Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Fernando yang malang


__ADS_3

Nando menghentakkan kakinya, lalu berjalan menuruni anak tangga untuk makan. Dia sangat lapar setelah mengurus Anna yang rewel menurut Nando.


Nando berjalan menuju meja makan untuk makan.


''Buset!'' Nando menggeleng, melihat meja makan kosong tanpa makanan.


Dia tau jika para pekerja di rumah ini sudah di liburkan oleh Rifal gila, sehingga tidak ada yang memasak makanan.


''Dasar bos gila!''


Dengan lesuh, Nando berjalan menuju kamar Kianna untuk mengambil kunci mobil. Dia akan makan di luar.


Nando menghentakkan kakinya saat ia ingin membuka knop pintu tidak bisa, sudah pasti Rifal mengunci pintu dari dalam.


Tok...


Tok...


Tok..


Rifal yang sedang berciuman dengan Valen langsung menatap kearah pintu. ''Buka dulu, siapa tau Nando mau pamit pulang.'' Valen kembali menyuapi Kianna bubur karna waktunya tadi di sita oleh Rifal.


Ceklek.


Rifal membuka pintu kamar dan menatap Nando dengan wajah datar.


''Kunci mobil, Fal,'' ujar Nando menunjuk kearah meja.


''Lo mau kemana? Kalau lo balik ke apartemen lo nggak ada yang jagain, Anna.'' Rifal berkacak pinggang membuat Nando memutar bola matanya malas.


''Saya mau cari makan, saya lapar.''


Rifal berjalan mengambil kunci mobil Nando. ''Nih, lepas makan langsung balik ke sini.''


''Iya-iya.'' Nando langsung berlalu pergi dsn Rifal kembali menutup pintu kamar.


''Len, lanjut,'' ucap Rifal dengan manja.


''Lanjut apa?'' tanya balik Valen seraya mengajak mengobrol anak kecilnya.


''Ciuman.''


''Nanti lagi, Fal. Kamu nggak lihat aku lagi nyuapin Anna makan.''


Rifal akhirnya mendengar ucapan Valen, lalu berbaring di dekat Anna. ''Anak papah, jangan rebut mamah kamu dari papah, ya.''


Valen menggelengkan kepalnya. ''Yang besar ngalah sama anak kecil.''


Valen menyuapi Anna dengan telaten membuat Rifal tersenyum, posisi Rifal sedang baring di sebelah Anna, sementara Valen tengah menyuapi Anna bubur.


''Len, aku nggak nyangka bakalan jadi orang tua, dengan kehadiran Anna.'' Rifal menoel dagu Anna dengan gemes.

__ADS_1


''Udah tau menjadi orang tua, tetap aja mau bersaing sama anak sendiri,'' sindir Valen membuat Rifal terkekeh.


''Anna bayi kecil, aku bayi gede kamu.''


‘’Terserah kamu aja.''


Makanan Kianna sudah habis, Valen meletakkan mangkok tempat bubur Kianna tadi lalu menggendong Kianna.


''Anak mamah udah kenyang, ya?'' tanya Valen mengajak Anna bicara membuat anak kecil itu tertawa.


Valen tertawa melihat anaknya merespon dirinya. ''Fal, anak kita cantik banget,'' gumam Valen.


''Anak cantik dan tampan itu tergantung keturunan, Len.''


Rifal bangun dari tempat tidurnya lalu duduk di samping Valen. ''Sini aku gendong, Anna.'' Rifal meminta Kianna.


Valen nampak ragu...


''Aku udah lebih dulu gendong Anna daripada Nando.''


Valen akhirnya memberikan Kianna pada Rifal. Dia baru mengingat ucapan Kakek Halan dan nenek Daro sebelum dia ke Jakarta.


Mengingat kedua kakek dan nenek itu membuat Valen merinduknya. Bagaimanapun pasangan lansia itulah yang menolong dirinya sehingga dia masih ada di sini menghirup udara bersama anaknya.


Valen sempat mengajak kakek Halan dan nenek Daro kw Jakarta dan meninggalkan pekerjaannya yang di Bali yang lumayan sulit, dia mengajak pasangan lansia itu untuk tinggal bersamanya. Namun keduanya menolak dan ingin menatap di Bali saja dengan pekerjaannya sebagai nelayan dan penjual ikan di pasar seafood.


Valen tidak bisa memaksa keduanya, meskipun hatinya ingin membawa kedua orang itu di sini.


Nando memasuki cafe untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan, sekaligus cari angin karna rasa lelahnya dengan sikap Rifal.


Nando turun dari mobil dan mengerenyitkan dahinya melihat mobil Nathan parkir di sini juga.


Sudah pasti pria itu tengah makan di sini entah sendiri atau dengan....


Nando masuk kedalam cafe dan saat di ambang pintu masuk dia langsung melihat Lea dan Nathan sedang makan bersama di kursi tengah.


Nathan sibuk memperhatikan Lea, itu semua tidak luput dari penglihatan Nando.


Nando tersenyum kecut, ingin rasanya dia pergi dari sini dan mencari tempat makan lain, namun perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.


Nathan langsung menangkap sosok Nando yang berdiri di pintu masuk Cafe. Nathan tersenyum kearah Nando seakan-akan ingin mnegatakan jika dialah yang menang mendapatkan hatinya, Lea.


Nando berjalan masuk dan melewati meja Nathan, Lea tidak melihat karna dia sedang menikmati makanannya.


Nando memilih duduk di kursi paling pojok.


''Kalau lihat ginian, bawaanya pengen ke club,'' gumam Nando berusaha menahan sesak di dalam dadanya.


''Makan pelan-pelan,'' ucap Nathan lembut mengusap bibir Lea dengan ibu jarinya.


Lea tersenyum. ''Habisnya makananya enak.''

__ADS_1


Nando terlihat kesal, dia yakin Nathan sengaja memperlihatkan ini. Padahal mereka bukan musuh tapi mengapa Nathan ingin sekali memanas-manasi Nando.


Nathan sengaja melakukan itu, supaya Nando sadar dan berhenti mengejar Lea karna tidak lama lagi Lea akan menjadi miliknya dengan seutuhnya.


Lea melanjutkan makanya tanpa mengetahui jika Nando ada di sini memperhatikan dirinya. Sekitar sepuluh menit makanan pesanan Nando datang.


Pelayan cafe meletakkan makanan pesanan Nando diatas meja, lalu pergi.


Nando menatap makanan di hadapanya, jika dia lagi seperti ini makanan di hadapanya tidak cukup untuk saat ini.


Nando kembali memanggil pelayan cafe, lalu memesan makanan dua kali lebih banyak dari yang dia pesan tadi.


Nando makan dengan lahap, lalu menyeruput es tehnya.


Nando berusaha agar tidak melirik kearah tempat Nathan dan juga Lea saat ini, namun tetap saja matanya ingin mencuri pandang.


Apa lagi dia melihat Lea semakin cantik dan imut.


''Dokter Nathan nggak makan lagi?'' tanya Lea melihat Nathan sudah tidak menambah makanan lagi.


Padahal makanan di hadapan mereka masih banyak.


Nathan menggeleng. ''Udah kenyang. Kamu aja yang habisin makananya.''


Lea mencabikkan bibirnya lucu. ''Entar Lea gendut.''


''Sebanyak apapun makanan yang kamu makan, badan kamu tetap begini. Kecil.''


''Iya deh.''


''Nanti kalau Lea nggak bisa di habisin lebihnya di bungkus aja buat mamah sama Raka dan Riki,'' ujar Lea dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


Lea sudah selesai makan, makanan lebihnya di bungkus untuk di bawa pulang dan di tambah lagi oleh Nathan.


''Dokter Nathan nggak ke rumah sakit?'' tanya Lea.


''Masuk malam,'' jawab Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


''Habis ini kita mau kemana?'' tanya Lea lagi.


''Sebenarnya aku mau ajakin kamu ke butik, buat nyobain gaun yang akan kamu pake saat kita tunangan. Tapi waktu udah mepet, kita perginya besok saja.''


''Yaudah deh.''


''Udah kenyang?'' tanya Nathan.


''Udah kok, malah kekenyangan,'' jawab Lea membuat Nathan tersenyum.


Nando tidak bisa jika kelamaan di sini, bisa saja kedua matanya mengeluarkan bulir air mata. ''Bohong kalau saya tidak cemburu.''


Fernando yang malang!

__ADS_1


__ADS_2