
Ceklek
Valen membuka pintu kamar Nando, rupanya asisten suaminya itu tengah tertidur dengan selimut sampai dada yang dia gunakan. kehadiran Valen membuka pintu kamar tidak menganggu tidur Nando karna pria itu tidak bergeming dari tempat tidurnya.
Tidak butuh waktu lama, Rifal juga datang membawa Air hangat dan juga obat yang di suruh oleh Valen tadi untuk dibawa ke kamar milik Nando.
"Mau ngapain?" tanya Rifal yang melihat istrinya mendekati Nando.
"Mau ngecek kondisi asisten kamu, masih panas atau nggak," kata Valen.
"Biar aku aja," kata Rifal sehingga Valen memberikan jalan untuk Rifal.
"Emangnya kamu bisa?" tanya Valen setelah Rifal berada di sampingnya.
Rifal melirik Valen. "Cuman ngecek panas doang 'kan?" tanya Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
"Kalau cuman itu, anak kecil juga bisa," kata Rifal meyimpan tangannya di kening milik Nando.
Sementara Valen menggelengkan kepalanya mendapatakan jawaban Rifal. Apa yang dikatakan oleh Rifal memang benar, tapi Valen seorang dokter jadi dia bisa tau panas yang dialami oleh Nando panas seperti apa. Apakah sangat panas atau sebaliknya.
Jika orang tanpa ilmu yang mengeceknya pasti hanya dua saja jawabannya, yaitu tidak panas dan panas.
"Gimana?" tanya Valen setelah melihat Rifal sudah mengecek panas Nando.
"Panas."
Nah kan, apa yang dikatakan oleh Valen benar jika dia hanya mendapatkan dua jawaban. Valen tidak tau panas apa yang dialami oleh Nando karna bukan dirinya yang memeriksa Nando.
"Mau di bangunin atau bangun sendiri?"
Valen langsung mencubit perut milik Rifal karna pria itu berbicara seakan-akan mengancam Nando yang tengah tertidur.
"Kenapa?" tanya Rifal setelah bebas dari cubitan dari sang istri.
"Kamu kenapa sih ngomong kayak gitu?" tanya Valen bersedekap dada didepan Rifal.
"Aku kan cuman kasi dua pilihan, masa kayak gitu salah?"
Valen menghembuskan nafas kesal. "Jawabannya itu, di bangunin bukan bangun sendiri," kata Valen memberikan penjelasan kepada Rifal.
__ADS_1
"Mana aku tau," kata Rifal membuat Valen menghentakkan kakinya lalu berjalan menuju meja untuk mengambil bubur dan juga obat Nando.
Sementara Rifal yang melihat Valen tertawa kecil melihat ekspresi Valen seperti anak kecil saja.
Sementara Lea langsung masuk kedalam mobil Daniel. Tidak perlu dia mencari mobil seperti apa dan wajah orang yang menelfon ya tadi karna dia sudah mengenal wajah milik Daniel saat di taman.
Daniel langsung melajukan mobilnya untuk segera menuju rumhanya, karna putranya Agrif sudah menunggu kedatangannya.
Karna yang menjaga Agrif menelfon Daniel tadi, dan yang berbicara adalah Agrif yang menyuruh Daniel datang dengan segera.
Tak di pungkiri jika nomor pribadi milik Daniel hanya ada beberapa orang saja yang dia kasi, sudah termasuk Lea.
Hening
Hanya ada suara mesin mobil yang halus bahkan Lea yang cerewet terdiam duduk enteng didalam mobil. Sementara Daniel fokus menyetir.
Sikap Daniel yang tidak terbuka terhadap orang lain sehingga menciptakan suasana hening didalam mobil. Sementara sikap Lea yang cerewet diam karna takut melihat Daniel yang nampak menyeramkan menurut Lea.
Lea melirik Daniel yang menggunakan setelan jas kantor serta dasi yang sangat rapih sangat pas untuk tubuhnya. Apa lagi di iringi dengan sikapnya yang tegas dan wajahnya yang datar. Lea dapat menebak jika hidup pria itu hambar.
Kok grogi sih, papahnya Agrif serem bangett sih, kayak mau makan orang aja.
"Yey, itu pasti papah sama kakak cantik," Agrif terpekik senang lalu turun dari kursi makan untuk menyambut orang yang sedari tadi yang dia tunggu.
"Hati-hati, Rif," peringat baby sister Agrif yang menjaga anak itu semenjak Mamahnya Agrif meninggal.
***
"Kamu kerja hari ini?" tanya Rara sembari memasangkan Frezan dasi. Meski Rara sudah tau jawabannya dia tetap bertanya kepada suaminya.
"Nggak ada libur gitu, ajak aku jalan-jalan," lanjutnya menatap wajah Frezan dari dekat. Wajah tampan milik suaminya tidak pernah bosan dia lihat.
Frezan nampak berpikir. "Minggu depan kita liburan ke bali," kata Frezan membuat Rara langsung menutup mulut saking terkejutnya mendapatkan jawaban dari Frezan jika dia akan liburan ke bali.
Jujur saja, semenjak hamil Rara ingin sekali ke Bali untuk berlibur bersama dengan suaminya dan kedua anaknya.
"Beneran 'kan?" tanya Rara memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.
"Minggu depan kita ke Bali, kita liburan di bali sekitar satu mingguan," kata Frezan menyelipkan anak rambut milik Rara.
__ADS_1
"Udah lama kan kamu mau kesana," kata Frezan dan dibalas anggukan semangat oleh Rara.
"Tapi gimanaa dengan pekerjaan kamu?" tanya Rara.
"Ada Daniel dan Elga yang bakalan handel semuanya."
"Mentang-mentang gue bawahan."
Rara dan Frezan langsung melihat kearah pintu kamar nampaknya Elga sedang lewat, dan tanpa sengaja Elga mendengar perkataan Frezan yang sangat bertepatan saat Elga lewat.
Dan kebetulan pintu kamar Rara sedang terbuka.
"Maafin bang Elga," kata Rara kepada Frezan.
"Nggak perlu minta maaf," kata Frezan. "Kalau sifat kayak bocah memang wajar, meski umur udah nggak mudah lagi," kata Frezan sengaja menaikkan satu oktaf suaranya agar Elga mendengar nya.
Tentu saja perkataan Frezan membuat Elgar mencaci maki Frezan dalam hatinya lalu melanjutkan langkah kakinya.
Semenjak kejadian bebarapa tahun yang lalu, Elga sudah tidak menyukai Frezan lagi karna sudah menyakiti kembarannya itu. Elga masih menyimpan dendam sakit hati pada Frezan yang telah menyakiti adiknya itu.
"Sepertinya bang Elga punya dendam deh sama kamu," kata Rara membuat Frezan menyungkirkan senyuman tipisnya.
"Bukan sepertinya, tapi udah pasti," balas Frezan membuat Rara menatap manik mata Frezan.
"Maafin bang Elga," kata Rara. Jikapun kembaran ya itu mempunyai dendam Rara yakin jika itu hanya tentang masa lalu.
"It's ok," kata Frezan santai.
"Jadi minggu depan kita jadikan ke Bali?" kata Rara memperingati kembali Frezan.
"Iya," jawabnya membuat Rara sangat gembira.
Kayla sedari tadi memperhatikan Elga, wajahnya seperti tidak bersahabat. Saat ini Elga dan Kayla berada dikamar.
"Belum berangkat kerja?" tanya Kayla.
Elga melirik Kayla. "Aku harap ayah segera kembaliin perusahaan aku. Soalnya udah enek bareng sama Frezan," kata Elga. "Aku mau kita segera pergi dari rumah ini," lanjutnya dengan ketus.
"Kamu kan tau, El. Ayah kamu bakalan balikin perusahaan kalau kamu udah pandai mengelolah perusahaan kamu sendiri. Nggak selamanya bergantung sama orang lain,El," kata Kayla menasehati suaminya itu. "Kamu kan tau alasan ayah kamu buat nyuruh kamu kerja sama Eza, " lanjutnya.
__ADS_1
Kayla harap Elga tidak lupa mengapa Kevin menyuruhnya untuk kerja dengan Frezan, yaitu guna untuk belajar tentang perusahaan pada Frezan.