
Mulut Kayla sangat gatal jika tidak mengatakan kata yang memang tidak dia sukai seperti tadi dia mengatakan jika Nando jelalatan.
Sementara Rifal sudah lebih dulu duduk didekat Valen membuat Valen berhenti mengunyah makanannya.
Rifal melirik makanannya. "Jangan makan-makanan pedas. Kamu sedang hamil," bisik Rifal ditelinga Valen membuat Valen menahan nafasnya karna hembusan nafas Rifal menyapuh lehernya.
"Dengar atau nggak?" Rifal kembali bertanya.
Valen melirik Rifal. "Dengar," kata Valen dengan suara rendahnya membuat Rifal mengangguk kecil.
Rifal menggeser makanan pedas dari hadapan Valen membuat Nando tersenyum simpul.
"Kalau saya nonton di sinetron nih yah, suaminya itu selalu nyuapin istrinya yang sedang hamil. Biasanya 'kan orang hamil banyak maunya," kata Nando membuat Valen dan Rifal bersaman melirik Nando yang tengah duduk didekat Kayla.
"Bacot lo!" ketus Kayla kepada Nando.
"Kamu bakalan rasain kalau kamu sudah menikah dan hamil seperti Valen," kata Nando membuat Kayla tersenyum sinis.
"Gue udah nikah, dan gue juga udah punya anak dua. Itu berarti gue udah laluin hal yang baru ingin dilalui oleh Valen," Kayla berkata dengan bangga membuat Nando menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entahlah, mengapa Nando setiap bertemu dengan wanita langsing dia selalu menebak jika perempuan itu singel.
Dia juga tidak menyangka jika Rara telah menikah dan juga Kayla. Karna saat melihat style mereka dua seperti seorang gadis yang sedang menikmati masa lajangnya.
Namun, Nando salah. Dia kembali tertipu!
"Lo pasti udah kenal sama suami gue," kata Kayla lagi membuat Nando mengerutkan keningnya. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan Kayla dan perempuan itu mengatakan jika dirinya telah mengenal suaminya.
"Saya pertama kalinya lihat kamu, mana sempat saya mau lihat suami kamu," ketus Nando membuat Kayla memasukkan kentang gorengnya dengan santai kedalam mulutnya.
"Oh ya," Kayla pura-pura kaget. Tentu saja Nando tau jika wajah kaget itu dibuat-buat.
"Suami gue sahabat asisten lo, itu," kaya Kayla lagi membuat Nando berpikir keras.
"Suami gue Elgara, sekretaris Frezan," kata Kayla dengan bangga mengingat wajah tampan milik suaminya. "Dia saudara kembar Rara," lanjutnya melirik Rara yang tengah makan.
Rara hanya mengangguk kecil meski dia tidak tau, apa yang dibahas oleh Kayla dan juga Nando saat ini. Tujuannya hanya untuk makan untuk segera pulang, karna Frezan telah menunggunya di rumah saat ini.
"Aku duluan yah, soalnya kak Eza udah nungguin aku dirumah," pamit Rara kepada orang disekitarnya.
__ADS_1
"Gue antar lo," kata Kayla ingin beranjak dari kursinya untuk mengantar Rara karna mereka berdua ke restoran bersama.
"Nggak usah, kamu disini aja sama Valen," kata Rara lalu benar-benar pergi dengan langkah sedikit cepat.
Gawat nih, mana aku nggak minta izin sama kak Eza buat keluar. Rara hanya bisa membatin sembari menunggu taxi lewat.
Rara melambaikan tangannya kearah taxi yang sedang menuju kearahnya. Dia langsung masuk kedalam taxu tersebut untuk segera pulang kerumahnya.
Sekitar sepuluh menit mengendarai taxi, akhirnya Rara telah sampai di rumahnya.
"Makasih, pak," kata Rara seteleh dia turun dari taxi.
"Sama-sama," balas supir taxi tersebut.
Rara berjalan menuju pintu utama, sebelum membuka pintu terlebih dahulu dia menarik nafasnya panjang.
Ceklek
Rara membuka pintu utama, hal pertama dia lihat adalah suaminya yang tengah berkutat dengan laptopnya. Frezan mendongakkan kepalanya melihat kearah Rara membuat Rara mengigit bibirnya dengan melihat tatapan Frezan saat ini.
Frezan kembali fokus pada laptopnya mengecek pekerjaan para karyawannya di Kantor.
Rata membalikan badannya dan dibuat terkejut oleh Elga.
"Kayla mana?"
Rara langsung mengelus dadanya saking terkejutnya dengan suara Elga yang entah sejak kapan berada dibelakangnya.
"Masih di Restoran," jawab Rara kepada Elga.
Elga menyipitkan matanya kearah Rara. "Kenapa dia nggak balik sama lo, Ra?" tanya Elga karna setahunya Kayla tengah keluar bersama dengan Rara.
Sementara anak-anak mereka dia titipkan kepada baby sister.
"Kak Eza nyuruh aku pulang cepat," kata Rara dengan suara pelan takut jika Frezan mendengar perkataannya. Meski perkataannya itu tidak penting sama sekali.
Elga melirik kearah Frezan yang tengah fokus dengan laptopnya.
__ADS_1
"Aelah, Ra. Nggak usah takut sama suami sendiri." Elga sengaja membesarkan suaranya agar didengar oleh Frezan.
Tentu saja Rara langsung menutup mulut Elga dengan kedua tangannya. Sementara Frezan hanya mendengarkannya tanpa harus melirik mereka berdua.
"Bang Elga!" geram Rara dengan suara pelan kepada Elga.
"Kalau dia sayang sama lo, dia nggak bakalan nyakitin lo," kata Elga mengambil nafas panjang karna bekapan dari tangan Rara membuatnya ingin kehabisan nafas saja.
"Kata siapa kak Eza nyakitin aku?" tanya Rara membuat Elga memutar bola matanya malas. "Berarti kak Eza sayang sama aku karna nggak pernah nyakitin aku," lanjutanya.
"Tau ahk, gelap," kata Elga lalu berlalu pergi meninggalkan Rara.
Sementara Rara menghentakkan kakinya melihat punggung Elga sudah pergi.
Rara berjalan mendekati Frezan, entahlah mengapa Rara harus takut kepada Frezan padahal dia sudah tau jika Frezan tidak pernah menyakitinya selama mereka menikah.
Mungkin saja pembawanya yang tenang akan menjadi dahsyat jika terganggu.
"Sayang," panggil Rara setelah dia berdiri didekat Frezan.
Frezan tidak menyahut membuat Rara tersenyum kecut, dia duduk didekat Frezan dengan sangat dekat membuat Frezan tidak bisa fokus memeriksa dokumen masuk kedalam email karna sentuhan dari Rara saat ini.
"Minta maaf," kata Rara dengan penuh harap kepada Frezan.
"Aku mau minta izin sama kamu tadi, tapi aku urungkan karna kamu lagi rapat," kata Rara menjelaskan mengapa dia tidak menelfon Frezan sebelum dia pergi.
Frezan menutup laptopnya, sebentar malam dia akan melanjutkan pekerjaannya itu.
"Kamu masih ingat 'kan kalau aku pernah kasi kamu hukuman?" tanya Frezan lebih tepatnya sebuah pernyataan guna untuk mengingatkan wanitanya.
Rara mengangguk kecil, tanda dia masih ingat dengan hukuman yang diberikan oleh Frezan.
"Aku tau, kamu kasi aku hukuman buat jagain Hasya dan Tegar selama satu bulan biar waktunya nggak banyak sama baby sister," kata Rara dan dibalas anggukan kecil oleh Frezan.
"Dan sekarang kamu tau 'kan, kalau Tegar sama Hasya dijagain sama baby sister," kata Frezan membuat Rara mengangguk kecil.
"Yaudah, aku maafin asal hukuman kamu aku tambahin," kata Frezan santai membuat Rara meneguk Saliva nya. Jangan sampai Frezan memberikan hukuman untuk menjaga kedua anaknya sepenuhnya. Jujur saja Rara akan letih jika mengurus kedua anaknya seorang diri tanpa bantuan baby sister.
__ADS_1
"Hukumannya, manjain aku setiap pulang kerja. Lebih mana dari biasanya," kata Frezan membuat Elga yang tidak sengaja mendengar perkataan Frezan berekspresi ingin muntah saja