
Kenapa dokter Nathan milih Lea buat jadi pelampiasan dokter Nathan?
Percakapan terakhir antara Nathan dan Lea di koridor rumah sakit, sebelum pria itu memutuskan untuk pergi lebih dulu meninggalkan Lea tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
Nathan mengacak rambutnya frustrasi, mengapa dia meninggalkan Lea di koridor tadi sehingga menyisahkan tanya kepada gadis berusia 19 tahun itu.
''Sama aja gue lakuin kesalahan, seharusnya gue tetap di sana dan kasi jawaban buat Lea,'' gumam Nathan mengacak rambutnya.
Nathan menarik nafasnya dalam-dalam. ''Gue harus ketemu Lea,'' ucapnya berdiri dari kursinya.
Nathan membuka knop pintu, di depan pintu dia sudah di suguhkan wajah sang adik.
''Farel,'' ucap Nathan. Nathan menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Farel. ''Kamu ngapain?''
Nathan mengusap pipi sang adik dengan lembut.
''Abang Nathan mau kemana?'' tanya Farel membuat Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
''Mau keluar,'' ucap Nathan dengan ragu-ragu kepada sang adik.
''Abang Nathan mau pergi, dan ninggalin Farel sendiri di sini? Udah malam bang, masa tega ninggalin Farel di sini sendiri,'' celoteh anak itu kepada Nathan.
Nathan berpikir sejenak, apa yang di kata ka adiknya memang benar. Mana tega dia ninggalin adiknya sendiri di sini, apa lagi adiknya itu masih kecil.
''Kamu siap-siap, Abang bawa kamu kerumah kak Eza,'' ucap Nathan tersenyum lebar setelah mendapatkan satu ide.
Farel memanyunkan bibirnya, ''yaudah, Farel siap-siap dulu,'' ucapnya kepada Nathan.
''Ok,'' ucap Nathan final seraya mengacak rambut Farel.
Adiknya itu menaiki lantai dua, kamar Farel berada diatas. Sedangkan kamar Nathan berada di bawa.
Mobil Nathan melaju pergi meninggalkan apartemen miliknya, terlebih dahulu dia mengantar Farel kerumah Frezan.
''Abang Nathan punya urusan apa malam-malam?'' tanya Farel seraya membuka kaca jendela mobil.
Membiarkan angin malam menerpah wajahnya yang tampan.
''Urusan hati, Rel,'' jawab Nathan.
Hening
Kedua adik dan Kakak itu terdiam didalam mobil, lalu Nathan melirik adiinya. Adiknya itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
''Rel,'' panggil Nathan. ''Kamu lagi mikirin apa? Kamu lagi mikirin karna Abang keluar, ya? Kamu tenang saja, Abang akan cepat pulang,'' terang Nathan seraya fokus menyetir mobil.
Farel menggelengkan kepalanya membuat Nathan kembali bertanya. ''Terus kamu ke—''
‘’Farel rindu sama mami Reta,'' potong Farel.
Cit...
Ucapan Farel membuat Nathan menginjak rem mendadak. ''Kamu masih mikirin mamih kamu yang udah ninggalin kamu demi kelurga barunya di luar negeri?'' hembus Nathan.
Pip….
Bunyi klakson mobil dari belakang membuat Nathan kembali menjalankan mobilnya. ''Kamu harus ingat, Rel. Mamih kamu ninggalin papih pada saat papih sakit. Dan kamu tau, yang lebih menyakitkan untuk Abang sama kak Eza mamih yang kamu sayang itu tidak datang di saat pemakaman papih,'' decak Nathan membuat Farel mengangguk.
Tiba-tiba saja rindu itu datang menghampiri dirinya. ''Mamih kamu lebih sayang sama kelurga barunya daripada kamu, Rel,'' lanjut Nathan lagi.
''Andai saja mamih kamu lebih sayang kamu, dia nggak akan ninggalin kamu keluar negeri.''
Didalam mobil kembali hening, Farel tidak membalas perkataan Nathan yang ada benarnya juga.
Mobil Nathan masuk kedalam pekarangan rumah mewah milik Frezan. Nathan dan Farel keluar dari mobil.
Nathan menggandeng tangan Farel untuk masuk kedalam rumah Frezan. Nathan tidak memberitahukan kedatanganya bersama Farel karna mendadak.
Nathan menekan bel rumah, sehingga Siska langsung membuka pintu rumah dan mempersilahkan Nathan dan Farel untuk masuk.
Lama menunggu Frezan tak kunjung datang akhirnya Nathan mengatakan kepada Farel untuk ke kamar Tegar saja.
Nanti dia akan singgah memgambil dirinya setelah urusannya selesai. Farel hanya mengangguk mengiyakan ucapan Nathan.
Nathan sudah pergi meninggalkan rumah Frezan untuk segera menuju rumah Lea. Dia tidak memberitahukan kepada gadis itu jika dia akan datang kerumahnya.
Tidak butuh waktu lama, Nathan sudah sampai di depan rumah minimalis. Dia turun dari mobilnya, untung saja masih pukul 7 malam, masih wajar saja jika dia datang.
Tok..Tok…Tok
Nathan mulai mengetuk pintu rumah Lea. Novi yang baru saja ingin mencuci puring melihat kearah pintu yang di ketuk oleh seseorang.
''Lea!'' panggil Novi agar anak gadisnya itu membuka pintu rumah.
''Bentar Mah, Lea lagi belajar!'' balas Lea dari dalam kamar.
Novi mencuci tanganya untuk membuka pintu, jika menunggu Lea akan menjadi lama.
__ADS_1
Ceklek.
Novi membuka pintu rumah, sehingga dia langsung di suguhkan tubuh tegak Nathan di depan pintu, wajahnya yang tampan nyaris sempurna membuat Novi tidak berkedip sama sekali.
Ini pria yang ketiga tampan yang datang kerumahnya, karna pria tampan yang pernah kerumahnya hanya Daniel dan juga Rifal.
Nathan tersenyum manis kepada Novi.
‘’Assalamualaikum,'' salam Nathan.
''Waalaikumsalam.''
''Maaf menggangu waktunya malam-malam, apa Lea ada?'' tanya Nathan memastikan jika Lea ada.
Dia sudah tau jika rumah ini adalah rumah Lea. Sehingga dia tidak perlu bertanya apakah benar ini rumah Lea.
‘’Maksudnya Lea anak saya?'' tanya Novi memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
“Astagah anak itu. Dimana dia memungut pria tampan dan usinya sudah matang? Anak itu benar-benar….”
''Kalau boleh tau, ada perlu apa ya, sama anak saya Lea?'' tanya Novi dengan hati-hati.
Dari pakaianya dan tutur berbicaranya membuat Novi menebak jika pria dihadapnya ini bukan kalangan biasa, apa lagi dia kesini naik mobil.
“Anak itu, dari mana dia mendapatkan pria kaya.”
Nathan terlebih dahulu menjulurkan tanganya kepada Novi. ''Perkenalkan nama saya Nathan, saya berprofesi sebagai dokter dan saya pula pembimbing Lea di rumah sakit, tempat dia praktek,'' jelas Nathan membuat Novi langsung terdiam dan memikirkan banyak hal.
Apakah anaknya tidak berbuat masalah di rumah sakit? Sehingga dokter yang membimbingnya di rumah sakit datang kesini malam-malam.
''Silahkan masuk, pak dokter,'' ucap Novi dengan sedikit canggung.
Nathan tersenyum tipis, kepada wanita dihadapnya yang umurnya sekitar 40 tahun.
''Tidak perlu memanggil saya dengan sebutan pak dokter, jika diluar dari rumah sakit,'' jelas Nathan lalu berjalan masuk kedalam rumah sederhana namun terkesan unik.
Nathan mulai duduk di kursi kayu bercat hitam.
''Saya panggilkan anak saya dulu,'' pamit Novi.
''Mah, diluar siapa? Kayaknya ada tamu,'' ujar Raka melihat mamahnya lewat depan tv ingin menuju kamar Lea.
''Ada yang mencari kakak kamu,'' jawab Novi.
__ADS_1
‘’Pacarnya kak Lea?'' Kini Riki yang bertanya tanpa mengalihkan pandanganya dari buku.
Meskipun Riki menonton, dia tetap membawa buku. Jika sudah iklan, dia akan membuka bukunya, dia sangat bertolak belakang dengan Raka, sang kakak.