Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Berkunjung


__ADS_3

Saat ini Nathan dan Frezan berada di dalam cafe yang jaraknya tidak jauh dari rumah sakit, tempat Nathan bekerja sebagai seorang dokter.


Lima menit duduk di meja, pelayan datang membawa pesanan mereka. Sebenarnya Nathan sudah makan, namun Frezan memaksanya untuk makan lagi untuk menemaninya.


''Makan.'' Frezan menyuruh Nathan untuk makan, seraya memasukkan makanan kedalam mulutnya.


''Iya.'' Nathan hanya pasrah saja, padahal dia sudah kenyang dahmh haru memakan makanan di hadapanya.


Sekitar empat puluh menit, akhirnya mereka sudah usai makan.


''Apa yang kau bilang kemarin bukan candaan, kan Nath?'' Tanya Frezan kembali mengingatkan adiknya itu.


Frezan mengambil tisu, lalu membersihkan bibirnya menggunakan tidu. ‘’Kalau adikmu ini bohong, mana mungkin aku membawa mu sampai kesini,'' terang Nathan membuat Frezan mengangguk.


Nathan mengecek jam di pergelangan tanganya, sudah jam tiga lewat. ''Kita kerumah Sakit, Za. Pasien nungguin kedatangan adik mu ini,'' sombong Nathan membuat Frezan memutar bola matanya jengah.


Setelah membayar makanan, mereka berdua kembali masuk kedalam mobil lau kerumah sakit.


Nathan memarkirkan mobilnya, di parkiran khusus dokter dan tenaga kesehatan. Mereka berdua turun dari mobil seraya mengobrol ringan.


''Anak Daniel ada di dalam menjaga papah-Nya,'' ucap Nathan. '' mau ku antar masuk atau tidak?'' Tawar Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.


Nathan mengetuk pintu ruangan Daniel, lalu masuk kedalam. Dia sudah melihat bibi yang menjaga Agrif semalam sedang mengajar Agrif belajar.


''Eh, pak dokter,'' sapa bibi.


Nathan tersenyum kecil kearah bibi, sementara Agrif langsung mendongakkan kepalanya melihat Nathan dan satu pria yang berdiri tegak di samping Nathan dengan raut wajah dingin.


''Apa ada tanda-tanda yang bibi lihat dari Daniel?'' Tanya Nathan. ''Seperti tanganya bergerak.''


Sementara Frezan memperhatikan Agrif yang sangat mirip dengan Daniel. Wajah mereka sama persis, itu dalam benak Frezan yang memperhatikan Agrif.


Agrif juga memperhatikan Frezan karna merasa di perhatikan oleh Frezan.


''Tidak ada, dok,'' jawab bibi dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan. Karna memang bibi tidak melihat tanda adanya pergerakan pada tubuh Daniel.


''Halo, Agrif,'' sapa Nathan dengan basah-basih kepada Agrif yang sedang belajar dengan pensil di tanganya.


‘’Iyya, om dokter,'' jawab anak itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang bingung melihat Frezan.


Nathan tertawa melihat wajah Agrif. lalu kemudian Nathan menyenggol lengan Frezan.


Frezan melirik Nathan yang tiba-tiba menyenggol lemganya.


''Jangan menatapnya dengan tatapan dingin mu,'' canda Nathan.

__ADS_1


Frezan kemudian angkat bicara. ‘’Dia membalas tatapan ku dengan tatapan dingin miliknya,'' ucap Frezan membuat Nathan kembali menatap Agrif.


''Sangat mirip bukan?''


Frezan mengangguk. ‘’Entah mengapa, Daniel menyembunyikan putranya.''


''Pasti dia punya alasan tersendiri.''


Bibi tidak tau apa yang mereka bahas, hanya saja dia bisa menangkap, jika dokter Nathan tengah membahas Agrif.


''Yah.''


‘’Silahkan duduk dulu dokter,'' tawar bibi mempersilahkan Nathan dan Frezan duduk.


‘’Terimaksih,'' ujar Nathan lalu berjalan menuju sofa, di susul dengan langkah Frezan.


''Apa saya buatkan coffe pak dokter dengan teman pak dokter ini?''


''Tidak perlu, dia bukan teman saya. Tapi dia kakak saya.''


''Maaf.''


''Tidak apa-apa.''


''Hari ini ke sekolah?'' Tanya Nathan basah basih.


''Nggak,'' jawab Agrif seraya menggelengkan kepalanya.


''Oh iya Agrif. Kenalkan ini kakak saya. Wajahnya emang serem, tapi orangnya baik.'' Nathan memperkenalkan Frezan kepada Agrif.


Frezan hanya mengabaikan ucapan Nathan. Agrif kembali melirik Frezan, sudut bibir Frezan tersenyum kecil kearah Agrif.


''Dia adalah bos papah kamu.'' Bangga Nathan membuat Agrif kembali menatap Frezan. Dia belum memberikan senyumanya kepada Frezan membuat Frezan hanya tersenyum tipis.


''Dia kesini buat jenguk papah kamu, mereka berdua berteman baik.'' Lanjut Nathan kepada Agrif. Sementara bibi yang mendengar perkataan Nathan hanya mengangguk mengerti saja.


‘’Kalau kamu perlu apa-apa, Silahkan Telfon om,'' ucap Frezan tiba-tiba mengeluarkan kartu namanya berisi nomor ponselnya.


''Ini nomor pribadi om kasi,'' lanjut Frezan menyodorkan kartu tersebut pada Agrif.


‘’Agrif cuman mau papah bangun,'' ucap Agrif setelah sekian lama hanya diam saja.


Nathan dan Frezan terdiam, selalunya anak itu megatakan hanya ingin papahnya bangun.


''Karna nggak lama lagi, Agrif bakalan terima rapor di sekolah.'' Hati Nathan terenyah. Sedari kemarin saat di kantin, Nathan mendengar ucapan itu dari Agrif.

__ADS_1


Sementara Frezan langsung terdiam, dia bisa melihat dari mata Agrif ingin sekali papahnya datang ke sekolah untuk mengambil rapor miliknya.


''Agrif mau papah ke sekolah ambilin rapor Agrif,'' ucap Agrif lagi. ‘’Tapi kalau papah belum bangun, siapa yang akan ke sekolah Agrif ambil rapor.'' Agrif menjadi curhat sendiri kepada kedua pria tampan di hadapanya.


''Tapi om dokter bilang, masih ada 6 bulan,'' ucapnya dengan lirih seraya menaikkan ke enam jari tanganya.


Nathan mengusap rambut Agrif. ''Jangan sedih, kamu perbanyak doa suapan papah kamu cepat sembuh dari waktu yang Ok dokter bilang.''


‘’Kamu mau Om yang ambilin rapor kamu?''


***


Sudah sore hari, tapi Frezan belum juga pulang membuat Rara menjeda cemberut menunggu suaminya itu di dalam kamar.


Rara menjadi uring-uringan didalam Kamar. Berita mengenai Rifal dan Valen pun belum dia ketahui.


Karna dia belum memegang ponsel dan juga menonton berita terkini. Bisa di katakan, jika hari ini Rara dan Kayla ketinggalan berita.


''Lapar,'' gumam Rara turun dari tempat tidurnya. Dia ingin mengajak Kayla makan diluar mumpung anak-anak di jaga oleh Siska, sang baby sister.


Rara keluar dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju kamar kayla.


Tok...Tok...Tok


''Ini aku, Kay!'' panggil Rara.


''Masuk aja, Ra!'' Perintah Kayla sehingga Rara langsung masuk kedalam kamar Kayla.


''Keluar makan yuk, Kay,'' ajak Rara dengan wajah lesuh karna sudah sangat lapar.


''Boleh.'' Kayla bangkit dari rebahanya. ''Tapi kalau udah makan, kita cari rujak yah,'' pinta Kayla dan dibalas anggukan kepala oleh rara.


Rara paham, karna Kayla sedang hamil. Bisa dikatakan usia kandungan Kayla dan juga Valen tidak berbeda jauh.


‘’Gue siap-siap bentar.'' Kayla turun dari tempat tidurnya untuk memakai lip cream agar bibirnya tidak pucat.


‘’Nggak pake lama yah, Kay. Aku udah lapar.''


''Iya-iya, Ra,'' balas kayla.


Rara keluar dari kamar kamar Kayla, untuk mengambil cardigan di dalam kamarnya. Karna baju yang dia kenakan saat ini baju lengan pendek. Frezan sangat melarang keras jika Rara keluar menggunakan baju pendek atau celana pendek.


Setelah mengambil cardigan, Rara keluar kamar dan sudah melihat Kayla menunggunya di depan pintu.


''Ayok!'' ajak Rara.

__ADS_1


__ADS_2