Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Saling mencintai


__ADS_3

Satu minggu berlalu, sudah satu minggu Lea dan Nathan menikah. Mereka berdua selalu bahagia dengan canda tawa yang di berikan Nathan untuk Lea.


Lea sudah terbiasa dengan permainan Nathan diatas tempat tidur. Bahkan, Nathan mengajari Lea bagaiamana cara bercinta dengan suami yang benar.


Otak Lea benar-benar sudah kotor semenjak sudah menikah dengan Nathan. Nathan selalu mengajarnya mengenai suami istri harus puas satu sama lain.


Jika satu pihak belum puas, maka jangan berhenti bermain. Lea hanya mengangguk-nganggur saja.


Karna dia nyaman, setelah melakukan hal yang semestinya suami istri lakukan, Nathan selalu memanjakan dirinya, menciumnya dan memeluknya dengan nyaman.


Nathan selalu membuat Lea tertawa, meracuni otak istri kecilnya itu. Untung saja mereka sudah sah.


Nathan selalu menggoda Lea, baik di kamar, dapur bahkan di dalam mobil.


Meski baru satu minggu selesai pernikhanya, Lea merasa sudah berbulan-bulan lamanya.


Saat ini, Lea sedang sibuk memasak sayur sup kesukaan Nathan.


Namun, Nathan datang tiba-tiba, lalu memeluk Lea dari belakang.''Masak sayur sup?'' tanya nathan dengan suara khas bangun tidurnya.


Bangun dari tempat tidur, tidak melihat istri kecilnya di kamar, membuat Nathan langsung melangkah ke dapur.


Benar saja, istrinya itu sedang memasak sayur sup kesukaan di dapur.

__ADS_1


''Iya,'' jawab Lea, dengan Nathan masih setia memeluknya dari belakang.


Nathan membalikkan tubuh Lea, dia kembali mencium Lea dengan penuh hasrat. Apa Nathan tidak puas? Mereka tidur hampir subuh, selama mereka menikah.


Humphh


Lea mengeluarkan suara irotisnya, membuat Nathan memegang pinggul Lea, mendekat padanya.


''Lea masak dulu,'' ucap Lea dan dibalas anggukan pasrah oleh Nathan.


Padahal, Nathan sedang menikmati ciumannya. Karna Lea juga tidak tinggal diam, dia juga membalas ciuman Nathan. Tentu saja karna ajaran Nathan pada otaknya yang polos. Tapi sekarang, sudah tidak sepolos itu. Karna Nathan berhasil menguasi otaknya dan membuatnya terbang setiap sentuhan yang diberikan Nathan.


Lea melanjutkan memasak sayurnya, dengan Nathan di belakang masih setia memeluknya. Jika Lea tidak berhenti tadi saat ciuman, bisa jadi sarapan pagi di gantikan menjadi dirinya.


***


Hasya dan Tegar mereka titip pada Kayla, dan di bantu dengan Siska. Jika Rara dan Frezan sudah pulang dari bali, Kayla dan ketiga anaknya akan segera pindah kerumah barunya.


''Kamu senang?'' tanya Frezan memeluk Rara dari belakang, dengan Rara merentangkan kedua tanganya, memejamkan matanya, membiarkan angin pantai menerpah wajahnya yang cantik.


Rara membuka matanya, tanpa membalikkan tubuhnya, dia mengangguk mengiyakan ucapan Frezan.


Dia sangat senang, setelah bertahun-tahun lamanya berencana ke bali, akhirnya mereka ke bali juga, tanpa halangan.

__ADS_1


''Aku senang banget, Za,'' ucap Rara dengan jujur. ''Udah lama aku mau ke bali, dan akhirnya baru ke sampain. Aku seperti mimpi berada di bali.''


Frezan membalikkan tubuh Rara, kaki Frezan dan Rara dia biarkan terkena air laut. Rambut Rara berterbangan dengan indah, membuat Frezan menyelipkan anak rambut Rara ke belakang telinga, meski ujung-ujungnya di terpah angin kembai.


“Aku minta maaf, aku baru bisa bawa kamu ke tempat yang kamu mau, Ra.” Frezan tentu saja merasa bersalah, setelah sekian lama Rara ingin ke Bali, baru sekarang keinginan istirnya itu tercapai.


Rara menggeleng seraya tersenyum manis kepada suaminya. “Kamu nggak usah ucapin kata maaf, aku berterimakasih sama kamu. Kamu udah nurutin semua keinginan aku dari pertama kita nikah sampai sekarang.”


Mereka berdua berpelukan, angin pantai menyapu wajah mereka berdua, menerbangkan anak rambutnya.


Rara melepas pelukanya, air mata Kebahagian lolos di pelupuk matanya. “Makasih udah jadi suami idaman selama ini. Semogah kamu kayak gini terus, nggak berubah.”


Frezan menghapus air mata Rara, “aku akan selalu bahagiakan kamu, Ra. Hidup Ku hanya untuk kamu, cintaku untuk kamu, kasih sayang ku untuk kamu.”


“Terimaksih sudah menjadi istri yang baik.” Frezan menggenggam tangan Rara. Mereka sudah menikah lumayan lama, dan du karunia dua anak.


“Makasih juga, udah menjadi suami idaman dan ayah kesayangan anak-anak.”


“Makasih juga untuk suami aku, yang baik, ganteng dan segalanya. Kamu selalu buat aku bahagia.”


“Aku bahagia menikah dengan kamu, Za. Aku mencintai mu sampai akhir hayat.”


“Aku juga mencintaimu, Ra.”

__ADS_1


Frezan mengecup kening Rara begitu lama, lalu memeluk istri kesayanganya itu.


Mereka akan satu minggu di bali, lepas itu, mereka akan pulang ke Jakarta.


__ADS_2