Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Daniel mempunyai anak


__ADS_3

Dokter Kiki dan dokter Zul makan seraya bercanda. Zul sibuk mengejek dokter Kiki yang diet, padahal tubuh wanita di hadapnya sudah kurus namun tetap saja dia ingin diet.


Saat asik bercanda, dokter Kiki melihat dokter Nathan memasuki kantin. Dia tidak sendiri, dia menggandeng seorang anak kecil yang masih sesegukan.


''Om dokter nggak bohong kan, kalau Agrif makan papah bakalan bangun,'' harap Agrif seraya duduk di kursi. ''Om dokter nggak kayak dokter itu kan?'' Lanjutnya menunjuk kearah dokter Zul yang tengah makan dengan lahap.


Dokter Kiki yang memperhatikan mereka berdua, langsung melihat kearah telunjuk anak itu menunjuk Dokter yang berada di depanya.


Meski dari jarak sini, dokter Kiki tidak mendengar apa yang di katakan anak itu. Tapi dia yakin jika anak itu sedang membicarakan dokter Zul.


Nathan melihat kearah telunjuk Agrif yang menunjuk objek yang masih belum sadar. Mata dokter Nathan bertemu dengan dokter Kiki.


Dokter kiki tersenyum hangat kearah Nathan, dan dibalas senyuman oleh dokter Nathan pula.


Nathan menatap anak di hadapnya lalu tersenyum. ''Saya tidak seperti dia,'' canda dokter Nathan membuat Agrif menatap mata Nathan dengan dalam.


''Apa papah bisa bangun saat Agrif terima rapor di sekolah Agrif?'' Tanya anak itu dengan suara khas miliknya.


Nathan terdiam, kondisi Daniel memang mengalami sedikit perubahan. Tapi itu tidak banyak.


''Hmm,'' Nathan berdehem sebelum menjawab pertanyaan anak kecil yang sepertinya seumuran dengan adiknya, yaitu Farel.


''Kamu terima rapor di sekolah kapan?'' Terlebih dahulu Nathan bertanya kepada anak kecil di hadapanya.


Anak itu menghitung jari-jarinya membuat Nathan gemes dengan tingkah anak di hadapanya.


''25 hari lagi,'' jawab Agrif setelah menghitung jari-jari tanganya.


Nathan mengangguk kecil. Apa anak kecil di hadapanya ini satu sekolah dengan Adiknya, Farel? Karna Farel sudah mengatakan padanya menyuruhnya datang ke sekolah dalam jangka waktu 25 hari, karna dia ingin menerima rapor.


''Om dokter,'' panggil Agrif seraya mengguncang tangan kekar milik Nathan membuat kesadaran Nathan terkumpul.


Karna tadi dia sedang berpikir. ''Sepertinya tidak bisa,'' jawab Nathan dengan suara pelan. ''Tapi kasi om dokter waktu 6 bulan,'' lanjut Nathan dengan mantap seraya tersenyum hangat kearah Agrif.


Melihat anak di hadapnya tidak bersuara membuat Nathan kembali mengangkat bicara. ''Kalau dalam waktu 6 bulan itu, om dokter bisa janji. Atas izin Tuhan papah kamu akan sadar.'' Nathan menyakinkan anak kecil di hadapnya.


‘’Om dokter janji?'' Tanya anak itu dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


Nathan menyakinkan dirinya, semakin berjalanya waktu semakin dia yakin. Jika Daniel akan baik-baik saja.


Agrif menjulurkan jari kelingkingnya kearah Nathan. ''Janji yah.''

__ADS_1


Nathan menyambut jari kelingking kecil di hadapanya. ''Janji.''


Tidak lama, pesanan mereka datang. Memang Nathan sudah makan. Namun dia juga memikirkan anak kecil yang Menangis tadi.


Apa lagi Agrif mengatakan, jika dia belum makan sedari pulang sekolah. Nathan mempunyai inisiatif untuk membawa Agrif makan.


Meski bersusah payah dia mengajak Agrif untuk kesini.


''Kamu makan, sesuai janji kamu tadi,'' ucap Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.


Dokter Kiki yang memerhatikan keduanya tersenyum, lalu dia kembali memakan makananya.


Sudah pukul sepuluh malam, Nathan berjalan di koridor rumah sakit untuk segera pulang. Terlebih dahulu, dia ingin singgah kerumah Frezan untuk menjemput Farel.


Dan tentunya, dia ingin mengatakan hal penting ini kepada Frezan. Dia yakin, kakaknya itu akan bangga padanya.


Nathan tersenyum tipis masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya menuju rumah kakaknya.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya dia sampai. Terlebih dahulu Nathan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah Frezan.


Dia membawa jajan untuk keponakanya, dan juga adiknya.


Nathan menekan bell, lalu tidak lama Siska membuka pintu dan mempersilahkan Nathan masuk.


''Lagi di kamar,'' jawab Siska dengan menundukkan kepalanya.


Nathan tidak membalas perkataan Siska lagi. Terlebih dulu dia duduk di kursi menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Dia lelah hari ini, dengan pekerjaannya. Namun dia juga senang, berkat kesibukanya dia bisa melupakan Valen secara perlahan-lahan. Meski tidak sepenuhnya.


Nathan mengambil ponselnya, lalu mengirimkan Frezan pesan jika dirinya sudah berada di bawa. Dan menunggu dia turun dari atas.


Lima menit kemudian, Nathan melihat Frezan menuruni anak tangga. Dengan tubuhnya bak atletis, wajahnya yang datar nan dingin.


Saudaranya itu jauh lebih tampan darinya, meski dirinya juga tampan. Meski di sandingkan dengan sang kakak Nathan merasa minder.


Frezan langsung duduk di depan Nathan. Dia juga penasaran berita penting apa yang ingin di sampaikan Nathan. Karna Nathan mengatakan, jika ini sangat penting.


''Awas aja kalau tidak penting!'' gumam Frezan dengan suara dingin membuat Nathan mendelik dengan ancaman Frezan. Meski hanya main-main tapi menusuk sampai jantung ancaman kakaknya itu.


''Ehemmm!'' Nathan berdeham sebelum memulai percakapan.

__ADS_1


‘’Ini jauh lebih penting.''


''Apa kondisi Daniel ada kemajuan?'' Tanya Frezan dengan serius kepada adik.


Nathan mengangguk membuat Frezan bernafas legah. Setidaknya Daniel maju satu langkah.


''Apa masih koma?'' Tanya Frezan lagi.


''Dia masih koma, tapi dalam jangka beberapa bulan ini. Nathan yakin dia akak sadar dari komanya.'' Bangga Nathan kepada sang kakak.


‘’Kerja yang bagus. Saya percayakan semua ini padamu.'' Nada bicara Frezan sudah tidak sedingin tadi.


Setidaknya berita Daniel membuatnya bernafas legah, meski sepenuhnya belum pulih. Namun dia yakin, jika tangan kanannya itu akan sadar.


‘’Berita yang kau bawa sangat memuaskan.'' Frezan tersenyum sangat tipis kearah Nathan.


‘’Tapi itu bukan berita penting versi adik mu ini.''


Frezan menyeritkan alisnya mendengar perkataan Nathan.


''Terus apa?''


Nathan mengatur duduknya lalu menatap Frezan dengan dalam membuat Frezan mendelik kan matanya kearah Nathan.


Nathan tertawa kecil.


''Kau pernah mengatakan bukan, jika Daniel itu tidak mempunyai anak?'' Tanya Nathan mengingatkan kakaknya. seraya menaik nurunkan alisnya kearah Frezan.


''Yah,'' jawab Frezan singkat, karna tingkah Nathan di hadapnya sangat menyombongkan diri.


''Kau dapat info dari mana?'' Tanya Nathan.


‘’Daniel.'' Singkat Frezan membuat Nathan terlihat kesal kepada Frezan. padahal dia ingin menyampaikan berita ini kepada Frezan.


Namun kesan pria itu sangat dingin. Dia tidak ingin melanjutkan perktaanya, namun dia juga penasaran melihat reaksi Frezan jika dia mengatakan ini kepada Frezan.


''Kalau ku katakan padamu, kau akan terkejut tentunya!'' tantang Nathan agar kakaknya itu menuntut padanya untuk segera mengatakannya.


''Lebih penting Kondisi Daniel.'' Ketus Frezan membuat Nathan semakin jengkel dengan sikap ketus Frezan.


''Sudah kubilang, ini jauh lebih penting.''

__ADS_1


Frezan berdiri dari tempat duduknya. ''Saya tau. Kau ingin bercanda. Bukan waktu yang tepat, Nath. Saya lagi banyak masalah.''


‘’Daniel mempunyai anak.''


__ADS_2