Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Tangisan pilu anak El


__ADS_3

Rara dengan cepat menghampiri keponakanya itu. ''Dyta, kamu kenapa sayang?'' Tanya Rara menghampiri keponakan kecilnya itu.


Dyta yang mendengar namanya di sebut langsung mendongakkan kepalanya melihat Rara menuruni tangga menghampiri dirinya.


Rara dengan cepat membawa Dyta kedalam pelukanya, '' Kamu kenapa sayang?'' Rara berkata dengan lembut seraya memangku Dyta.


''Dyta kangen papah!'' Tangis anak itu pecah didalam pelukan Rara. ''Dyta kangen di gendong sama papah El. Dyta kangen main sama papah!''


Rara tidak bisa menahan air matanya, mendengar keponakanya yang masih kecil itu merindukan Elga.


''Sa..yang,'' Rara tergagap berbicara. Dia tidak tau harus berkata seperti apa.


''Dyta mau ketemu sama papah, hiks...!''


''Dyta mau peyuk sama papah, El hikssss…!''


''Dyta mau di gendong sama papah hiks....!''


''Cup....Cup....anak cantik jangan nangis yah,'' Rara berusaha menenangkan Dyta seraya mengusap air matanya.


Keponakan kecilnya itu merindukan Elga. Apa lagi Rara tau, jika Dyra lebih dekat dengan Elga di banding mamanya.


''Dyta mau ketemu papah!'' Tangis anak itu dalam pelukan Rara seraya memberontak.


Pintu utama dibuka, sehingga Rara langsung melihat kedatangan bunda dan ayahnya yang masih tampan dan cantik di usianya yang sudah tidak mudah lagi.


Alvi tentu saja kaget mendengar suara tangisan begitu keras dari dalam, rupanya yang menangis adalah Dyta yang berada di anak tangga bersama dengan Rara.


''Ra, Dyta kenapa?'' Panik Alvi berjalan cepat menghampiri Rara yang berusaha menenangkan Dyta.


''Bunda…!''


Kevin dengan cepat meggendong Dyta, takut Rara kewalahan menangani Dyta yang mengamuk menangis terseduh-seduh.


''Cucu manis kakek nggak boleh nangis,'' Kevin menggendong Dyta seraya menuruni anak tangga.


Tubunya yang mungil memberontak dalam pelukan sang kakek.


''Bunda....!'' Rara menangis dalam pelukan Alvi.


''Kamu nggak ganggu keponakan kamu kan? Sampai nangis kayak gitu,'' ucap Alvi dengan lembut.


Rara menggelengkan kepalnya. ''Dyta kangen sama Abang El,'' Rara kembali menumpahkan tangisnya didalam pelukan Alvi.

__ADS_1


Sementara Kevin yang mendengar perkataan Rara dari atas tangga merasa dadahnya seperti sedang di remas dengan kepedihan.


Jadi ini alasan Dyta cucunya menangis? Itu yang di pikir Kevin sekarang.


Sementara Alvi hanya diam saja seraya memeluk Rara. pantas saja cucunya itu menangis kesakitan.


''Bund…”


Rara mendongakkan kepalanya menatap Alvi yang menatap kosong kedepan. ''Kayla hamil anak ketiga mereka, Kayla baru kasi tau Rara.''


Deg


Perkataan Rara sukses membuat jantung Alvi berdegup kencang mendengar pernyataan dari anaknya.


''Kamu serius, Ra?'' Tanya Alvi degan serius.


''Iya, bunda.''


Lepas itu, Rara kembali menangis dalam dekapan Alvi. Sementara Kevin sudah tidak mendengarkan obrolan antara anak dan istrinya karna suara tangisan Dyta yang memekikkan telinganya di tambah lagi dia berusaha menenangkan cucunya.


''Cucu kakek nggak boleh nangis, nanti kakek bakalan beliin Dyta boneka besar,'' Kevin menawarkan permainan kepada Dyta, namun tetap saja anak itu tetap menangis.


Dari tangga Rara memperhatikan keponakanya itu di tenangkan oleh ayahnya, seraya menangis dalam pelukan Alvi.


Sementara Alvi terus-terusan berpikir mengenai cucu dan calon cucunya. Apakah dia harus bersujud dibawah kaki Frezan supaya menantunya itu mengeluarkan Elga dari penjara?


Padahal kamar yang dia tempati kedap suara, namun suara samar itu masuk kedalam indra telinganya.


Farel langsung membuang ponselnya diatas tempat tidur lalu berlari membuka pintu kamar.


Saat membuka pintu kamarnya, suara tangisan yang begitu piluh memenuhi rumah seluas ini. Farel melihat kearah bawah, melihat Dyta sedang menangis dalam dekapan Kevin yang masih setia menenangkan cucunya itu.


''Dyta,'' ringis Farel saat mengetahui jika suara itu berasal dari Dyta, sosok anak kecil yang selalu dia ledek dengan rambut keritingnya.


‘’Curiting kenapa nangis?” Batin Farel melihat Dyta dari atas.


Farel melirik kearah tangga, dia juga melihat Rara sedang menangis dalam dekapan Alvi membuat Farel bertanya-tanya lalu menghampiri Rara.


''Mbak, Rara!'' Panggil Farel sehingga Rara langsung melihat Farel menghampiri dirinya.


''Dyta kenapa nangis? Mbak Rara juga kenapa nangis? Ada apa?'' Farel bertanya dengan khawatir.


''Oma, Dyta sama mbak Rara kenapa?'' Tanya Farel kepada Alvi. Dia memanggil Alvi dengan sebutan omah.

__ADS_1


Alvi mengusap rambut Farel, ''Dyta lagi kangen sama papahnya,'' dengan kakuh Alvi menjawab pertanyaan dari Farel membuat Farel mengangguk mengerti.


Farel melihat Dyta masih memberontak dalam pelukan Kevin. Meski Farel masih kecil, dia sedikit tau mengenai masalah papah Dyta dan juga kakaknya Frezan.


''Nanti Farel bicara sama kak, Eza,'' kekeh Farel membuat Alvi tersenyum nanar.


Farel menuruni anak tangga, menghampiri Kevin yang menggendong Dyta.


''Curiting!'' panggil Farel. perlahan-lahan tangis Dyta sedikit redah dan menghentikan tubuhnya bergerak saat mendengar teriakan dari Farel.


''Suara mu sangat berisik, apa kamu tidak tau. Kalau aku sedang istirahat didalam kamar,'' Farel pura-pura kesal agar Dyta merespon dirinya.


Dyta sempat bahagia melihat Farel begitu kecil dibawah sana dan mendongkak kearahnya karna dia begitu tinggi di gendong Kevin dengan tubuh Kevin yang tinggi.


Namun beberapa menit kemudian dia kembali menangis dan memberontak menbuat Kevin kembali mengendong erat tubuh mungil Dyta, takut jika anak itu jatuh dalam gendonganya.


Dia memikirkan jika yang meggendong dirinya setinggi ini adalah Elga.


Suara Dyta semakin kencang menangis. Dyra yang sedang makan cemilan didalam kamar yang mendengar suara tangisan Dyta langsung berjalan dengan cepat kearah tempat tidur.


Dia ingin membangunkan Kayla, jika Dyta sedang menangis.


''Mah, mamah!'' Panggil Dyra seraya menggoyangkan tubuh Kayla.


Kayla menguap, karna tidurnya di ganggu oleh anak kecilnya ini. ''Kenapa lagi? Mamah udah kasi Dyra jajan supaya nggak ganggu mamah Bobo,'' ringis Kayla melihat wajah anaknya yang polos membangunkannya.


''Mah, Dyta nangis lagi,'' aduh Dyra menunjuk keluar pintu. Kayla memasang telinganya baik-baik. Benar saja, dia mendengar suara tangisan dari luar yang begitu piluh.


Padahal kamar tempatnya kedap suara, namun tetap saja dia mendengarkan suara anaknya itu.


Dengan cepat Kayla turun dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamarnya, dia langsung berjalan dengan cepat.


''Ra, Dyta kenapa?'' Tanya Kayla.


''Dyta kangen sama papah. Dyta mau peyuk papah, Dyta mau di gendong papah!'' Belum sempat Rara menjawab, suara tangis Dyta seraya berkata membuat Kayla langsung mengerti kenapa anaknya itu menangis.


Kayla langsung menghampiri mertuanya, ''Yah, sini Dyta, Kayla gendongan,'' pinta Kayla kepada mertuanya.


''Kamu yakin bisa gendong dia Kay? Dia berontak,'' jelas Kevin.


‘’Percaya sama, Kay.''


Kevin langsung memberikan Dyta kepada Kayla, dengan keadaan berontak.

__ADS_1


Kayla berusaha menenangkan anaknya itu, lalu kemudian membisikkan kata-kata kepada Anaknya.


Entah apa yang di bisikkan Kayla kepada Dyta membuat anak itu berhenti menangis dan berontak.


__ADS_2