
Rifal berkali-kali mengusap wajahnya kasar di tengah pasar seafood. Dia menjadi bahan tontonan, bagaimana tidak jika penampilanya yang paling mencolok diantara para pengunjung pasar.
Rifal menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya dengan pelan.
''Semangat cari istri lo sendiri, Fal.'' Rifal menyemangati dirinya sendiri.
Drt...
Ponsel Rifal bergetar, membuat pria berperawakan tinggi itu langsung mengangkat telfonya.
''Ya!'' jawab Rifal dengan sedikit keras karna suara riuh pasar membuat suaranya akan tenggelam jika dia bicara pelan.
''Kenapa kau menyuruh orang tua mu untuk balik kampung? Apa kau tau, saya kesusahan di kantor mu!'' suara dari seberang berusaha menahan tangis.
Ahk, bagaimana tidak jika pria yang selalu membantunya sudah balik kampung siang tadi.
''Nggak penting lo, Nan!'' desis Rifal, karna ada yang lebih penting.
''Tentu saja penting, Fal! Apa kau tau, jika bukan karna bantuan Daddy mu setahun ini, mana bisa saya urus perusahaan kau seorang diri!'' sewot Nando membuat Rifal menarik nafasnya dalam.
''Apa yang lo inginin!'' Jika seperti ini, Rifal tau ada hal yang di inginkan oleh Nando.
Dari ujung Telfon Nando lompat-lompat mendengar kepasrahan Rifal di seberang Telfon.
''Hmm!'' Terlebih dahulu Rifal berdehem di seberang telepon.
''Saya mau hadiah dari kau, Fal! Kasi saya hadiah yang pantas untuk memperjuangkan perusahaan kau Ini! Selama kau lemah tak berdaya!''
Andaikan Nando dekat, sudah di pastikan Rifal sudah mengeplak kepala tangan kananya itu.
''Gue percayain perusahaan gue ke lo! Kalau selama gue nggak ada, lo yang handel semua! Lo bi—!''
''Hadiahnya apa!'' potong Nando di ujung telepon membuat Rifal ingin membanting pondselnya.
''Gue belum selesai ngomong, lo udah potong!'' gerutu Rifal membuat Nando tertawa di ujung telepon.
''Katakan!'' ucap Nando.
''Kalau lo nikah! Gue yang tanggung semuanya nanti!'' jelas Rifal di seberang Telfon.
''Asal jangan lo nikah sebelum gue temuin Valen!'' lanjut Rifal lagi kepada Nando.
Suara bising pasar membuat Nando berdecak kesal, dia mau nikah dengan siapa?
''Saya mau nikah sama siapa?'' sewot Nando.
''Cari saampai ketemu! Kalau lo mau hadiah! Tapi jangan nikah sebelum gue bawa Valen kerumah gue!''
Tut
Rifal langsung mematikan sambungan teleponnya lalu kembali menelusuri pasar seafood ini.
Drt...
__ADS_1
''Sial!'' ponselnya kembali berdering karna seseorang menelfonya kembali.
Rifal menarik nafasnya dalam, melihat nama yang terterah di ponselnya menghubungi dirinya.
Rifal menonaktifkan ponselnya, agar tidak terganggu dengan telepon dengan orang-orang yang membuat konsentrasinya akan terbagi.
''Pak, saya mau bertanya,'' ucap Rifal kepada salah satu bapak penjual ikan.
''Kirain mau beli ikan!''
Rifal menarik nafasnya berat. ''Saya akan membeli semua ikan bapak ini!''
Rifal nampak kesal!
''Serius?''
''Berapa semuanya?'' tanya Rifal seraya mengeluarkan uang dari dompetnya.
Untung saja dia membawa uang cash.
''Tiga ratus ribu!''
Rifal memberikan lima lembar uang merah
''Ini ber—''
''Pasar seafood ini buka hari apa saja!'' tanya Rifal dengan raut wajah dingin membuat pedagang di hadapanya meneguk salivanya susah payah.
''Hari Selasa dan Jumat.''
Rifal masuk kedalam mobilnya, sudah pukul lima sore dia akan kembali ke Vila. Jumat dia akan kembali ke pasar ini untuk mencari Valen.
''Sudah ada petunjuk, sisa gue yang harus berusaha!'' gumam Rifal seraya menyalakan mesin mobilnya.
***
Kayla berusaha menangkan anaknya yang sedari tadi sangat rewel. Kayla menggendong anaknya dan mengajaknya bermain agar dia tidak menangis lagi.
Tok
Tok
Tok
''Masuk aja!'' sahut Kayla dari dalam kamarnya.
Ceklek.
Pintu langsung di buka oleh Rara, dia langsung menghampiri Kayla yang nampak kesusahan menangani anak ketiganya itu.
''Kay!'' panggil Rara yang menghampiri Kayla.
''Iya, Ra!'' jawab Kayla tanpa mengalihkan pandanganya dari anaknya yang sedari tadi rewel.
__ADS_1
''Kamu udah buatin susu, Revan?'' tanya Rara berusaha membuat anak Kayla yang bernama Revan tidak menangis.
Namun tetap saja, anak itu masih rewel.
''Udah, Ra. Itu susunya,'' tunjuk Kayla diatas nakas. Diatas nakas ada susu untuk Revan.
''Mah!'' panggil Dyra membawa permainan bonekanya.
''Kenapa sayang?'' Bukan Kayla yang menjawab, melainkan Rara menghampiri keponakan cantiknya itu.
''Dyra tau kenapa Dedek nangis,'' ucap anak itu membuat Rara mengusap pipihnya dengan lembut.
''Karna apa?'' tanya Rara.
''Karna Dedek belum pernh lihat papah.''
Rara tersenyum tipis mendengar penuturan dari Dyra. Rara hanya menganguk tidak membalas ucapan Dyra lagi lalu Hasya datang mengajak Dyra bermain di taman sehingga mereka berdua kelua dari kamar Kayla.
''Gimana dong, Ra!'' frustrasi Kayla yang tidak berhasil menenangkan kerewelan Revan.
''Aku panggil suami aku dulu!'' Lepas itu Rara keluar dari kamar Kayla.
Kayla tidak tau untuk apa Rara memanggil suaminya untuk ke sini.
Rara datang kembali menggandeng tangan Frezan.
Frezan meminta agar Kayla memberikan Revan padanya melalui gerakan tanganya. Kayla perlahan-lahan memberikan Revan kepada Frezan.
Perlahan-lahan tangis Revan terhenti, membuat Kayla dan Rara bersamaan menarik nafasnya legah.
''Benar kata, Dyra,'' gumam Rara yang hanya dia saja yang dapat mendengarkanya.
Kayla berjalan menuju sofa lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Sudah beberapa jam Revan rewel dan baru saja kerewelannya itu terhenti karna Frezan menggendongnya.
''Mempunyai anak laki-laki ternyata lebih rewel ketimbang anak cewek,'' gumam Kayla mengingat saat Dyta dan Dyra berumur sama seperti Revan, kedua anaknya itu tidak serewel anak ketiganya.
''Sayang, kayaknya dia betah sama kamu,'' ucap Rara dengan senyuman tipis dan dibalas anggukan setuju oleh Frezan.
''Jangan sampai dia mikir kalau aku bapaknya,'' ucap Frezan dengan senyuman kecilnya membuat Rara tertawa kecil.
Rara melirik kearah sofa, entah sejak kapan Kayla sudah memejamkan matanya dan tertidur, terlihat aturan nafas wanita itu beraturan.
Ahk, mengurus anak sendirian tidak semudah apa yang dia pikirkan. Rara saja yang dibantu oleh Siska dan Frezan kadang kewalahan menangani Hasya dan Tegar.
Apa lagi Kayla hanya seorang diri saja. Rara hanya membantunya sekali-kali saja karna dia mempunyai dua anak untuk dia urus dan suaminya.
Kayla mempunyai anak kembar yaitu Dyta dan juga Dyra. Dan di tambah lagi anak bungsu mereka yaitu Revan.
''Sayang,'' panggil Rara sementara Frezan mengajak anak itu bermain dengan mimik wajahnya yang dia ubah-ubah.
Frezan melirik Rara. ''Ra, rasanya aku pengen anak kecil juga,'' ujar Frezan yang mendapatkan pelotan mata oleh Rara.
Mengurus Hasya dan Tegar saja dia sudah kewalahan, apa lagi mereka tambah anak.
__ADS_1
''Nggak!'' tolak Rara dengan cepat.