
Rifal mengerjapkan matanya, membuka matanya secara perlahan-lahan. Satu jam yang lalu pria itu kehilangan kesadarannya setelah dia membuka pintu Villa.
Rifal memegang kepalanya yang sakit, dia melihat sekelilingnya dia sudah berada di dalam kamar. Siapa yang mengangkat dirinya di tempat tidur?
''Udah sadar?'' Suara dari balik pintu, Rifal mendongakkan kepalanya melihat Nando masuk membawa secangkir susu dan nasi goreng.
Huft
Hembusan nafas berat dia keluarkan berkali-kali, ''ternyata gue cuman halu,'' gumam pria itu melihat Nando meletakkan nasi orang yang bentuk dan warnanya tidak asing menurut Rifal.
Nasi goreng kecap kesukaannya!
Dia pikir saat dia membuka pintu, orang yang ia lihat beneran Valen ternyata dia kembali mengahalu.
''Sejak kapan lo di sini?'' tanya Rifal menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
''Lima menit setelah lo pingsan di depan pintu,'' jawab Nando duduk di kursi sofa yang tersedia di kamar Rifal saat ini.
''Gue pingsan kenapa?'' tanyanya dengan lesuh.
Rifal tersneyum tipis. ''Gue pikir gue nggak menghayal soal kedatangan Valen di depan pintu tadi. Tapi gue salah, karna gue kem—''
''Makan makan mu dulu, Fal. Kau pingsan karna nggak makan,'' tegur Nando.
''Soal kau beranggapan soal Valen yang kau pikir itu halu, semuanya itu nyata.''
Rifal langsung melirik Nando dengan seksama.
''Maksud lo apa!''
Nando melirik nasi goreng diatas nakas. ''Makan dulu itu nasi goreng, baru kau tau maksud saya apa!'' tegasnya membuat Rifal kembali menatap nasi goreng yang berada di atas nakas.
Jujur saja nasi goreng tersebut membuat perutnya mendemo untuk segera di beri makan.
''Kalau kau tidak mau makan, kau tidak akan gau jawabnya,'' ucap Nando santai.
Rifal langsung bergerak mengambil nasi goreng itu, wangi nasi gorengnya sangat familiar di indra penciumannya.
Posisinya sudah memegang piring berisi nasi goreng, lalu kemudian matanya menatap Nando.
Untuk apa pria itu menyuruhnya memakan nasi goreng untuk mengetahui jawabnya?
Rifal mulai menyendok nasi goreng lalu dia masukkan kedalam mulutnya. Rasanya membuatnya....
__ADS_1
''Valen,'' lirih Rifal lalu melirik Nando yang tengah tersenyum kearahnya.
Rifal dengan kasar menyimpan nasi goreng itu diatas nakas, lalu turun dari tempat tidurnya dengan cepat.
Padahal, nasi goreng yang dia makan baru satu suap.
Nando hanya tersenyum melihat Rifal meninggalkan kamar.
''Bahagia akan datang di waktu yang tepat,'' gumam Nando.
''Valen!'' teriak Rifal di dapur dengan sakit kepala yang masih menyerangnya.
Kali ini Rifal yakin, jika yang dia lihat di depan pintu tadi adalah beneran Valen. Setelah dia mencicipi nasi goreng tersebut menbuatnya semakin yakin jika Valen ada di sini, membutakanya nasi goreng kesukaannya.
''Sayang!'' panggil Rifal lagi namun tidak menemukan Valen.
Rifal mengacak rambutnya, apakah Nando mempermainkan dirinya di balik senyuman? Ahk, sial dia sangat yakin jika Valen ada di sini.
''Valen, kemana kamu sayang!'' Rifal menitihkan air matanya. Seraya terduduk di bawa lantai dengan rambut berantakan.
Sungguh, dia akan gila jika seperti ini!
''Aku di sini.''
Deg
Suara yang membuatnya bahagia, suara yang menbuatnya gila. Suara yang menghilang dari hidupnya.
Rifal memutar sedikit tubuhnya ke belakang, melihat dari ujung kaki penampilan wanita yang mengenakan sandal jepit.
Hingga dia melihat wajah yang selama ini dia rindukan.
Rifal berdiri lalu menangis, wajahnya memerah karna tangis. Apakah ini mimpi! Dia tengah melihat Valen tengah tersenyum padanya.
''Gue nggak mimpi, kan?'' lirih Rifal berjalan perlahan-lahan mendekati Valen.
Valen dan Rifal sudah bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Valen bisa melihat dari mata Rifal menyimpan banyak beban dan kesedihan yang dia simpan.
''Kamu nggak mimpi, aku di sini. Aku beneran di sini untuk kamu.''
Air mata Valen juga turun membasuhi kedua pipihnya.
Suara tangisan Rifal semakin terdengar, dengan tangan bergetar dia membelai wajah Valen.
__ADS_1
''Ini beneran kamu, kan?'' tanya Rifal dengan isakan tangis menatap wajah Valen yang sangat dia rindukan, dalam jarak yang sangat dekat ini.
Valen memganggukkan kepalanya dengan air matanya.
Rifal sudah tak mampu berkata-kata, dia langsung memeluk erat tubuh Valen saat ini.
''Kamu kemana aja, Len! Kamu nggak tau betapa tersiksanya aku tanpa kamu!'' tangis Rifal pecah dalam pelukan Valen.
Air matanya banjir membasuhi kedua pipihnya, matanya memerah. ''Kamu tau, semenjak kepergian kamu, aku menjadi pria yang menyedihkan yang tidak terurus! Kamu bisa melihat tubuhku sudah kurus karna kamu, Len! Aku tersiksa tanpa kamu, Len! Aku merindukan mu, Len!''
Nando yang menyaksikan Rifal dan Valen mengusap air matanya, air matanya itu langsung turun saat melihat Valen dan Rifal berpelukan.
Valen memeluk erat Rifal, mereka berdua menyalurkan kerinduan mereka yang baru saja terobati.
Rifal melepaskan pelukanya lalu mengusap air mata Valen dengan tangan bergetar. ''Kamu sembunyi di mana, Hmm,'' ucap Rifal dengan suara bergetar.
''Aku nggak sembunyi, Fal,'' ucap Valen seraya tersenyum. Air mata masih setia mengalir di kedua insan itu.
Rifal mendekatkan hidungnya dengan hidung mancung milik Valen, keduanya menangis dengan jarak yang sangat dekat.
Mereka berdua bertatapan dengan hidung mereka masih bersentuhan. Rifal tersenyum. ''Keyakinan ku memang terbukti, jika kamu nggak akan ninggalin aku. Karna kamu tau, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Nggak mungkin kamu biarkan aku tersiksa,'' ucap Rifal dengan jarak mereka yang sangat dekat.
''I miss you, sayang!'' Rifal memejamkan matanya mengucup jidat Valen membiarkan air matanya turun begitu saja tanpa berniat untuk menghentikan air matanya.
''I miss you, to!''
Rifal dan Valen kembali berpelukan. matanya masih setia dengan air mata yang mendobrak untuk keluar.
Nando berulang kali mengusap matanya, air matanya itu turun melihat Rifal dan Valen.
Dia tidak bisa mendefinisikan kebahagiaan Rifal saat ini yang sudah menemukan kebahagianya yang hilang satu tahun lebih.
''Bahagia selalu, Fal,'' gumam Nando masih setia melihat Rifal dan Valen berpelukan.
Rifal menyelipkan anak rambut Valen, menatap secara rinci wajah yang menbuatnya menjadi seperti ini.
Wajahnya masih sama, kadar kecantikan wanitanya tidak berkurang sama sekali. Valen tersenyum melihat Rifal menatapnya dengan intens. Seakan-akan pria itu ingin mengatakan apakah dia mimpi?
''Len, kamu adalah kelemahan ku. Kamu pergi jiwa aku akan ikut bersama mu,'' ucap Rifal mengusap pipih Valen.
Mengusap air mata Valen dengan lembut. ''Aku merindukan mu,'' Rifal kembali memeluk Valen.
''Bukan hanya kamu, akupun begitu,'' balas Valen menbuat Rifal mengusap rambut Valen.
__ADS_1
Rifal melepaskan pelukanya lalu memajukan bibirnya kepada Valen. Valen yang sudah tau arahnya memejamkan matanya.
''Nggak baik buat di nonton,'' gumam Nando menutup matanya dengan kedua tanganya, namun pria itu masih mengintip di sela-sela jaringanya.