
Sepanjang perjalanan, Valen hanya melihat kearah luar jendela mobil sembari membiarkan angin malam menerpah wajahnya malam ini.
Malam ini Valen sudah pulang dari rumah sakit, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Valen sehingga dia bisa keluar malam ini.
Angin malam menerpah wajahnya yang sedikit lesuh, jujur saja perkataan Rifal tadi masih terngiang-ngiang dipikirannya.
Sifat Rifal seperti bunglon, kadang berubah-ubah. Kadang sikapnya manis, semanis kue dan kadang pahit, sepahit sayur pare. Kadang juga perkataan Rifal sepedas boncabe level sepuluh.
Air mata Valen terjatuh dipipihnya, jujur saja perkataan Rifal tadi tidak bisa dia hapuskan dalam pikirannya. Perkataan pria itu tersimpan baik didalam memorinya.
Valen pikir, dengan Rifal tau jika dia hamil dia bisa dicintai oleh Rifal, namun kenyataannya tidaklah seperti itu.
Valen menghapus air matanya dan itu tidak lepas dari ekor mata Rifal. Dia tau jika perempuan itu tengah menangis.
Tangan Rifal bergerak menutup pintu jendela mobil, sehingga Valen melirik pria itu. Pasalnya dia sudah nyaman dan Rifal menutup kaca jendela mobil.
"Nggak baik buat kesehatan kamu. Apa lagi kamu hamil," peringat Rifal lalu kembali fokus menyetir mobilnya.
Valen menyandarkan kepalanya disandaran mobil, dia tidak membalas perkataan Rifal. Terserah pria itu mau berbuat apa.
Valen akan belajar mengubur perasaannya kepada suaminya itu.
Jujur saja, dia sudah mencintai Rifal. Namun pernyataan Rifal yang dirumah sakit tadi membuat Valen berpikir jika dia tidak bisa bersama Rifal lagi.
Atau mungkin Rifal berpikir akan menceraikan dirinya setelah anaknya lahir?
Mobil milik Rifal memasuki pekarangan rumahnya. Valen langsung turun dari mobil tanpa menunggu Rifal terlebih dahulu.
Valen berjalan cepat menaiki anak tangga. Dia ingin membuka kamarnya namun kamar itu ternyata sedang terkunci, padahal seingatnya kamarnya tidak dia kunci pagi tadi.
Dia mencari kunci namun dia tidak mendapatkannya. Hingga suara Rifal yang membuatnya berhenti mencari kunci kamar yang selama ini dia tempati.
"Mulai sekarang, kamu tidur sama aku," kata Rifal membuka kamarnya lalu masuk membiarkan Valen diam mematung ditempatnya.
__ADS_1
Apa dia tidak salah dengar?
Rifal membaringkan tubuhnya, sembari melihat kearah pintu menunggu Valen untuk masuk. Namun sudah sepuluh menit wanita itu belum juga masuk kedalam kamar.
Rifal bangun dari tempatnya untuk mencari Valen, namun dia tidak melihat Valen.
Dia menuruni anak tangga untuk segera turun, siapa tau saja Valen berada dibawah.
Bau masakan masuk kedalam indra penciuman Rifal, dia melihat Valen tengah memasak sesuatu. Kenapa wanita itu tidak mengatakan padanya jika dia ingin makan sesuatu? Bisa saja 'kan Rifal membelikannya untuknya.
"Kalau kamu mau makan sesuatu, bilang sama aku. Nggak usah masak, kamu harus jaga kesehatan kamu. Kamu tau 'Kan kalau kamu sedang mengandung." Suara Rifal membuat pergerakan tangan Valen yang memasak nasi goreng kesukaannya terhenti dengan suara pria itu.
Rifal dan Valen saling bertatapan, membuat Valen merasakan sesuatu yang tidak adil. Iya, Valen merasakan jika perkataan Rifal khusus untuk anak yang dia kandung.
Valen langsung mencium bau angus, saking lamanya memandang Rifal membuatnya lupa dengan apa yang dia kerjakan.
"Yah, hangus!" kata Valen sembari mematikan kompornya. Andaikan saja Rifal tidak ada di sini, mungkin dia sudah menyantap masakannya tanpa drama hangus.
Rifal menyeritkan alisnya, pasalnya dia tidak melakukan sesuatu namun perempuan itu menyalahkan dirinya.
"Aku nggak ngelakuin apa-apa, yah," balas Rifal yang tidak terima Valen menyalahkan karna nasi goreng yang hangus.
Valen berkacak pinggang, menatap pria yang sudah membuatnya sakit hati sekaligus jatuh cinta tanpa dicintai. Sakit bukan!
"Kalau aja kamu nggak disni. Mungkin nasi goreng yang aku buat nggak bakalan hangus. Kamu sih ngajak aku ngobrol!" seloroh Valen kepada Rifal sehingga membuat pria itu memasang wajah datar.
"Nasi goreng, biar sepuluh aku beliin!" desis Rifal yang tidak ingin disalahkan oleh Valen.
"Yaudah kalau gitu. Kamu keluar gih, beliin gue nasi goreng," kata Valen membuat Rifal menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit dia artikan
"Kenapa? Lo nggak bisa? Makanya jangan sok-sokan!" Jika mengingat perkataan Rifal tadi, ingin sekali Valen mencaci Rifal saat ini juga.
"Omongan kamu jaga!" peringat Rifal. "Aku nggak mau karna kamu bicara kasar saat hamil, bakalan buat terpengaruh anak aku dalam kandungan kamu," lanjutnya dengan datar membuat Valen sedikit membukakan mulutnya sedikit terkejutnya mendenger apa yang dikatakan oleh Rifal.
__ADS_1
Jadi ini alasan Rifal menggunakan kata 'Aku' dan 'Kamu' . Valen pikir pria menggunakan kata sopan itu karena pria itu kerasukan setan yang pagi tadi.
Ternyata dia salah!
"Jangan pernah gunakan kata yang nggak sopan. Selama kamu hamil. Aku mau anak aku jadi anak yang sopan."
"Bukan cuman anak kamu, tapi anak aku juga!" Valen menekan setiap perkataannya sehingga Rifal juga berkacak pinggang sembari bertatapan didapur.
"Emangnya kamu siapa?" Pertanyaan Rifal sungguh tidak berbobot. Mengatakan Valen siapa? Jelas-jelas saja jawabnya sudah dia ketahui.
Valen menghentakkan kakinya. "Aku ibu dari anak yang aku kandung. Pengorbanan ibu lebih besar daripada pengorbanan seorang ayah. Apa kamu tau, ibu lah yang melahirkan, menyusui, kamu pikir itu gampang? Nggak segampang apa yang kamu pikirkan!" Valen menjelaskan dengan jengkel membuat Rifal hanya acuh saja.
Rifal hanya berdecih. "Kamu istirahat sama baby R. Biar aku yang beliin kamu nasi goreng. Biar kamu dan baby R nggak kelaparan. Aku nggak mau sampai anak aku kelaparan karna kamu nggak makan," kata Rifal membuat Valen melototkan matanya.
Siapa baby R?
Valen menggelengkan kepalanya, seharusnya dia yang memberikan nama. Bukan Rifal, karna dia yang mengandung.
"Nama yang kamu kasi jangan aneh ya, Fal. Apa itu baby R. Maksud kamu Rifal junior?"
"Jawab dong, baby R itu siapa. Masa iya namanya cuman R. Kan nggak srek!"
Rifal jadi pusing, pasalnya nama itu dia dapatkan dari Lea. Dia tidak tau apa baby R? Apakah nama anaknya itu keren atau tidak?
"Masih rahasia!" cetus Rifal.
"Tunggu disini. Aku keluar beli makan," kata Rifal lalu berjalan pergi, sembari memikirkan kira-kira Baby R. Jawabannya hanya Lea saja yang tau.
Pokoknya Rifal besok harus bertemu dengan Lea, menanyakan nama calon anak yang diberikan oleh tetangga gesreknya itu.
Valen melihat punggung Rifal semakin menjauh lalu berjalan kearah meja makan sembari menunggu kepulangan Rifal membawakannya nasi goreng.
Rifal langsung melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah, untung saja masih pukul delapan malam. Sehingga restoran di Jakarta belum tutup.
__ADS_1