
Valen berlari kencang di koridor rumah sakit, saat mendapatkan Telfon dari Nando jika Rifal telah kecelakaan. Dan sekarang Rifal telah di larikan di rumah sakit tempat dia bekerja.
Dia tidak memikirkan lagi, jika dia sedang hamil, dengan dirinya lari seperti akan membahayakan dirinya sendri dan juga dirinya.
Sementara dokter Kiki langsung cepat menuju tempat duduknya bersama dengan Valen tadi, dia tidak tau lagi. Apa yang sedang terjadi pada dokter yang baru saja berteman dengannya.
Dia melihat Handpone milik Valen tergeletak dibawa lantai, bahkan Handpone mahal miliknya dia tinggalkan.
Dokter Kiki menyimpan makanan yang dia ambilkan untuk Valen diatas meja, langsung berjalan keluar meninggalkan kantin.
Dia yakin, ada masalah saat ini menerpah rekan barunya itu.
Valen berusah berjalan sesantai mungkin dengan berlinang air mata, dia tidak boleh egois karna ada nyawa di dalam perutnya. Dia terus saja terisak sepanjang jalan untuk segera menuju ruangan operasi.
I love you Valensia!
Kata-kata manis Rifal tadi masih melekat dalam pikiran Valen, pagi tadi saat Rifal mengantarnya kerumah sakit, pria itu berteriak kata I love you sehingga mengundang pasang mata.
“Gue harap kamu baik-baik, Fal. Kamu harus ingat, ada aku dan calon anak kamu yang butuh kamu.”
Valen telah sampai didepan kamar operasi, dia sudah melihat Lea dan juga Nando sedang mondar mandir.
“Lea, Nando!”panggil Valen sehingga membuat Lea dan juga Nando langsung melihat ke asal suara.
Dia sudah melihat wajah Valen sudah berlinang air mata, bahkan rambutnya sedikit berantakan.
“Dokter Valen.“
Lea langsung memeluk dokter Valen dengan erat, mencoba menenangkan tetangganya itu, sementara Nando masih menunggu seorang dokter yang menangani Rifal untuk segera keluar.
“Om Rifal pasti selamat,” kata Lea membuat Valen semakin mengeratkan pelukannya pada Lea.
Valen tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, namun air matanya terus saja mengalir dengan deras, dia berharap Rifal baik-baik saja di dalam.
Sementara dokter Kiki yang sudah tau mengapa Valen menangis hingga dia pergi meninggalkan kantin hingga Handpone miliknya terlupa. Ternyata ini semua, sekarang dia juga duduk didekat Lea yang berusa menangkan Valen.
Lea juga menangis, sebagai seorang tetangga dia sangat kasihan. Di tambah lagi dokter Valen dan juga Rifal sangat baik kepadanya. Bahkan sudah menganggap dirinya seperti adiknya sendiri.
“Dokter Valen,” panggi Lea karna tidak mendengar isakan kencang dari Valen lagi. Lea menepuk pipih Valen, sebagai seorang calon perawat tentu Lea tau jika saat ini dokter Valen sedang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Kak Nando!” Panggil Lea sehingga Nando langsung menghampiri Lea.
“Ada apa?”
“Dokter Valen pingsan.”
Nando langsung mengangkat tubuh milik Valen.
“Bawa dia keruangan sebelah sini,” instruksi Dokter Kiki pada Nando untuk membawa Valen keruangan yang tidak jauh dari tempat operasi.
Nando langsung membaringkan tubuh milik Valen. Sementar Lea terus saja terisak melihat kondisi dokter Valen yang kacau-balau jauh dari kata baik-baik saja.
Lea menggenggam tangan milik dokter Valen dengan erat. Sementara dokter Kiki langsung mengambil minyak wangi.
“Dokter, gimana dengan kondisi dokter Valen?”tanya Lea kepada dokter Kiki.
“dokter Valen kelelahan, dia membutuhkan istirahat,” kata dokter Kiki dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
“Sepertinya kamu kenal baik dengan dokter Valen,” kata dokter Kiki.
“Saya tetangga dokter Valen, dok,” jawab Lea.
Kiki mengeluarkan Handpone dari saku jasnya. “Ini Handpone milik dokter Valen, dia melupakannya di kantin rumah sakit.”
“Sama-sama.”
Jelang beberapa saat dokter Kiki telah pergi meninggalkan Lea dan juga Valen, dia masih Disini menunggu Valen sampai dia sadar.
Sementara Nando sudah pergi sedari tadi untuk menunggu dokter yang menangani Rifal.
Sudah satu jam lebih Valen belum juga sadar, Sementara Lea sudah tertidur sembari memegang tangan Valen. Gadis itu duduk diatas kursi lalu kepalanya dia simpan diatas bansal dekat tangan Valen sembari menggenggam tangan Valen.
Karna rasa lelah membuat Lea tidak sadar sampai dia tertidur.
“Jangan ninggalin aku, Fal. Aku mohon!”
Sepertinya Valen sedang bermimpi denga mata masih terpejam.
“Aku mohon bertahan demi aku dan anak kita!”
__ADS_1
Suara milik Valen yang lumayan keras membuat Lea langsung terbangun dan langsung berusaha menenangkan Valen.
“Fal, bertahan demi aku. Aku mohon!”tangisnya pecah membuat Lea langsung memeluk Valen. Dia juga belum mendapatkan kabar dari Nando, sudah satu jam juga Nando tidak kesini memberikan kabar.
“Dokter Valen tenang. Kita berdoa buat kesembuhan om Rifal.”kata Lea.
Karna lelahnya hari ini, membuat Valen kembali tertidur dengan isakan kecil sekali-kali dia menyebut nama Rifal dan menyuruh pria itu untuk bertahan.
Lea berjalan menuju kamar mandi, untuk membasahi wajahnya.
Nando langsung beranjak dari tempat duduknya, setelah dua jam menunggu akhirnya dokter yang menangani Rifal telah keluar.
Dia melihat salah satu dokter yang sering diceritakan Rifal keluar dari ruangan operasi bersama dengan beberapa dokter. Ada beberapa dokter yang menangani Rifal salah satunya adalah dokter Nathan yang tidak disukai oleh Rifal.
Nando ingin tertawa, bagaimana jika Rifal tau jika musuhnya yang menanganinya? Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.
“Gimana keadaan Rifal dok?” Pertanyaan itu langsung di lontarkan oleh Nando.
Nathan sudah lebih dulu meninggalkan ruangan operasi bersama beberapa perawat, hanya menyisahka satu dokter yang sudah tua dia antara mereka.
Dokter tersebut melepaskan maskernya.
“Pasien mengalami luka yang sangat berat,” kata dokter membuat Nando terdiam. “Dia banyak mengeluarkan darah. Akibat benturan di kepalanya.”
“Hampir saja kami tim medis menyerah, karna pasien kehilangan banyak darah. Apa lagi darah yang pasien miliki lumayan langkah, Stok darah di rumah sakit telah kami berikan semuanya yang sama dengan darah pasien. Namun, itu juga tidak cukup.” Dokter itu mulai menceritakan semuanya kepada Nando.
Nando masih menunggu kelanjutan dokter dihadapnya. “Jadi gimana keadaannya dok? Dia selamatkan?” Tanya Nando, dia hanya mendengarkan dua jawaban dari dokter di hadapnya, dan dia ingin dokter dihadapnya mengatakan jika pasien yang dia tangani selamat.
Sungguh Nando tidak bisa membayangkan jika sesuat itu terjadi pada bosnya. Tentunya Valen akan tersiksa.
Dokter tersebut tersenyum kearah Nando,”alhamdulillah pasien selamat, untung saja salah satu rekan medis kami mempunyai darah yang sama kepada pasien, sehingga dia suka rela mendonorkan darahnya kepada pasien. Sehingga atas izin Tuhan pasien selamat.”
Nando langsung mengusap wajahnya sembari mengucapkan kata terimaksih kepada Tuhan, jika mendengar dari orang yang melihat Rifal kecelakaan mereka semua mengatakan jika beliau berpeluang kecil untuk hidup. Namun ini semua mukjizat dari Tuhan.
“Terimaksih dok. Dan ucapkan juga ucapan terimaksih saya kepada rekan dokter yang sudah mendonorkan darahnya untuk Rifal,” kata Nando dan dibalas angguka kepala oleh dokter tersebut.
“Tapi pasien,” dokter tersebut menggantung ucapnya membuat Nando langsung menatap dokter tersebut dengan tidak sabaran.
“Tapi apa dok? Bukanya Rifal sudah selamat?”
__ADS_1
Dokter Tersebut menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan perkataanya.
“Pasien buta.”