, Valen belum di temukan.


Rina dan Aska berusaha mengikhlaskan Valen dan juga anak dalam kandungan Valen.


Tapi sampai sekarang, wanita itu tak kunjung di temukan, jenazahnya juga tidak di temukan di laut jika wanita itu sudah pergi.


Apakah tubuh indah itu sudah di mangsa oleh penghuni laut? Sehingga mereka tidak menemukan mayat Valen.


Rina berusaha tegar menerima semua kejadian yang menimpah keluarganya. Hanya saja, apakah saat Rifal bangun dia akan menerima jika Valen sudah satu bulan tidak ada bersama mereka.


Semuanya akan kacau jika Rifal sadar. Rifal yakin, orang pertama yang akan dia cari adalah istrinya sendiri.


Memikirkan itu membuat Rina tidak tau, apakah anaknya itu akan bahagia jika sudah bangun.


Rina tidak ingin kehilangan senyuman Rifal jika anaknya itu tau, jika sang istri sudah tidak ada.


Mereka ingin mengatakan Valen sudah meninggal, tapi mereka tidak mempunyai bukti apapun yang jelas.


Bagaiamana jika Rifal menyuruh mereka untuk mengantar dirinya di makam milik Valen? Apakah Rifal akan menerima dengan lapang dada, jika mereka mengatakan yang sebenarnya.


Sudah satu bulan, Valen tak kunjung di temukan hingga saat ini.


“Bagaiamana keadaan anak saya, dok?” tanya Aska kepada dokter yang dia perkirakan umurnya hanpir sama dengan anaknya itu.


“Alhamdulillah, ada perubahan pak kepada pasien. Kita tingga menghitung hari dan berdoa saja, semogah pasien cepat membuka matanya,” ucap dokter Zul dengan senyuman khas miliknya.


Aska bernafas legah mendapatkan jawaban yang baik dari dokter yang memeriksa anaknya. “Terimaksih, dok,” ucap Aska dengan senyuman tak kalah ramahnya.


“Iya, pak, kalau begitu saya duluan, masih ada pasien yang ingin saya tangani,” pamit Zul kepada Aska.


“Baik, dok.”

__ADS_1


Aska mengantar dokter Zul sampai depan pintu, lalu pria itu pergi menuju kamar pasien lainnya.


“Bagaimana kondisi, Rifal?” tanya Rina yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu baru saja selesai mandi.


“Ada perubahan kata dokter, kita tinggal menunggu hari dan menyerahkan semuanya sama sang pencipta,” jawab Aska menghampiri Rina.


Rina duduk di sofa seraya melihat kearah bansal Rifal yang masih setia memejamkan matanya.


‘’Kesedihan di wajah Rifal, tidak lama lagi kita lihat,” sedih Rina.


Dia sudah membayangkan, wajah anaknya itu saat bangun dan menanyakan keberadaan istrinya.


Padahal, dia sudah sangat bahagia dengan kehadiran sang anak, dan Rifal sudah mengatakan kepada mereka jika dia sudah tidak sabar menjadi orang tua seperti teman mereka, mengendong dan bermain dengan anak mereka.


Harapan itu langsung musnah dalam satu kali hentakan. Bahkan, Rina tidak sanggup melihat wajah kesedihan Rifal saat bangun nanti.


''Aku tidak bisa melihat wajah kesedihan anak kita kalau dia sudah bangun,'' lirih Rina. ‘’Bangunya akan membuat hati kita akan sakit. Dan pastinya aku sebagai wanita yang melahirkan dirinya pasti akan menangis juga melihat dia akan meronta meminta Valen untuk kembali.'' Tidak terasa air mata Rina jatuh di pipinya.


Menunggu Rifal bangun memang hal yang selalu dia nantikan selama satu bulan ini. Namun jika Rifal sadar anaknya akan semakin tersiksa menerima kenyataan pahit ini.


''Tidak ada yang lebih menyedihkan kehilangan pasangan hidup kita,” tangis Rina memeluk suaminya.


Anaknya itu belum menua bersama istrinya, tapi sang pencipta menberikan ujian ini di rumah tangga mereka.


Aska dan Rina berusaha perlahan-lahan untuk melepaskan Valen. Meski hatinya sangat berat untuk mengikhlaskan Valen.


Karna sampai sekarang, mereka juga tidak tau. Apakah Valen hingga saat ini masih hidup atau tidak. Atau bahkan mayat Valen sudah di makan hewan laut, sehingga sampai sekarang tak kunjung di temukan.


Pintu ruangan Rifal di ketuk…


Rupanya yang datang adalah Alvi dan juga Kevin.


Kondisi Alvi juga sudah sedikit membaik, dia berusaha menerima ketetapan jika anaknya itu di dekam dalam penjara selama 13 tahun lamanya.

__ADS_1


“Apa yang di rasakan oleh Elga, nggak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan apa yang di alami Daniel. Dia meninggal dan meninggalkan anaknya yang kecil…Dan sekarang anak itu yatim piatu.”


Kata-kata itu selalu di lontarkan Frezan kepada mereka yang tinggal di rumah Frezan. Kayla, Rara, Kevin, Alvi. Mereka semua mendapatkan kata-kata yang sama dari Frezan agar mereka semua tidak berlarut dengan ini semua.


“13 tahun Elga akan kembali…Apakah 13 tahun itu membuat Daniel kembali untuk anak dan orang yang membutuhkannya? Tentu saja tidak. Karna Daniel pergi untuk selamanya, sementara Elga cuman 13 tahun. Dia tidak seumur hidup mendekam dalam penjara!”


Kata-kata tegas dari Frezan tentu saja menyadarkan mereka. Meski masih ada rasa sakit yang tidak bisa untuk di ungkapkan.


Tapi mereka semua berusaha ikhlas dengan ini semua. Mereka akan menunggu 13 tahun lamanya, dan akan berkumpul kembali.


Rina mengusap air matanya saat melihat kedatangan Alvi dan juga Kevin.


“Sini duduk,” ajak Aska mempersilahkan Kevin dan juga Alvina.


Alvina dan Kevin sudah duduk di atas sofa.


''Bagaimana kondisi Rifal?'' tanya Alvina.


''Sudah membaik, Al. Kata dokter, kita tunggu beberapa hari saja dan serahkan semuanya sama yang di atas. Agar Rifal cepat sadar,'' ungkap Rina.


‘’Alhamdulillah,'' ucap Alvi.


Alvina tidak membicarakan mengenai Valen, karna dia takut melukai hati Rina karna menantunya yang sedang mengandung itu tak kunjung di temukan di pantai Bali.


''Aku nggak bisa lama-lama di sini,'' ucap Alvina. ''Aku akan kembali ke luar negeri untuk menjalankan bisnis kami yang sudah hampir setengah tahun kami tinggalkan,'' ucap Alvina membuat Aska langsung menatap Alvina.


''Kenapa kamu nggak menetap di sini, Al?'' tanya Aska yang sudah menganggap Alvina seperti adiknya kandungnya sendiri.


Kalian masih ingat, kan, bagaiamana bisa Alvina dan Aska seperti adik kakak.


Alvina menghembuskan nafas berat lalu tersenyum kearah Rina dan juga Aska. ''Mungkin dengan kesibukan, aku bisa melupakan sedikit masalah yang menimpa kelurga ku,” terang Alvina.


“Aska, Rina, kamu yang sabar juga, ya,” lanjut Alvina memeluk Rina dengan erat.

__ADS_1


Meskipun pada masa SMA, Rina dan Alvina musuh bebuyutan. Tapi mereka sudah sadar dengan beriring berjalanya waktu, dan mereka memberikan support satu sama lain.


‘’Semogah Rifal cepat sadar dan kembali pulih,'' ucap Kevin kepada Aska lalu kedua pria dewasa itu berpelukan.


__ADS_2