
Sudah tiga hari kepergian Daniel. Rumah mewah Daniel yang dia beli dengan kerja samanya dengan Frezan.
Kini rumah mewah nan megah itu hanya di tinggali oleh para pembantu, satpam dan pengasuh Agrif, bernama Bi Minah.
Sudah tiga hari ini juga, Agrif tidak ke sekolah karna anak itu tidak ingin ke sekolah jika bukan Daniel yang mengantarnya ke sekolah.
Sepertinya bocah itu belum menerima jika Daniel sudah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan mereka di dunia ini.
Anak itu selalu menagis dan merengek kepada pembantu untuk menyuruh mereka membawanya bertemu dengan Daniel.
Mereka sudah mengatakan jika Daniel sudah diatas langit bersama sang mamah. Hanya saja, anak itu tidak ingin menerima kenyataan pahit itu.
"Cukup mamah yang diatas langit, papah Daniel jangan!"
Jika mereka mengatakan Daniel sudah diatas langit bersama mamahnya, anak itu selalu Magaya kan 'Cukup mamah yang di atas langit, papah Daniel jangan'
Sudah tiga hari anak itu tidak ingin ke sekolah, dia juga sangat malas untuk makan. Bahkan anak itu selalu menagis.
Jika dia letih menangis, maka dia akan tertidur dan terbangun untuk menulis kembali.
Bi Minah khawatir jika kelamaan di rumah, Agrif akan melupakan pelajaran di sekolah. Sehingga Bi Minah berinisiatif memanggil guru private untuk Agrif datang kerumah mengajar Agrif.
Namun anak itu tidak ingin belajar dan bahkan tidak ingin sekolah lagi.
Setiap Frezan pulang kantor, dia akan singgah sebentar ke rumah Daniel hanya untuk melihat Agrif.
"Ayok ikut om tinggal di rumah om." Suara hangat itu hanya bisa di dapatkan oleh orang tertentu. Termasuk Agrif saat ini yang memeluk dirinya sendiri diatas tempat tidur.
Anak itu hanya diam saja setiap saat Frezan mengajaknya untuk kerumahnya. Dia tidak menolak tidak pula mengiyakan ajakan Frezan.
"Agrif nggak bakalan pergi. Kalau bukan papah dan kakak cantik yang ajak Agrif."
Kata-kata itu sering kali Agrif keluarkan.
Tiga hari yang lalu, saat Lea membalas pesan Nathan. Sampai sekarang pesanya itu belum di balas oleh Nathan hingga saat ini.
Malam itu malam terakhir Lea tinggal di rumah Agrif. Karna dia mulai sibuk di kampus untuk mempersiapkan bekalnya untuk terjun praktek di rumah sakit terbesar di kota ini.
Kesibukanya tiga hari ini, membuat gadis 19 tahun itu tidak mempunyai waktu senggang untuk menemui Agrif.
Dia hanya mengirimkan pesan kepada Bi Minah, agar menjaga Agrif dan memaksa anak itu untuk makan.
Sudah tiga hari ini pula, Rifal belum juga sadarkan diri semenjak dia di temukan. Dan sampai sekarang Valen belum juga di temukan.
Tim yang mencari Valen. Sudah tidak mencari keberadaan Valen lagi, karna wanita itu tak kunjung di temukan di laut.
__ADS_1
Padahal tentara angkatan laut juga di gerakkan untuk mencari Valen, namun mereka tidak menemukan Valen.
Mereka hanya bisa pasrah, karna sudah hampir satu minggu ini Valen hilang di tengah laut.
Kata-kata yang mereka tanam adalah....
Ikhlas!
Karna Valen belum di temukan, membuat mereka ikhlas dengan ketetapan yang menciptakan Valen atas takdir wanita yang hilang itu di tengah laut, dalam keadaan mengandung.
Mereka tidak akan tau, bagaimana jika nanti Rifal sudah sadar dan tidak melihat Valen di sisinya.
Pasti pria itu akan frustrasi karna kehilangan sekaligus dua orang. Yaitu istri yang sangat dia cintai dan juga calon anaknya.
Padahal dia sudah mengimpikan hidup bahagia dan sempurna dengan kehadiran anak pertama mereka.
Namun takdir berkata lain.
Mereka semua tidak tau, apakah mereka bisa meyakinkan dirinya jika Valen masih hidup meski sudah di cari tak kunjung di temukan.
Namun satu orang yang sangat yakin. Jika Valen baik-baik saja, hanya saja dia belum menampakkan dirinya. Nathan, pria itu yakin jika wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta itu masih hidup sampai sekarang, dan dia akan menanti sampai Valen kembali kepada mereka, terutama pada Rifal.
Kabar tentang Valen juga sudah terdengar di telinga para sahabtanya, bahkan Rara sampai jatuh sakit dan di rawat di runah sakit, saat mendengar kabar tragis tentang sahabtanya.
Cobaan datang begitu bertubi-tubi, membuat Rara tidak tau harus menyimpan beban ini kemana dulu.
Rifal masih di rawat di runah sakit yang tidak jauh dari tempat kejadian. Mereka akan pulang satu minggu lagi.
Karna Rina kembali menyuruh tim basarnas untuk mencari keberadaan menantu dan juga calon cucunya itu. Sehingga Nando dan Aska belum membawa Rifal di rumah sakit Jakarta.
“Waktu satu minggu, Rina. Jika Valen belum di temukan dalam jangka satu minggu, kita ke Jakarta dan membawa Rifal di rumah sakit Jakarta.”
Kata-kata itu yang di keluarkan Aska kepada Rina yang masih kekeh untuk mencari keberadaan Valen.
***
Di ruangan bercat putih, Rara mengenakan pakaian pasien rawat inap. Yah, gadis itu jatuh sakit saat mendengar berita Valen dan juga Rifal.
“Makan dulu, Ra.” Sedari tadi Frezan menyuruh Rara untuk makan.
Wanita itu menggeleng lemah menolak Frezan.
“Dari semalam kamu belum makan, Ra,” hembusan nafas berat keluar dari mulut Frezan.
Karna Rara menolak untuk makan.
__ADS_1
“Makananya hambar,” keluh gadis itu.
Saat ini Rara berada diatas bansal sementara Frezan duduk di sampingnya dengan makanan berada di tanganya.
“Sedikit saja.”
Rara kembali menggelengkan kepalanya tanda tidak ingin makan.
Frezan langsung menyimpan piring berisi bubur diatas nakas karna Rara tak ingin makan.
Ceklek
Pintu ruangan tempat Rara di buka oleh Alvina yang datang membawa buah anggur yang di inginkan Rara.
“Bun, sini buahnya,” perintah Frezan kepada Alvina agar Alvina memberikanya buah anggur.
Alvina langsung memberikan buah tersebut kepada Frezan.
“Makasih, bun,” ucap Frezan.
“Sama-sama.”
Rara melirik buah anggur di tangan Frezan. “Mau?” tanya Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
“Kalau mau anggur, haru makan dulu,” tawar Frezan sehingga Rara mecebikkaan bibirnya dengan wajah lesuh.
“Rara nggak suka makan bubu,” keluhnya kepada Frezan.
“Sepuluh sendok. Baru aku kasi buah anggur yang merah ini.” Frezan memberikan tawaran kepada Rara.
“Kebanyakan sepuluh sendok!” protes wanita itu kepada suaminya sendiri.
“Terus berapa?”
“Satu sendok.”
Frezan nampak berpikir.
“Ok.” finish Frezan membuat Rara tersenyum karna suaminya tidak menuntut lebih.
Frezan mengambil kembali makanan diatas nakas, lalu mulai menyuapi Rara sesendok bubur.
Dengan wajah terpaksa. Rara menerima suapan bubur dari Frezan.
Rara sudah habis mengunyah buburnya lalu menatap Frezan.
__ADS_1
“Sini anggurnya.”
Rara langsung melototkan matanya karna Frezan memberikan satu buah anggur saja.