
Ketiga wanita cantik itu turun dari mobil dengan Valen membawa keranjang kecil berisikan bunga-bunga.
Mereka telah sampai ditempat pemakaman umum dimana makam Tasya dan Tegar ditempatkan.
Mereka bertiga berjalan kearah makam milik Tasya, sahabatnya sedari kecil telah meninggalkan mereka bertahun-tahun lamanya dan tidak akan kembali lagi.
"Sya." Valen langsung mengeluarkan suaranya didepan makam milik Tasya. Valen berjongkok sembari memegang batu nisan milik Tasya.
"Gue kangen, Sya." Valen memegang batu nisan milik Tasya dengan lirih tak lupa pula bulir air matanya menjatuhi pipihnya.
"Kau tau tidak....." Valen menyekah air matanya sementara kedua sahabatnya membiarkan Valen bermonolog dengan makam milik Tasya.
"Gue lagi ngandung anak pria yang dulu lo anggap akan menjadi jodoh buat gue selamanya." Valen masih bermonolog sekali-kali dia menyekah air matanya.
"Gue nggak bakalan tanyain ini semua ke Rifal, sampai takdir yang berjalan, sampai kapan gue nyembunyii."
"Kalaupun gue bakalan cerai sama Rifal, gue bakalan pertahanin anak gue. Dan gue punya hak lebih," sambungnya. Dia merasa teriris saat mengatakan hal seperti itu.
"Rifal bisa apa?" Valen berbicara seakan-akan Tasya membalas perkataannya saat ini.
"Dia nggak bakalan pernah ngerasain sakit saat mual, sakit saat melahirkan. Gue yang bakalan lahirin anak gue sepenuh jiwa dan raga. Jadi gue punya hak lebih 'Kan, Sya? Lo 'kan paling bijak diantara kita." Valen berbicara sembari tertawa kecil. Namun hatinya dan matanya tidak bisa bohong karena matanya terus-terusan mengeluarkan bulir air mata. "Andai lo masih disini, gue yakin lo bakalan setuju dengan apa yang gue katakan. Secara lo paling bijak saat beebics."
Kayla mendonggakkan kepalanya, keatas langit yang sedikit mendung, tidakdak srek saja jika gadis yang terkenal tomboi itu cengeng.
Sementara Rara menitihkan air matanya mendengar ocehan Valen dimakam milik Tasya. Rara menghapus air matanya, seharusnya dia memberikan semangat untuk Valen bukan ikut sedih.
"Va." Rara menepuk pundak Valen dengan lembut sehingga Valen berdiri. Dia melihat kedua sahabatnya menatapnya dengan senyuman seakan-akan memberikan kata semangat melalui mata dan senyumannya.
"Kita bakalan ada buat kamu. Sampai kamu melahirkan anak pertama kamu." Perkataan Rara dibalas anggukan setuju oleh Valen.
Valen langsung memeluk kedua sahabatnya, hatinya sangat sensitif sedikit-sedikit ingin menangis. Mungkin saja karna dia hamil hatinya sangat sensitif.
__ADS_1
"Gue butuh kalian. Cuman kalian yang gue punya," lirih Valen dalam pelukan sahabatnya. Valen tidak akan mengatakan kepada kedua orangtuanya, bagaimana dia disini. Jika Valen mengadukan ini semua kedua orang tuanya akan mengurus perceraian Valen dengan cepat.
Namun Valen menunggu Rifal yang akan menceraikan dirinya, bukan dirinnya atau keinginan kedua orang tuanya.
Tidak mungkin jika Valen curhat kepada kedua orang tuanya mengenai ini, apa lagi ke-dua orang tuanya belum mengetahui jika Valen sedang hamil.
Rara menaburkan bunga berwarna merah dan putih itu diatas makam milik Tasya dengan Kayla yang menyiraminya dengan air.
"Kita kemakam, kak Tegar," ajak Rara dan dibalas anggukan setuju oleh kedua sahabatnya.
Mereka telah sampai dimakam milik Tegar. Beda dengan Rara. Jika Valen tadi menangis didepan makam Tasya sedangkan Rara tersenyum didepan makam milik Tegar.
Rara memegang batu nisan milik Tegar, sembari tersenyum hangat.
"Rara udah wujutin kemauan kak Tegar. Kalau Rara kesini nggak bakalan nangis lagi. Tapi tersenyum," kata Rara saat mengingat mimpinya waktu satu tahun kepergian Tegar.
"Kak Tegar masih ada dihati Rara. Setelah kak Eza suami Rara."
Namun sedetik kemudian, Valen mengangguk kecil.
"Kak Tegar, cowok yang selalu gue kejar semasa SMA," kata Valen membuat Rara menggelengkan kepalanya karna rupanya Valen kembali mengingat masa abu-abu mereka. Dimana saat itu Valen sangat gencar mendekati Tegar agar cowok dingin itu pacaran dengannya.
"Meski bukan lo yang nikah sama gue....Tapi gue bangga ngandung anak gue, ponakan cowok yang selalu kejar semasa SMA," kata Valen dengan senyuman.
"Gue bakalan sayang anak gue sesayang mungkin. Sebagai bentuk minta maaf gue sama lo. Yang selalu hantui hari-hari lo dimasa SMA."
Air mata Valen menetes, saat mengingat semua masa SMA-Nya yang lengkap bersama dengan Tasya.
Dimana saat itu mereka merasakan Jatuh cinta, sakit hati, indahnya mencintai dan dicintai. Dan bagaimana mereka bisa dewasa melalui pelajaran itu semuanya.
Valen masih mengingat betul, dimana saat itu Tasya sahabatnya berpacaran dengan Nathan dengan tujuannya untuk mendekati Rara. Karna saat itu Nathan belum mengetahui jika Rara juga menyukainya saat Nathan melakukan mist saat itu.
__ADS_1
Dimana saat itu Rara baru menyadari, jika perasaannya dengan Nathan hanya sebatas suka saja tanpa adanya cinta saat dia bertemu dengan Frezan, dia baru merasakan jatuh cinta sesungguhnya.
Hingga saat itu, Tasya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya dengan memberikan goresan luka di hati Tasya berkat ulah Nathan, saat Nathan mengatakan jika dia mencintai Rara.
Namun semua kejadian itu hanya masa lalu, dan masa SMA yang tidak bisa mereka kembalikan lagi masa itu. Dia hanya mengambil pelajaran atas semua yang mereka lalui.
Setelah setengah jam mereka berada dimakam, mereka bertiga memutuskan untuk pulang karna tidak lama lagi akan memasuki waktu magrib.
"Kay," panggil Valen membuat Kayla melihat sahabatnya itu.
Saat ini mereka masih dimobil, meninggalkan makam milik Tasya dan juga Tegar. Sat ini yang mengemudikan mobil adalah Kayla dengan Valen disampingnya sementara Rara dibelakang sedang tertidur, entah sejak kapan.
"Kenapa?" tanya Valen dengan matanya fokus mengemudi.
"Nama lengkap anak lo siapa? Gue lupa ," kata Valen membuat Kayla tertawa kecil. Dia pikir Valen ingin bertanya serius namun dia salah. Rupanya dia bertanya nama milik anaknya.
"Anindyra dan Anindyta," kata Valen. "Nama panggilan suka-suka orang aja sih. Mau panggil Nindyra atau Nindyta. Dyra atau Dyta. Gue nggak msalah," sambungnya dengan tawa kecilnya membuat Valen menggelengkan kepalanya.
"Yang rambutnya pendek itu, siapa? Dyra atau Dyta?" tanya Valen.
"Dyta," jawab Kayla. "Kecil aja udah kelihatan kalau dia ngikutin jejak gue," bangga Kayla membuat Valen menciptakan tawa kecil.
"Ngikutin jejak mamahnya. Yang tomboi." Valen melihat jika anak Kayla bernama Anindyta itu seperti Kayla. Agak tomboi. Masih kecil tapi aura tomboi dalam anak itu sudah kelihatan. Sudah kebayang bukan jika dia tumbuh dewasa seperti apa.
"Kalau Dyra gue lihat kalem," kata Valen dan dibalas anggukan setuju oleh Valen.
"Gue nggak tau. Dia ngikutin jejak siapa. Secara Elga nggak kalem. Apa lagi...." Kayla melihat kearah belakang melihat Rara sedang tertidur membuat Valen melihat kearah belakang juga. Mereka berdua saling bertatapan.
Lalu mereka tertawa bersama. Seakan-akan sudah tau kelanjutan perkataan Kayla.
"Tantenya aja nggak kalem!"
__ADS_1
Tawa mereka berdua pecah dimobil, namun tidak menggangu Rara tertidur lelap.