
Valen dan Rifal masih saling bertatapan dengan kesadaran Rifal belum sepenuhnya terkumpul. Tangan milik Valen masih setia dipegang oleh Rifal.
"Mau kemana, lo?" tanya Rifal dengan suara khas bangun tidurnya. Dia masih setia menggengam tangan Valen dengan kondisi berbaring.
Sementara Valen dalam kondisi duduk yang siap untuk turun dari kasur king sizenya. Namun, tanganya ditahan oleh Rifal.
"Lo yang nyuruh gue 'kan buat nggak kemana-kemana termasuk buat kerja," kata Rifal membuat Valen kembali meneguk salivanya.
Apa Rifal akan menjalani hukumannya? Padahal 'kan Valen tidak menganggap serius akan hal itu, karna dia juga berpikir tidak mungkin Rifal menjalankan apa yang dikatakan olehnya.
"Fal, gue cuman bercanda soal kemarin. Jadi, lo nggak usah jalanin apa yang kemarin gue bilang," kata Valen membuat Rifal menyungkirkan senyum misterius.
"Anggap aja gue nggak ngomong apa-apa kemarin, yah," sambungnya membuat Rifal mengabaikan perkataan gadis itu.
"Perkataan yang udah keluar dari mulut lo bukan lagi milik lo. Tapi milik orang lain," kata Rifal santai membuat Valen merasakan atmosfer didalam kamarnya lenyap saat ini.
Valen pikir kesadaran Rifal saat ini belum sepenuhnya terkumpul. Terlihat dari mata Rifal yang ingin tertutup karna rasa kantuknya.
Rifal menyandarkan kepalanya disandaran kamar milik Valen. Dia memejamkan matanya dengan tangannya masih menggenggam tangan Valen begitu erat.
Sementara Valen memperhatikan wajah Rifal, bahkan saat bangun tidur pria itu tetap tampan membuat Valen semakin tergila-gila kepada suaminya sendiri.
"Fal," panggil Valen membuat Rifal membuka matanya perlahan-lahan. Dia melirik wajah alami Valen masih tetap cantik tanpa make up sama sekali.
"Kenapa?" tanya Rifal dengan suara seraknya.
"Tangan gue," kata Valen membuat Rifal melirik tangannya yang menggenggam tangan Valen.
"Kenapa?"
Bukannya melepaskan, Rifal malah balik bertanya membuat Valen sangat yakin kesadaran Rifal saat ini belum sepenuhnya terkumpul.
"Yah, tangan gue," elak Valen mengindari kontak mata dari Rifal.
"Maksud gue, tangan lo kenapa? Patah atau apa?" kata Rifal membuat Valen melototkan matanya dengan perkataan Rifal. Apakah pria itu tidak sadar jika tangan Valen masih dia genggam.
"Tangan gue lo genggam," desis Valen kepada Rifal.
__ADS_1
"Terus kalau gue genggam kenapa? Nggak dosa juga 'kan?" Rifal malah balik bertanya kepada Valen.
"Kita 'kan udah sah, jadi nggak bakalan dosa juga lakuiin kayak gini sama lo," lanjutnya semakin menggengam erat tangan Valen. Valen dapat merasakan akan hal itu.
"Apa lo mau minta lebih?" tanya Rifal dengan menyipitkan matanya kearah Valen. Sontak saja Valen membulatkan matanya karna perkataan Rifal. Lebih apa? Jangan katakan jika Valen tidak mengerti hal itu, karna dia paham bagaimanapun dia sudah menjadi wanita dewasa, bukan lagi anak SMA.
"Nggak!" bantah Valen membuat Rifal terkekeh geli mendapatkan jawaban begitu cepat oleh Valen.
"Bener?" Rifal malah semakin mendekati Valen membuat Valen menggelengkan kepalanya. Jangan sampai Rifal kebablasan lagi.
Rifal semakin mendekat, membuat Valen refleks menutup hidungnya karna aroma parfum Rifal masih melekat ditubuhnya. Meski semalaman pria itu sudah tidur, namun tidak dipungkiri wangi ditubuhnya masih melekat.
Setelah sekian lama. tidak berdekatan dengan Rifal, ini yang pertama lagi buat Valen setelah kejadian nasi goreng pagi itu.
Valen memasang wajah ingin muntah, serta wajahnya memerah membuat Rifal gelagapan dengan perubahan raut wajah Valen.
"Jangan dekat-dekat!" perintah Valen lalu berlari masuk kedalam kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya pagi ini, padahal dia belum makan apapun sedari pagi.
Rifal dengan jelas mendengar suara Valen yang kesakitan karna mual. Rifal mencium tubuhnya, dia masih wangi karna sabun yang dia kenakan semalam tentu saja sabun kesukaan Valen.
"Gue nggak bau. Tapi kenapa Valen mual saat gue deketin dia?" menolog Rifal.
Rifal beranjak dari tempat tidurnya, dia langsung berjalan kearah kamar mandi karna Valen belum juga berhenti mual.
Tok...Tok....Tok
Rifal mengetuk pintu kamar mandi, dengan Valen masih sibuk dengan dirinya.
"Valen, lo nggak apa-apa 'kan?" tanya Rifal nampak khawatir karena suara mual Valen belum juga terhenti, malah semakin menjadi-jadi.
Sementara Valen tidak membalas sahutan dari Rifal.
"Gue masuk?" kata Rifal membuka pintu kamar mandi mendapatkan Valen masih berada didepan wastafel kamar mandi.
"Valen," panggil Rifal karna melihat Valen kesakitan hanya karna mual.
"Jangan dekat-dekat!" kata Valen membuat langkah kaki Rifal yang ingin menghampiri Valen terhenti.
__ADS_1
Valen mengambil tisu lalu mengelap bibirnya dan juga keringat bercucuran dipelipisnya. Dia menyalakan keran air lalu berkumur-kumur.
Dia melihat pantulan dirinya dibalik cermin yang sangat lusuh serta wajahnya sedikit pucat. Apa lagi dia belum makan dan langsung mual.
"Len," panggil Rifal dengan suara rendah karna prihatin melihat Valen tadi nampak kesakitan.
"Gue nggak apa-apa," kata Valen membasuhi wajahanya dengan air hangat.
Rasanya dia sangat letih. Dia mual sehingga membuat dia kecapean apa lagi belum ada makanan yang mengisi perutnya.
"Lo sakit?" tanya Rifal seketika Valen terdiam. Bagaimana jika Rifal tau dia hamil? Apakah Rifal menerima akan hal itu?
Bagaimana jika Rifal tidak mengakui anak dalam kandungannya jika Valen mengatakan jika dirinya hamil? Hal itu akan membuat Valen semakin terluka nantinya.
Valen melihat kearah Rifal, dia melihat raut wajah khawatir terpancar diwajah Rifal. Namun, Valen tidak ingin berharap lebih akan hal itu.
"Gue nggak sakit," jawab Valen.
"Kalau ada apa-apa, bilang sama gue," ucap Rifal. "Bagaimanapun lo tanggung jawab gue," sambungnya membuat Valen terdiam sejenak dengan perkataan Rifal lalu mengangguk mengiyakan ucapan Rifal.
"Lo nggak kerja?" tanya Valen berjalan keluar dari kamar mandi, tentunya Rifal menyungkirkan dirinnya takut jika Valen akan mual lagi jika berdekatan dengannya.
Valen keluar dari kamar mandi dengan Rifal berada dibelakangnya menjaga jarak.
"Atas perintah lo," jawab Rifal membuat Valen tertawa kecil.
Tawa kecil yang diciptakan oleh Valen mampu membuat Rifal menatap wajah Valen. Dia tidak tau, apakah dia akan menyesal jika menyia-nyiakan sosok Valen?
"Serius lo mau jalanin hukuman, lo?" tanya balik Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
"Gue minta maaf," kata Valen membuat Rifal menyeritkan alisnya mendengarkan penuturan Valen saat ini.
"Minta maaf apa, lo?" tanya Rifal.
"Perihal kejadian dimeja makan," kata Valen. Meski dia tidak tau sebab mengapa Rifal berubah semenjak kejadian itu.
Valen tidak tau saja, jika saat itu Rifal cemburu karena Valen menyebut nama Nathan.
__ADS_1
Rifal mengingat kejadian itu, sepenuhnya ini bukan salah Valen. Ini salahnya!
"Gue udah maafin."