
Ahk, bulu kuduk Lea meremang, bagaiamana tidak jika Nathan berbicara tepat di telinganya dan deruh nafas pria itu menyapu lehernya.
''Lea,'' panggil Nathan karna gadis itu hanya diam saja.
''Eh...Iya dok. Lea suka kok,'' jawabnya dengan sedikit gugup.
Nathan mengangguk kecil lalu kembali berhadapan dengan Lea.
''Ini mahal ya, dok,'' tukas Lea dan dibalas gelengan kepala oleh Nathan.
''Nggak mahal, cuman tiga digit,'' balas Nathan membuat Lea melotokan matanya.
Kenapa setiap pemberian pria mapan selalu saja membuat matanya mengkilap.
''Dokter Nathan, kok kasi barang ke Lea mahal-mahal sih, waktu ulang tahun Lea, dokter Nathan kasi Lea gelang berlian juga!'' tunjuk Lea pada gelang yang berada di tanganya dengan sedikit kesa.
Rasanya sangat tidak pantas untuk dirinya memakai barang mahal, karna semua orang tau jika dia bukan orang kaya.
Nathan tentu saja terkekeh, gelang berlian yang dia berikan untuk Lea saat gadis itu ulang tahun ke 20, dan Nathan memberikanya hadiah gelang.
Harganya tidak mahal, hanya dua digit saja. Sementara kalung yang dia berikan sekarang seharga 3 digit.
Harga kalung yang dia berikan ini di desain dengan spesial, sehingga harganya juga mahal.
''Kalung itu di desain dengan spesial,'' akunya pada Lea seraya menunjuk kearah kalung yang di pakai oleh Lea.
''Lea nggak pantas pakai barang semahal ini!'' rengeknya pada Nathan. ''Dokter Nathan kasi Lea makanan sebanyak-banyaknya udah cukup untuk Lea,'' lanjutnya seraya memanyunkan mulutnya kearah Nathan tanda sedikit kesal.
Pletak…
Nathan menyentil kening Lea.''Sudah lebih satu tahun aku mengenal kamu, Lea. Otak kamu masih sama, makan dan makan.''
Lea mengusap keningnya dengan wajah cemberut. ''Lea nggak pantas aja dapat barang sema—''
''Jangan bilang nggak pantas, uang aku untuk beli barang cocok untuk siapa saja. Terutama untuk kamu,'' kilah Nathan dengan cepat.
''Sebenarnya aku sangat ingin memberikanmu cincin,'' hembus Nathan. ''Tapi....semua aku urungkan, karna di jari manis mu sudah ada cincin pemberian Nando,'' decak Nathan membuat Lea langsung melihat jari manisnya.
''Masih ada kok jari manis yang kosong,'' goda Lea menujuk jari manisnya yang di sebelah kanan.
__ADS_1
''Jari manis kamu yang itu, persiapan cincin untuk lamar kamu,'' sanggah Nathan dengan cepat membuat Lea cengengesan.
''Dokter Nathan beneran mau lamar Lea? Kalau Lea udah lulus?'' tanyanya dengan suara kecil.
Rasanya seperti permainan saja, jika Nathan akan serius kepadanya. Dia dan Nathan bagaikan langit dan bumi.
Sangat jauh berbeda. Apa kata orang nanti, jika pria mapan seperti dokter Nathan mendapatkan pendamping hidup yang jauh berbeda.
Nathan menarik napasnya dalam lalu membuangnya kasar. ''Aku nggak mau gagal yang ke empat kalinya, Lea. Aku serius ke kamu. Pertanyaan ini selalu kamu lontarkan selama setahun,'' resah Nathan.
Bagaimana dia tidak resah, jika gadis di depanya ini masih meragukan keseriusannya.
''Dulu memang aku cuek sama kamu, bahkan suka sama kamu hal yang sangat mustahil buat aku.''
''Tapi perasaan ini datang sama seperti cinta masa SMA yang pernah aku rasakan,'' jelas Nathan.
''Aku nggak mau gagal yang ke sekian kalinya.'' Nathan menekan setiap perkataanya kepada Lea.
''Maaf, jika selama ini aku meremahkan perasaan mu padaku, Lea.'' Nathan memalingkan matanya karna malu bertatapan dengan Lea.
Dia ingat betul, bagaimana dia menghindari gadis di depanya, mengabaikan perasaan Lea yang begitu tulus kepadanya.
''Nggak apa-apa, yang penting hasilnya sekarang nggak zoonk,'' sela Lea.
Nathan menatap wajah Lea dengan seksama, sosok gadis yang selalu cenggengasan setiap saat. Sifatnya hampir sama persis dengan seseorang yang di sukai Nathan saat SMA.
Nathan menggenggam tangan Lea lalu menatap kedua matanya dengan dalam. ''Aku mau serius sama kamu Lea, menunggu kamu sampai lulus kuliah,'' serius Nathan menatap kedua manik mata Lea dengan seksama.
Lea mengangguk kecil.
''Iya, dok. Semogah aja dokter Nathan nggak klepek-klepek sama wanita sexy, dewasa, pandai dandan dan jauh lebih cantik dari Lea,'' canda Lea namun tersirat peringatan didalamnya untuk Nathan.
Tentu saja Nathan paham.
''Aku hanya tergoda dengan gadis ingusan seperti kamu,'' protes Nathan seraya mengacak rambut Lea dengan gemas.
''Sisa dua tahun lagi, Lea bakalan lulus,'' gumam Lea.
''Yah, Semogah saja kamu tidak mengulang mata kuliah yang membuat aku akan menunggu. Kamu harus ingat Lea, umur aku sudah tidak muda lagi harus menunggu terlalu lama,'' peringat Nathan kepada Lea.
__ADS_1
''Kamu harus serius kuliah, nanti kalau kamu udah selesai kuliah. Tidak perlu kerja, uang ku sudah cukup untuk menafkahi dirimu,'' lanjut Nathn.
''Percuma dong Lea lulus kuliah, kalau ujung-ujungnya nggak kerja!'' ujarnya dengan cemberut.
Nathan nampak berpikir. ''Bisa saja kita menikah dulu,kan, kamu bisa lanjut kuliah kalau kita udah nikah,'' godah Nathan membuat mata Lea melebar.
''Aku juga udah mau punya anak, di usia ku yang sudah mapan ini memang sudah pantas mengendong seorang anak,'' lanjut Nathan dengan serius.
Karna apa yang dia katakan barusan memang hal yang wajib, jika dia sudah menikah dia harus mempunyai anak.
Teman-teman masa SMA nya sudah mempunyai anak, bahkan sudah ada yang mempunyai anak lebih dari satu.
Adik kelasnya seperti Kayla dan Rara juga sudah punya anak, sementara dirinya satu tingkat diatas Kayla dan Rara masih belum juga menikah.
Lea meneguk salivanya mendengar apa yang di ucapkan oleh Nathan dengan serius.
''Lea,'' panggil Nathan mendekatkan wajahnya dengan Lea membuat gadis itu menjadi gugup.
Angin diatas roftop menerbangkan anak rambut Lea menbuatnya semakin cantik di pandang.
''I-iya,'' jawabnya dengan gugup.
Bgaiamana tidak, jika posisinya dengan Nathan sangat dekat.
''Kamu paham,kan, apa yang saya katakan barusan,'' bisiknya kepada Lea membuat gadis itu mendongakkan kepalanya sehingga jaraknya dengan Nathan sangatlah dekat.
Sekali lagi ku pertegas, sangat dekat. Bahkan hembusan nafas dokter Nathan dapat di rasakan oleh Lea karna jaraknya begitu dekat.
Lea mengerjapkan matanya, berpandangan dengan Nathan dengan jarak yang sangat dekat tidak baik untuk jantungnya yang selalu berdetak.
Bahkan, gadis itu memuji ketampanan Nathan yang semakin tampan dilihat dalam jarak yang sangat dekat.
''Lea...'' Panggil Nathan karna gadis itu hanya menatap dirinya tanpa menjawab pertanyaan darinya.
''Dokter Nathan bisa nggak. Nggak dekat-dekat kayak gini,kasihan jantung Lea seperti habis lari maraton.'' Lea memalingkan wajahnya ke samping saking malunya.
Nathan menyungkirkan senyum tipis, dia melihat pipih gadis itu memerah. Wajar saja bagi Lea, karna gadis itu masih berusia 20 tahun.
Yang tidak wajar itu jika Nathan yang pipihnya memerah.
__ADS_1