Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Lea dan Nathan


__ADS_3

Huft


Terdengar helaan nafas kasar keluar dari mulut, Nathan. Bagaimana tidak, jika ini pertama kalinya memanjat pohon kelapa atas perintah Lea meski untuk Valen.


Nathan menyandarkan kepalanya dibawah pohon kelapa sembari melihat Lea dan Farel mengambil buah kelapa yang dipanjat olehnya.


"Dokter Nathan," panggil Lea yang masih memungut kelapa yang dijatuhkan oleh Nathan tadinya.


"Hmm."


Nathan hanya berdehem sembari memejamkan matanya membiarkan angin menerpah wajahnya yang tampan itu.


"Dokter Nathan Tampan banget, sih," kata Lea menatap Nathan yang sedang bersandar di bawah pohon kelapa seraya memejamkan matanya.


Nathan membuka matanya secara perlahan-lahan menatap datar Lea yang cengengesan kearahnya.


Nathan berdiri dari duduknya dia memperbaiki baju kaos yang dia kenakan.


"Kelapanya bawa dua aja," kata Nathan membuat Lea menggelengkan kepalanya kuat.


"Nggak!" bantah Lea membuat Nathan menatap gadis berusia 19 tahun itu.


"Masa iya kita ambil kelapanya cuman dua. Kita ambil semua karna dokter Nathan jatuhin tuh kelapa sepuluh," kata Lea lagi membuat Nathan menatap manik mata gadis itu.


"Ini sih salah dokter Nathan. Kalau cuman mau ambil dua kenapa dijatuhin sepuluh? 'Kan mubassir kalau gitu," kata Lea lagi.


Nathan hanya diam, dia tidak bisa membantah gadis itu karna apa yang dikatakan Lea ada benarnya. Mengapa pula dia menjatuhkan buah kelapa banyak jika yang ingin dia bawah hanya dua.


Nathan langsung pergi meninggalkan Lea yang sedang mengambil buah kelapa untuk dia bawah ke mobil, sementara Farel sudah lebih dulu ke mobil.


"Dokter Nathan!" panggil Lea namun tak membuat langkah kaki Nathan terhenti.


"Dokter Nathan, bantuiin Lea bawa nih kelapa!" teriak Lea namun tidak digubris oleh Nathan.


"Bawa sendiri!" Lepas mengatakan itu Nathan langsung menutup pintu mobilnya membuat Lea menghentakkan kakinya karna perkataan Nathan.


Lea mengambil kelapa yang sudah dia kumpulkan bersama dengan Farel, tinggal dia bawah ke mobil milik Nathan lalu pergi.


"Biar Farel bantu."


Pergerakan tangan Lea terhenti, melihat tangan mungil mengambil kelapa untuk dia bawah kedalam mobil.


"Makasih anak manis," kata Lea kepada Farel yang entah sejak kapan turun dari mobil.


Setelah lima menit, akhirnya Lea dan Farel telah berhasil memindahkan kelapa itu kedalam mobil milik Nathan.


Nathan langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang kerumah Valen.


"Dokter Nathan," panggil Lea dari belakang sementara Nathan sedang fokus menyetir.

__ADS_1


"Hmm." Nathan hanya membalasnya dengan deheman saja.


"Lea pindahin Farel kebelakang yah sama Lea. Kasihan tidurnya kayak gitu," kata Lea menunjuk Farel yang sedang tertidur di samping Nathan dengan tidak nyamannya.


Nathan melirik Farel yang sedang tertidur yang entah sejak kapan. Mungkin saja anak itu kecapean mengambil buah kelapa bersama dengan Lea.


Nathan meminggirkan mobilnya untuk berhenti.


"Kamu pindah kedepan," kata Nathan membuat Lea mengangguk mengiyakan ucapan Nathan. Lea kira, Nathan akan menyuruhnya untuk duduk dibelakang bersama dengan Farel, namun dugaannya salah.


Lea langsung duduk di samping Nathan dengan memangku Farel yang sedang tertidur. Dia kasihan melihat Farel tidur tidak nyenyak seperti sedang bermimpi atau mengingat seseorang sehingga dia tidur dengan gelisah.


Valen mengusap kepala milik Farel sehingga anak itu tidak gelisah lagi. Lea tersenyum karena Farel langsung diam saat dia mengusap rambut hitam Milik anak itu.


Nathan sempat melihat tindakan yang dilakukan oleh Lea.


"Dokter Nathan," panggil Lea.


"Farel emang kayak gini yah kalau mau tidur?" tanya Lea tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan milik Farel.


"Maksud, kamu?" tanya Nathan melirik gadis itu lalu kembali fokus menyetir.


"Yah gitu, kalau mau tidur bawaannya gelisah," kata Lea kepada Nathan.


"Farel emang kayak gitu," kata Nathan santai.


"Lea perhatiin, kalau Farel tidur pasti ada yang spesial di lakuin sebelum dia benar-benar tidur," kata Lea lagi membuat Nathan mengangguk mengiyakan ucapan gadis itu. Karna apa yang dikatakan oleh Lea ada benarnya juga.


"Farel lebih mirip sama saudara dokter Nathan," kata Lea melihat kedepan sedangkan Nathan fokus menyetir.


"Maksud kamu, Bang Eza?" tanya Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


"Jadi, saya nggak mirip sama Farel, gitu?" tanya Nathan membuat Lea menggelengkan kepalanya cepat.


"sama kok," kata Lea.


"Sama apa?"


"Sama-sama tampan," Lea berkata begitu santai membuat Nathan tidak membalas perkataan Lea lagi.


Wajar saja jika Lea berkata seperti itu, karna dia masih mudah.


"Dokter Nathan kenapa nggak nikah?" tanya Lea


"Belum ada yang cocok," jawab Nathan.


"Kalau cocok sama Lea, mau nggak?"


Hening

__ADS_1


Bahkan Nathan hanya diam saja mendengar penuturan dari Lea yang sangat begitu pdnya.


Mobil milik Nathan langsung masuk kedalam pekarangan rumah mewah milik Rifal dibukan oleh salah satu satpam.


"Biar Lea aja yang gendong Farel," kata Lea kepada Nathan.


"Kamu kuat?" tanya Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


"Dokter Nathan bawa Kelapanya aja didapur, entar Lea turun buat es kelapanya," kata Lea lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


Lea langsung menaiki anak tangga menuju kamar yang dia tempati jika dia tinggal dirumah Valen dan Rifal.


***


Sementara disisi lain, sosok Rifal sedang menyuapi sosok gadis yang masih terbaring dengan selang infus ditangannya.


Dia masih mengenakan setelan jas kerjaannya.


"Aku udah kenyang," kata Adelia menolak suapan yang diberikan oleh Rifal.


"Sekali lagi, Del," bujuk Rifal dan dibalas gelengan kepala oleh Adelia, jika dia sudah tidak ingin makan lagi.


Rifal menyimpan mangkok berisi bubur diatas meja.


"Kamu udah tau kondisi aku 'kan Fal?" tanya Adelia menatap langit-langit kamarnya.


Rifal menggangguk mengiyakan ucapan Adelia.


"Lo harus bersyukur, masih diberi kesempatan untuk hidup," ucap Rifal dengan lembut kepada Adelia.


Adelia menatap Rifal sehingga mereka berdua saling bertatapan begitu lama hingga Adelia angkat bicara.


"Buat apa aku dikasi kesempatan, Fal? Kalau kenyatannya aku lumpuh?" kata Adelia dengan isakan kecil keluar dari mulut gadis itu.


"Aku lumpuh seumur hidup, Fal," sambungnya masih beserta dengan isakan.


"Del," panggil Rifal dengan lembut.


"Tetap bersyukur karna lo masih hidup, meski lo lumpuh," kata Rifal membuat Adelia menatap manik mata Rifal begitu dalam.


"Apa dengan kondisi aku kayak gini, kamu masih mau nerima aku kayak dulu?" tanya Adelia lebih tepatnya pernyataan untuk Rifal.


Hening


Bahkan Rifal terdiam dengan perkataan Adelia.


"Kamu nggak mau 'kan?" tanya Adelia lagi membuat Rifal menggelengkan kepalanya kuat.


"Gue bukanya nggak mau," bantah Rifal kepada Adelia.

__ADS_1


"Kamu malu kalau punya cewek lumpuh kaya aku?" tuntut Adelia dengan tidak sabaran tak lupa pula air matanya mengiringi perkataannya.


__ADS_2